Gudang penyimpan kopi di Tangkul, Desa Rende Nao, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur. (Foto: Satria/Floresa)

Dia mengharapkan pihak kontraktor segera membayar upaya yang menjadi hak mereka sebab uang tersebut masih ditunggu pihak pekerja untuk membeli kebutuhan rumah tangga. “Bagi kontraktor uang tersebut mungkin sedikit tetapi bagi kami uang tersebut sangat besar,”ujarnya.

Dirinya mengaku sudah berulang kali menghubungi kontraktor. Bahkan mendatangi rumahnya, namun jawaban belum ada pencairan dana dan meminta bersabar.

Dia mengaku hingga saat ini dirinya bersama para pekerja lain terus menunggu uang tersebut dan kalau belum mereka berencana mengancam akan melaporkan ke DPRD dan Dinas Tenaga Kerja. “Kami siap melapor ke Dinas kalau kontraktor tidak mau membayar”katanya.

Dia juga memintah kepada pemerintah Manggarai Timur khususnya dinas yang terkait dengan pembangunan gudang kopi tersebut untuk memanggil kontraktror.

Tak hanya upah pekerja yang tak dibayar, uang kayu untuk pembangunan gedung tersebut juga ternyata belum dibayar.

Lodovikus Vadirman salah satu warga yang menjual kayu untuk pembangunan gudang tersebut mengatakan pihak kontraktor  belum membayar uang kayu balok senilai Rp 9 juta kepada dirinya. Kayu balok, papan, bahkan seluruh kayu untuk bangun gedung tersebut adalah kayu miliknya namun pihak kontraktor belum membayar.