Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng, Pr menemui calon bupati dan wakil bupati terpilih Kabupaten Managgarai, Deno Kamelus-Victor Madur, Kamis 28 Januari 2016 (Foto: Ino Jemadu/ Facebook Radio Manggarai)

Tahun 2011 saja, pendapatan perusahaan ini sudah mencapai lebih dari Rp 3 miliar per bulan atau Rp 36 miliar per tahun. Dengan rincian, tiap hari perusahaan ini memperdagangkan 50.860 liter air dalam bentuk air gelas (920 ml), air botol (600 ml dan 1.500 ml), air galon serta sirup juice. Di pasaran, rata-rata harga per liter air sebesar Rp 2.000. Jadi penghasilan bruto dalam sehari sekitar Rp 101.720.000. Sementara pengeluaran gaji karyawan tidak seberapa. Dari 50 orang karyawan perusahaan ini, gaji yang dipatok adalah Rp 400.000 (Dale, 2013).

Masalah ini bertambah urgen mengingat beberapa bulan belakangan krisis air mencuat di Ruteng. Keluhan terhadap kurangnya debit air sudah merebak dimana-mana. Lebih parahnya lagi, bukannya berkurang, perusahaan air di Ruteng malah bertambah banyak. Di antaranya, air minum kemasan Wae Ces. Terkait persoalan air, seberapa pedulikan Deno-Madur? Jika tak peduli, mengapa?

Di atas semua itu, bertolak dari banyaknya persoalan yang masih melilit kabupaten Manggarai, tak heran jika kabupaten Manggarai masih dikategorikan sebagai salah satu kabupaten tertinggal dari 183 kabupaten yang dirilis awal tahun ini oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Enam kriteria dasar dari penilaian itu antara lain, soal perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana infrastruktur, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas pelayanan, dan karateristik daerah.

Lalu, seberapa sanggupkah Deno-Madur menghadapi kompleksitas persoalan tersebut? Deno sudah sepuluh tahun menjadi pimpinan birokrasi di Manggarai. Di satu pihak, ia dinilai berpengalaman dan tentunya mampu menuntaskan persoalan tersebut. Namun di pihak lain, kenyataan tersebut merupakan cermin buruk rupa. Setelah sepuluh tahun, Manggarai masih tergolong sebagai salah satu kabupaten terbelakang merupakan kenyataan ironis. Lantas, masih pantaskah berharap perubahan datang dari kepemimpinan Deno-Madur? (Gregorius Afioma/PTD/Floresa).