Oleh: ROMO LIAN ANGKUR PR

Saya awali renungan kita dengan pertanyaan ini: “Seberapa penting Hari Natal – Perayaan kelahiran Juru Selamat, bagi hidup kita? Kita pasti punya jawaban masing-masing. Terlepas dari jawaban yang diberikan, saat ini kita diajak untuk secara bersama memaknai Natal dalam terang bacaan suci hari ini.

Pada hakikatnya, Natal adalah peristiwa Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, PuteraNya untuk menyelamatkan dunia. Yesus lahir dan datang sebagai Terang Sejati untuk menghalau kegelapan di muka bumi ini. Dalam injil Yohanes, tertulis, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah Terang/Cahaya bagi manusia. Dan Terang itu bersinar-bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya.”

Namun, tidak semua orang antusias atau bergegas untuk menerima kehadiran Terang itu. Masih ada sekelompok orang yang suka tinggal di dalam kegelapan. “Ia datang kepada orang kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerima Dia!”. Di sini, konkretnya, saya boleh katakan bahwa, setiap orang yang berdiri di depan palungan, tempat Bayi Yesus berbaring, sebenarnya sedang berada dalam situasi yang sangat menentukan arah hidup selanjutnya. Itulah saatnya bagi seseorang mengambil keputusan, entah dia memilih untuk bersujud menyembah Bayi itu, atau tidak? Pilihan sepenuhnya tetap diserahkan kepada manusia itu sendiri.

Tetapi kepada semua, yang menerima Dia; yang menyembahNya, diberinya kuasa menjadi Anak-Anak Allah, melihat kemuliaanNya yang penuh kasih karunia dan kebenaran, dan menerima kasih karunia demi kasih karunia. Martabat ini dianugerahkan kepada orang-orang yang percaya dalam namaNya. Kita semua tentu masuk ke dalam kelompok orang percaya ini.

Dengan demikian, perayaan Natal mengingatkan kita akan martabat kita sebagai anak-anak Allah, sebagai milik kepunyaanNya. Sekurang-kurangnya di sinilah salah satu letak pentingnya perayaan Natal bagi kita. Selanjutnya, yang jauh lebih penting adalah, bagaimana model dan tampilan anak-anak Allah itu? Dengan kata lain, apa yang diharapkan dari kita sebagai Anak-Anak Allah; sebagai buah dari Natal yang sedang kita rayakan ini? Untuk yang satu ini, kita diajak untuk kembali menatap Sang Bayi Mungil di kandang itu. Apa yang sedang Ia minta dari kita?

Seorang ibu pernah berdoa begini: “Tuhan, berikanlah kepadaku mata seorang anak. Berikan kepadaku senyum rasa puas seorang anak, berikan kepadaku secercah rasa gembira seperti seorang anak, satu hati yang tenteram, seperti hati seorang anak.”

Kodrat seorang anak adalah lemah, tak berdaya, dan keasliannya menarik perhatian setiap orang. Di mana ada anak-anak, di sana ada hidup! Semoga perjumpaan kita dengan seorang Anak, Bayi Yesus, Sang Terang Sejati, di dalam palungan itu, bisa mengubah kita, sehingga kita juga bisa menjadi Terang bagi sesama dan dunia. Menjadi Terang berarti siap dan rela untuk berbagi, saling peduli, hidup penuh damai dan sukacita, serta saling mengampuni.

Suatu malam Natal di awal tahun 1900-an, di mana saat itu sedang terjadi peperangan antara beberapa negara di Eropa. Pada malam Natal, biasanya seluruh keluarga berkumpul, menyiapkan berbagai bingkisan, bernyanyi dan berdoa bersama. Tapi pada malam itu, para prajurit yang sedang berperang hanya bisa menghela nafas sambil membayangkan anggota keluarga yang sudah mereka tinggalkan selama beberapa waktu. Raut wajah sedih, bahkan tetesan air mata, menghias keheningan malam itu. Entah kapan mereka akan pulang dan berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Tiba-tiba di kejauhan, di daerah persembunyian musuh, tampak suatu cahaya bergerak-gerak. Ternyata, seorang prajurit musuh membuat pohon Natal kecil dan mengangkatnya tinggi-tinggi, diringi lagu “Silent Night, Holy Night”. Perbuatan prajurit ini tentu membahayakan jiwanya karena dengan begitu musuhnya akan dapat melihatnya dengan jelas dan melepaskan tembakan kepadanya. Namun, apa yang terjadi, sungguh di luar dugaan. Beberapa prajurit lain ikut keluar dari persembunyian mereka dan menyanyikan lagu-lagu Natal bersama.

Yang mengejutkan, prajurit lawan pun ikut bergabung dan bahkan ada yang mengiringi nyanyian mereka dengan alat musik yang dibawanya. Pohon Natal yang bercahaya dan lantunan lagu Natal tadi telah mempersatukan mereka; menjadikan mereka bersaudara satu sama lain. Sesuatu yang sungguh indah tentunya.

Sebagaimana lazimnya, Natal selalu diisi dengan perayaan yang sangat meriah, juga disemarakkan dengan atribut-hiasan Natal; ada Pohon Natal, lampu-lampu Natal, kandang Natal, lagu-lagu Natal, dan sejenisnya. Sudah sejauh mana itu semua dijadikan sebagai alarm untuk mengingatkan kita tentang indahnya persatuan, persaudaraan, dan pengampunan? Atau barang kali itu semua hanya hiasan semata tanpa makna?

Sekali lagi, Natal adalah momen berbagi rahmat, damai, kasih, dan pengampunan. Karena makna dan nilai-nilai inilah, maka Perayaan Natal tetaplah penting dan sangat dibutuhkan dalam hidup kita. Saat ini, jika masih ada luka, kebencian, kemarahan, kekecewaan yang kita simpan, ijinkan Yesus yang lahir ke dunia, lahir di hati kita, menyembuhkan kita dan menggantinya dengan damai-Nya.

Penulis adalah Pastor Kapelan Paroki Sta. Maria Assumpta dan St. Yosef Katedral Ruteng.