Floresa.co – Perihal kehadiran 12 uskup dalam Misa pernikahan keluarga pengusaha di Jakarta pada Sabtu akhir pekan lalu kian ramai dibahas.

Salah satu uskup yang menghadiri Misa pernikahan tersebut menyebut kehadiran mereka tidak semata-mata karena yang menikah adalah keluarga pengusaha kaya.

“Tetapi keluarga itu memperhatikan keuskupan luar Jawa yang nota bene miskin,” kata Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Hardjosusanto MSF, sebagaimana dilansir Indonesia.ucanews.com.

BACA: Kehadiran 12 Uskup dalam Pernikahan Keluarga Pengusaha di Jakarta Dikritik

Ia menjelaskan, kalau diperhatikan, uskup yang datang adalah semua dari luar Jawa. “Mungkin ada beberapa uskup yang memiliki kedekatan karena seasal dengan keluarga Ibu  Liando,” katanya.

Misa pernikahan yang berlangsung di Katedral Jakarta itu adalah antara Melisa Kristi Kristianto, cucu dari pengusaha properti Ciputra dan Narsis Nararya, anak dari pengurus Yayasan John Paul II, Lucy Liando.

Uskup Harjosusanto, yang merupakan mantan Uskup Tanjung Selor menjelaskan, dirinya mengenal Ibu Liando karena merupakan salah satu donatur Keuskupan Tanjung  Selor.

“Tentu karena beberapa kali datang ke sana, jadi ada relasi juga. Dengan keluarga Ciputra saya tidak kenal,” katanya.

Ia menjelaskan, sejumlah komentar pedas terkait kehadiran mereka adalah hal yang wajar.

“Memang wajar kalau ada suara sumbang, berhubung peristiwa itu tidak lazim.”

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Hermawi Taslim, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI) menyebut, kehadiran para uskup itu “berlebihan dan terkesan menghilangkan sikap kritis Gereja Katolik yang terkenal dengan semboyan option for the poor atau berpihak pada orang miskin.”

Ia mengatakan, sesuai ketentuan hukum kanonik, keabsahan dan kesakralan perkawinan dalam tata cara Katolik memang harus dilakukan oleh pejabat Gereja, dalam hal ini uskup atau pastor.

“Tapi masih menurut hukum kanonik, pejabat Gereja tersebut cukup satu, tidak perlu berbondong-bondong hingga belasan, sehingga terkesan diistimewakan,” ungkapnya dalam pernyataan tertulis, Senin (8/2/2016).

Sementara itu, Benny Sabdo, penulis buku “Kiprah Tokoh Katolik Indonesia” menyebut, memboyong 12 uskup dengan biaya yang mahal ke Jakarta memberikan signal yang keliru kepada umat Katolik dan masyarakat Indonesia.

“Bukan karena keluarga mempelai tidak boleh kita beri simpati. Barangkali keluarga mempelai banyak berbuat baik dan pantas diakui tapi hal yang sama tidak terjadi pada umat biasa. Padahal, kita jangan memberikan perlakuan khusus kepada mereka yang diberkati karena kekayaan,” paparnya.

BACA JUGA: Kontroversi 12 Uskup

Menurut Benny, kritik ini harus dimaknai dalam perspektif yang positif demi kewibawaan hiraki Gereja Katolik. Ia juga mendesak agar praktek misa jor-joran uskup dalam pernikahan atau pemberkatan rumah ditertibkan demi kesucian sakramen. (Ari D/ARL/Floresa)