Ilustrasi

Terpilihnya Mabar sebagai salah satu dari 10 tujuan destinasi pariwisata unggulan tahun 2016, air kembali menjadi objek seksi untuk dijual. Dalam kunjungannya beberapa bulan lalu, Menko Maritim Rizal Ramli mengatakan, pemerintah pusat siap mengelontorkan dana demi urusan air di Mabar. Dengan adanya persoalan terdahulu, meski rencananya baik, tentu kita tetap pesimis.

Sementara itu, persoalan tanah ibarat bom waktu. Tinggal menunggu waktu saja terjadi perang dan sengketa, ketika sertifikat ganda jumlahnya mencapai puluhan. Dan pemerintah enggan menyelesaikannya.

Di tengah persoalan demikian, tentu kita butuh pemimpin yang berkarakter. Mampu mengurai persoalan-persoalan tersebut secara serius. Berani mengambil langkah-langkah terobosan terhadap berbagai persoalan.

Jika tidak, langkah ke depannya semakin suram. Geliat kota Labuan Bajo sebagai kota pariwisata sulit dipercaya membawa kebaikan bagi semua masyarakat.  Sebaliknya, hanya menjadi sapi perahan bagi kaum investor dan elit politik lokal.

Lantas apakah Gusti-Maria mampu adalah pemimpin yang dimaksud? Apakah keduanya mampu menyelesaikan masalah atau malahan bagian dari masalah?

Di awal langkahnya, Gusti Dula sudah dijegal kasus. Antara lain, dalam kasus Lando Noa namanya disebut-sebut. Dan sebagai bagian dari pemimpin dari calon petahan, Dula adalah bagian dari kerumitan persoalan Mabar sekarang ini.

Dengan demikian, yang terpenting sejauh ini, jika ke Labuan Bajo, berhati-hatilah. Seperti lampu lalulintas yang tak berfungsi, demikianlah juga Labuan Bajo. Ada aturan, namun tidak ditegakkan. (Redaksi)