Ilustrasi

Itulah janji yang pemimpin sekte atau lebih tepatnya bapak pembaharuan kami kumandangkan. Kami hanya perlu melakukan pembunuhan ini. Pembunuhan yang suci. Tapi, kami tak membunuh sembarang orang.

Kami akan mengenyahkan sebuah jiwa dari raganya pagi ini. Jiwa milik raga seorang penjahat.

06.45 am

Sebuah mobil hitam Toyota Jazz memasuki area parkir kedai kopi Starbucks. Kedai kopi mewah ini sudah dibuka beberapa menit yang lalu.

Dari balik kedai kopi, aku melihat si penjahat yang juga petinggi di pemerintahan itu keluar dari mobil yang perkiraanku adalah hasil korupsinya selama ini. Di pojok kedai kopi sebelah timur, Arif juga  turut memandang keluar.

Matanya yang tajam penuh memburu menatap wajah si penjahat.

Kami harus mengenyahkannya pagi ini sebelum raga kami juga habis. Penjahat besar bernama Joko yang adalah seorang penting di republik ini adalah otak di balik praktik hitam yang meronai di bumi Indonesia. Dia sepadan dengan Musolini atau bahkan Hitler. Perusahaan tambang miliknya yang beroperasi di Indonesia timur telah merusak lingkungan dan kehidupan begitu banyak manusia. Sebagian alam termasuk beberapa pantai indah bahkan telah menjadi milik pribadi pak Joko. Ia telah merenggut sebagian hidup manusia yang utuh. Penjahat ini juga adalah aktor di balik kerusuhan agama di republik yang konon sangat menjunjung tinggi persatuan ini, kala merebutnya dari tangan penjajah. Dia adalah koruptor ulung berwajah teduh dengan rakyat yang ditipunya. Namun, bak setitik nila yang mampu merusak sebelanga berisi susu, hukum dan politik di negeri ini memang tak berdaya di depan kuasa uang.

Waktu kami hampir tiba.