Ratapan Untuk Manggaraiku

0
1980
Ilustrasi. (Foto: Ist)

Oleh: RICKY RICHARD SEHAJUN

Manggaraiku, kata-katamu “muku ca pu’u neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng lako” (pisang serumpun tidak terpisah, tebu serumpun tidak berjalan sendiri) telah mati mengerikan di pikiran kaum penghayat demokrasi.

Ia mati karena pesta demokrasi, Pilkada. Kini, hidup manusia baru yang lancang dan luncah menyerukan “behas neho kena” (terlepas seperti pagar).

Manggaraiku, jika aku menyebut namamu, aku menjadi sangat gelisah akan masa depanmu. Mengingat anak-anakmu bermandikan ketidakjujuran. Itulah trend dan trik menjejal bualan pada wajah demokrasi. Di sana-sini berbuat ulah. Ulah itu diolah dan dialihkan.

Manggaraiku, saat Pilkada, rakyatmu kehujanan uang. Hujan itu bukan dari langit, apalagi dari Tuhan. Tapi dari saku-saku anak-anakmu yang nuraninya tumpul hingga menyembah uang haram.

Dulu, bangsa Israel pernah menyembah dan berhala pada patung buatan mereka. Sekarang, pada pesta demokrasi, anak-anakmu di bumi Congkasae, menyembah uang.

Jika dulu, engkau murka terhadap orang Israel, apakah sekarang engkau murka terhadap Manggaraiku? Sebab mereka telah mengubah sembahan mereka, yang bukan pada-Mu lagi, tetapi pada uang.

Advertisement
1
2
3
4
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini