Tulisan di depan ruang Unit Gawat Darurat Puskesmas Labuan Bajo, Manggarai Barat - Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Elisabeth Frida, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ben Mboi Ruteng mengungkapkan kekecewaannya pada pelayanan petugas medis di Puskesmas Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar) – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada Minggu (3/1/2016) malam, Elisabeth mengamuk karena anaknya yang bernama Tresi tidak mendapat pelayanan dari dokter di Puskesmas itu, setelah menunggu selama kurang lebih empat jam.

Malam itu Tresi – yang merupakan mahasiswi kedokteran sebuah universitas di Surabaya – hanya diinfus, tanpa didiagnosa oleh dokter yang mendapat tugas jaga, yaitu Dokter Yoan.

Meski malam itu bertugas, Yoan tak berada di tempat.

Ia beberapa kali ditelepon oleh perawat, namun tak merespon. Ia ditengarai sedang tidur.

Karena tak mendapat respon saat ditelepon, perawat pun mendatangi rumah Dokter Yoan yang kebetulan tak jauh dari Puskesmas.

Lama menunggu, keluarga Tresi pun mencoba  ke klinik St Yosefa. Tetapi Tresi tetap berada di Puskesmas.

Namun, malangnya, sampai di klinik tersebut, mereka hanya menjumpai papan pengumuman yang menginformasikan bahwa sejak 20 Desember 2015 tak ada lagi pelayanan dokter di klinik tersebut.

Keluarga pun kembali ke Puskemas Labuan Bajo.

Sekitar pukul 00.20 Wita, orang tua pasien mulai kehilangan kesabaran.

Pasalnya, Dokter Yoan belum juga nongol di Puskesmas.