Para uskup yang menghadiri pernikahan pasangan dari keluarga penguasa di Jakarta pada Sabtu (6/12/2016). (Foto: Forkoma PMKRI)

Keberpihakan Gereja Katolik Indonesia  pada kaum miskin menjadi tanggung jawab orang-orang katolik Indonesia juga. Termasuk orang-orang kaya katolik. Bentuk keberpihakan bersama atau kolektif menjadi alternatif yang mampu menciptakan sebuah solidaritas kristiani yang berlandaskan pada keberpihakan Yesus pada hidup dan situasi hidup umat-Nya.

Pihak Gereja, mulai dari Hirarki Gereja, Uskup, para Iman , biarawan-biarawati yang berkarya di Indonesis, umat katolik, kaya dan miskin, meski menjadikan option for the poor, keberpihakan pada orang-orang miskin dan situasi riil kehidupan mereka, sebagai sebuah solidaritas dan kepedulian kristiani bersama.  Juga orang-orang miskin meski mampu membantu diri sendiri untuk keluar dari situasi yang mematikan.

Mengacu pada landasan berpikir seperti ini, keberpihakan Gereja pada orang-orang miskin, meski menjadi sebuah undangan untuk semua orang kristen Indonesia untuk memerangi kemiskinan di Indonesia. Selain sebuah sebuah aksi-nyata-profetis Gereja, juga menjadi spirit bagi semau orang kristen untuk selalu memiliki sikap solidaritas kristiani yang nyata. Dengan pemikiran seperti ini, solidaritas kristiani juga bagi orang-orang kristen  Indonesia yang kaya.

Dengan alasan sedalerhana yang juga mungkin dapat diterima ini, keberpihakan Gereja baik Hirarki maupun Umat Kristiani terhadap orang-orang miskin, tidak hanya bernilai fisik-materi tetapi juga keberpihakan iman-spiritual.

Menempatkan orang-orang miskin sebagai fokus keberpihakan merupakan sesuatu yang selalu dihidupkan dalam perjalanan Gereja. Namun, keberpihakan Gereja pada kaum miskin dan papah tidak berarti memarginalisakan orang-orang kaya.

Ketika hal ini terjadi, berarti Gereja melupakan Visi-Misi Gereja untuk semua. Keberpihakan Gereja pada orang-orang kaya dan memiliki posisi dan jabatan membawa nilai spiritualitas untuk menyadarkan mereka agar bisa bersikap solider dengan orang-orang miskin. Artinya, Gereja orang-orang miskin meski bukan menjadi halangan bagi orang-orang kaya untuk berpartisipasi melawan berbagai bentuk sistem yang menciptakan kemiskinan struktural yang kejam.