Ilustrasi (internet)

Borong, Floresa.co – Rencana studi banding 30 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Timur-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret dan April di Kabupaten Bantaeng, Sulsawesi Selatan; Sleman dan Solo, menuai protes dan kritikan dari masyarakat.

Penghuni pasar Inpres Borong, Andreas Kornase mengatakan alangkah baiknya dana untuk perjalanan 30 anggota DPRD itu dialihkan untuk pembiayaan perbaikan 71 kilometer ruas jalan di Kecamatan Elar Selatan yang sampai hari ini minim diperhatikan oleh Pemerintah Manggarai Timur (Matim).

“Sangat aneh pemikiran anggota DPRD Matim yang lebih memilih untuk jalan-jalan berkedok studi banding, dibanding harus memikir jalan di 9 kecamatan di wilayah Matim,”ujar Kornase kepada Floresa.co, Senin 14 April 2016.

BACA Juga: 30 Anggota DPRD Matim akan Studi Banding ke Tiga Daerah

Kornase mengatakan ada ribuan masyarakat Manggarai Timur yang membutukan akses transportasi yang memadai. Karena itu, ia menyarankan uang studi banding itu digunakan untuk perbaikan jalan.

Andreas Kornase meyakini studi banding yang dilakukan tiga Komisi DPRD itu, nantinya tidak akan membuahkan hasil seperti yang dijanjikan oleh beberapa anggota dewan. “Mereka mengatakan bahwa nanti ada hasilnya untuk masyarakat itu hanya angan-angan saja,”ujarnya.

Kornase mengatakan studi banding ke Bantaeng-Sulsel untuk mengetahui pengelolahan potensi pertanian cukup dilakukan dengan berkunjung ke kabupaten tetangga, Ngada, yang sudah maju pertaniannya.”Kabupaten Ngada sukses dengan usaha pertanian kopinya. Lebih hemat biaya,”ujarnya.