Ilustrasi (octadelvianita.files.wordpress.com)

Karya: NANA LALONG

Ketika senja merapat, satu dua kendaraan bermotor memasuki pantai. Gebyar musik terdengar dari pub-pub. Orang-orang itu memarkir kendaraan. Ada yang lekas melipir masuk melalui pintu yang diberi hias lampu warna-warni.

Di ruang remang-remang itu, mereka tak sabar menunggu hiburan diselingi derai tawa, asap rokok, denting gelas, dan joget ria gadis-gadis cantik yang gantian berkaroke. Diam-diam ada paket ‘wisata malam’ di tepian kampung ini. Kampung pesisir.

Gadis-gadis pub mulai berdandan. Mereka beradu gegas seperti nelayan yang siap melaut. Sebentar lagi mereka menemani tamu-tamu menenggak alkohol. Menyanyikan lagu-lagu nostalgia diiring organ tunggal. Mendendangkan lagu-lagu girang berirama dangdut hingga jelang subuh.

Jika engkau datang lebih awal ke pantai ini, pesona senja akan membuatmu kagum. Ada yang sayang untuk dilewatkan pada pantai seindah ini.

Berbaur dengan pengunjung, gadis-gadis pub menyaksikan berlalunya senja di atas batu yang bertebaran di pantai. Batu-batu yang menginspirasi pemberian nama untuk pantai ini, Cepi Watu.

Gadis-gadis itu menikmati udara segar sepanjang bibir pantai. Betis-betis yang licin dan mengkal berkilau di atas pasir basah. Dengan CU (celana umpan) seolah mereka membiarkan kemolekan betis dan paha jenjangnya disepuh cahaya senja yang merah keemas-emasan. Angin senja yang berdesis lembut seperti ikut memanjakan betis-betis itu. Hm…

Akan ada lelaki yang suit-suitan menggoda. Namanya saja suit-suitan, tak perlu digubris. Seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu. Gadis-gadis itu tak pernah mempan oleh suit-suitan. Memangnya burung apa?