Panitia, pemateri dalam acara temu akrab keluarga Manggarai di Surabaya berfoto bersama Walikota Tris Rismaharini

Setelah dibuka dengan ibadat singkat, acara berlangjut ke sesi penyambutan para pemateri, moderator dan Bu Risma di pintu masuk gedung pertemuan.

Bergabungnya Risma dalam kegiatan keluarga Manggarai Surabaya menjadi salah satu bukti keterbukaan pemerintah Surabaya dalam melindungi dan menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Manggarai di Surabaya.

Sebagai wujud dukungan, penerimaan dan kecintaan masyarakat Manggarai Surabaya terhadap Risma, secara simbolis ketua IKEMAS, Kris Kleden, memberikan songke Manggarai dan selendang.

Dibantu reba dan molas Manggarai, Risma dengan bangga dan sumringrah mengenakan songke dan selendang.

Dalam sambutannya pada pembukaan acara, Risma memberikan apresiasi untuk pelaksanaan kegiatan budaya ini. Hal ini dilandasi oleh sebuah kenyataan bahwa warga Surabaya adalah kumpulan dari aneka etnis yang berbeda dari seluruh Nusantara.

Kegiatan seperti ini, kata dia, diharapkan memberi dampak positif bagi pembangunan kota Surabaya.

Pada sesi diskusi, keempat pemateri menyajikan pandangan yang berbeda dalam memahami gagasan Kuni Agu Kalo.

Hermanto Candra mencuatkan gagasan tentang makna etimologis Kuni Agu Kalo dalam budaya Manggarai, baik dari sumber lisan pun sumber tulisan. Bagi diaspora, berbicara tentang kuni agu kalo berarti berbicara tentang Nuca Lale/Manggarai. Dengan demikian tidak hanya berbicara tentang wilayah dengan batas-batas tertentu (selat Sape salen, wae Mokel awon).

Kuni Agu Kalo, sejatinya, kata dia, menyangkut manusia Manggarai dengan adat-budaya yang ada di dalamnya.