Para pemuda berkumpul di Pantai Pede dalam acara Malam Cahaya 1000 Lilin, Minggu (8/11/2015). (Foto: Erick G)

Berbeda dengan sistem klasifikasi kelas Marx, penataan masyarakat oleh Bourdieu bergantung pada kepemilikan kapital ekonomi dan budaya. Baginya, masyarakat dalam dimensi vertikal terdiri dari tiga kelas.

Kelas pertama, disebutnya kelas dominan yang ditandai dengan besarnya kepemilikan modal. Mereka menunjukkan perbedaannya untuk mengafirmasi identitas khasnya dan memaksakan kepada semua dengan melegitimasi satu visi tentang dunia sosial.

Kedua, kelas borjuis kecil, karena memiliki kesamaan sifat dengan kaum borjuis yang mana mereka mampu menaiki tangga sosial dan mereka masuk ke dalam posisi kelas menengah dalam lingkup sosial. Dan, ketiga adalah kelas populer ditandai dengan tiadanya kepemilikan modal.

Menarik untuk mengkaji polemik Pantai Pede dari perspektif komunikasi politik, khususnya dengan berangkat dari konsep pemikiran Bourdieu.

Pantai Pede menjadi sebuah arena yang mempertemukan kelompok atau kelas dominan yang kuat dari sisi kapital ekonomi, yakni PT Sarana Investama Manggabar (PT SIM) dengan kelas borjuis kecil yang lemah dalam kapital ekonomi namun kuat dari sisi kapital budaya, antara lain kelompok seniman, aktivis, biarawan/biarawati.

Kelompok borjuis kecil ini menjadikan Pantai Pede sebagai ruang konfrontasi sekaligus pembebasan atas dominasi kelas dominan.

Bourdieu melihat bahwa dalam arena perjuangan, hubungan antaraktor akan selalu diwarnai oleh dominasi, namun Habermas, melalui konsep ruang publik (public sphere) ingin melihat dari perspektif yang sedikit berbeda bahwa Pantai Pede adalah ruang publik yang didalamnya setiap orang dengan bebas mengemukakan pendapat tanpa harus takut atas dominasi atau sensor dari otoritas tertentu.

Pantai Pede sebagai Ruang Publik

Dalam esainya yang berjudul The Structural Transformation od The Public Sphre, Habermas memperkenalkan konsep ruang publik sebagai refleksi dari obrolan di warung kopi, salon dan tempat keramaian lainnya.