Alfan Manah (kanan) saat mengunjungi Gua Liang Bua pada 2012. (Foto: dok pribadi)

Oleh: ALFAN MANAH

Pada 7 Februari lalu, Floresa.co mempublikasi berita berjudul “Warga Curigai Penelitian Bertahun-tahun di Liang Bua.” Dalam berita itu, dijelaskan bahwa warga bernama Fidelis Randut menduga para peneliti hanya mengambil kekayaan alam di Liang Bua untuk keuntungan pribadi mereka, lantaran para peneliti tertutup dengan masyarakat sekitar. Ia juga mengatakan, penelitian yang dilakukan puluhan tahun itu tak ada hasilnya.

Usai menyimak berita tersebut, saya merasa tergerak untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran berdasarkan cacatan selama melakukan kegiatan peliputan di Situs Liang Bua pada tahun 2012.

Sebelum lebih jauh saya menanggapi pendapat Fidelis Randut yang termuat pada berita tersebut, mari kita simak gambaran sepintas tentang Situs Liang Bua.

Liang Bua adalah sebuah gua kuno yang menjadi tempat tinggal manusia purba yang hidup pada 94.000 tahun silam. Gua itu merupakan cekungan berukuran besar, dengan mulut selebar lebih dari 15 meter dan kedalaman sekitar 7 meter. Langit-langit berupa batu dengan ujung menggelantung.

Situs Liang Bua terletak di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Gua ini terlihat bersih dan bekas-bekas galian fosil masih terlihat.