Para uskup yang menghadiri pernikahan pasangan dari keluarga penguasa di Jakarta pada Sabtu (6/12/2016). (Foto: Forkoma PMKRI)

Oleh: PASTOR GABRIEL ADUR SVD

Heboh. Mungkin kata yang tepat tentang kehadiran 12 Uskup pada misa syukur pernikahan  pasangan Melisa Kristi Kristian dengan Narsis Nararya Ciputra (06 Februar 2016). Alasannya: Kehadiran para Uskup dianggap menciptakan sensasi. Dilihat sebagai sesuatu yang sangat berlebihan. Bahkan lebih jauh kebanyakan melihatnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan misi gereja:Keberpihakan pada orang-orang miskin. Tidak berpadanan dengan wajah gereja kaum miskin.

Pro-Kontra pun  menyebar begitu cepat di berbagai Media. Bahkan di akun-akun Facebook teman-teman Pastor  berita ini diperdebatkan. Secara umum kebanyakan mengecam kehadiran para Gembala umat dari 12 Keuskupan. Ada juga yang sangat  santai dan cukup bijak meladeni berita aktual ini.

BACA: Kehadiran 12 Uskup dalam Pernikahan Keluarga Pengusaha di Jakarta Dikritik

Tulisan ini tidak bermaksud mengecam atau juga membela kehadiran para uskup. Penulis mengajak para pembaca untuk melihat sisi lain kehadiran mereka.  Bagi penulis ada dua hal mendasar yang menjadi acuan: 1). Gereja Kristus, bukan hanya gereja kaum miskin. Gereja untuk Semua.  Gereja orang miskin dan kaya. Dengannya,  keberpihakan kita pada kaum miskin, tidak berarti menelantarkan orang-orang kaya. 2). Kehadiran ke-12 Uskup tidak bisa kita tautkan dengan istiliah kapitalisme Gereja. Tidak bisa hanya dipandang dari sudut nominal-uang.

Gereja: Communio Umat Kristiani

Yesus mengumandangkan “berbahagialah orang-orang miskin“, tetapi Yesus tidak mengatakan  bahwa “ berbahagialah kemiskinan“. (Gutierez, Theologis Pembebasan).