Panorama Pantai Jengkalang, Reok, Manggarai, NTT (Foto: Floresa/Ardy Abba)

Suatu hari sepulang sekolah kami menyusuri jalan yang sebenarnya tidak sering kami lalui.

Jalan ini memang bisa mengantar kami menuju pantai tempat favorit orang-orang kampung, hanya saja jarak yang ditempuh lebih jauh.

Sempat terjadi perbenturan ide antara teman-teman. Namun, setelah memikirkan beberapa pertimbangan, kami pun sepakat untuk melewati jalan itu.

Rerimbun pohon yang tumbuh di sepanjang pinggiran jalan membuat hati tenang. Teduh. Sepanjang perjalanan, lagu-lagu lokal kami dendangkan.

Semilir angin yang menerpa dedaunan menghasilkan nada-nada indah alam. “Alam pun bernyanyi penuh sukacita, kala menyaksikan anak-anak manusia berbahagia.” dendang Allend.

“Kita sudah hampir sampai teman-teman. Saya sudah bisa mendengar debur ombak yang menampar manja pipi karang, juga jejak kecil kaki-kaki ombak yang berlomba melumat pasir,”  Fand mengucapkan kalimat puitisnya kemudian berlari mendahului kami menuju arah pantai yang hanya terhalang sebuah bukit mungil.

Di pantai, banyak orang desa berkumpul. Wajah mereka serius. Namun, tidak biasanya kali ini. Ketika kami menyapa, mereka hanya diam dan menunduk.

“Ada apa ini?” Ferind bertanya kepada pamannya. Paman itu menarik tangan Ferind lalu memanggil kami semua menjauhi kumpulan warga kampung.

“Ada sebuah masalah serius,” paman memulai pembicaraannya. Kami semakin diselimuti kabut kebingungan.

“Masalah serius apa paman?” kami mengorek jawab.

“Pantai ini, tempat kita berpijak sekarang ini, sudah bukan milik kita lagi.”