Setelah ia pergi, aku melesat membuka gerbang depan rumahnya. Tadi, sebelum Azelia pergi, aku melihatnya meletakkan kunci pintu rumahnya di dalam pot di bawah  pintu depan rumahnya. Tanpa basa-basi aku mengambil kunci dan membuka pintu.

Aku merasa ada pipa dibelesakkan dalam mulutku dan helium dipompa ke dalam rongga dadaku karena ruangan ini dipenuhi asap pekat rokok. Ketika berpikir tentang keluarga Azelia yang bahagia, aku paling hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan.

Botol-botol dan kaleng minumannya berserakan di meja, lantai, bahkan sampai di atas sofa. Pintu belakang rumahnya tak terkunci  seakan-akan sejumlah manusia yang terus-menerus keluar masuk rumahnya.

Hatiku dingin ketika masuk ke dalam kamar tidurnya. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung.

“Pergi kamu, lelaki biadab !! Kamu tak pantas lagi untukku..pergi.., pergi sana bersama Caecilia..,” ujar sebuah suara dalam ingatanku, yang ingin selalu kulupakan.