Marselina Kurniawati (15 tahun), bersama ibunya di RSUD Ruteng saat dirawat di RSUD Ben Mboi, Ruteng.

Karena tidak ada kejelasan terkait bantuan, pihak keluarga memutuskan Wati kembali lagi ke kampung halamannya pada 15 Agustus.

Di tengah deraan tumor yang kian ganas, duka pun muncul. Ayah Wati, Damianus Jemarut meninggal dunia pada 20 Agustus.

Seminggu berlalu sejak kepergian sang ayah, kondisi Wati pun makin drop. Setelah melewati beberapa kali situasi kritis, tepat pukul 22.00 Wita pada 31 Agustus, gadis manis itu pun dijemput sang maut. Wati telah tiada. Dia telah pergi untuk selamanya.

Pemda Matim tak mau disalahkan terkait tak kunjung cairnya dana bantuan yang diminta keluarga Wati.

Sekda, Mateus Ola Beda kepada Floresa.co, Rabu, 2 September mengatakan, proposal yang diajukan keluarga Wati itu masih diproses.

Mateus mengatakan, mekanisme pemberian bantuan sosial memang tidak mudah.

“Walaupun ini sifatnya tak terduga, tapi mekanismenya tetap melalui persetujuan, dibuat dengan keputusan bupati, kadang-kadang kumpul beberapa orang dulu baru buat,” ujarnya.

Menurut Mateus, dana bantuan sosial ini juga jumlahnya tidak banyak. Setiap keluarga atau korban, hanya diberi maksimal Rp 10 juta.

Kisah Wati memang pantas diratapi. Tetapi tidak cukup sampai di situ. Di tahun 2016, nanti kisah serupa bisa saja kembali terjadi, bila pemerintah daerah tidak berbenah  dalam urusan pelayanan publik.