Panitia, pemateri dalam acara temu akrab keluarga Manggarai di Surabaya berfoto bersama Walikota Tris Rismaharini

“Seorang diaspora harus selalu bertanya apakah semangat ke-Manggarai-an itu masih mendapat tempat dalam hidup saya di tengah kemajuan zaman ini?” kata Candra.

Yohanes Djakar, seorang advokat dan pengacara, menyoroti masalah klasik yang menghantui orang Manggarai, yakni tentang tanah yang akhir-akhir ini menjadi komoditas yang laris diperjualbelikan. Ini akan memicu masalah baru di Manggarai.

Tody Wajong berbicara seputar filosofi dasar hidup Manggarai yang mesti menjadi roh penggerak kehidupan orang Manggarai.

Semenatara itu, Alo R. Entah, guru besar dari Universitas Merdeka, Malang memaparkan kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi dalam menerjemahkan adat Manggarai di tengah konteks hidup kita sekarang.

Contoh konkret yang diangkat misalnya kata ‘terima kasih’ kerap diterjemahkan dengan ‘tiba teing. Padahal, kata dia, dalam kosakata Manggarai ungkapan ini diterjemahkan dengan ‘wali dia’. Kesalahan-kesalahan itu bisa menciptakan jarak antara orang Manggarai dengan adat-budayanya.

Di tempat terpisah, Ketua Panitia, Silvester Suhendra mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan para orang tua, donatur dan para mahasiswa Manggarai Surabaya.

“Berkat kerja sama, dukungan mereka semua acara ini berlangsung dengan sukses,” katanya. (Ari D/ARL/Floresa)