Ilustrasi

Floresa.co – Hari ini, rakyat Manggarai Barat akan memilih bupati dan wakil bupati. Ada lima pasangan calon yang disodorkan kepada pemilih dibilik suara.

Berdasarakan nomor urut, mereka adalah pasangan Agustinus Ch Dula-Maria Geong, Tobias Wanus-Frans Sukmanira, Mateus Hamsi-Paul Serak Baut, Maximus Gasa-Abdul Asis dan Ferdi Pantas-Yohanes Hapan.

Dari lima pasangan ini, pasangan satu sampai empat masing-masing diusung partai politik. Sedangkan, pasangan terakhir maju melalui jalur perseorangan.

Lima pasangan ini muncul setelah melalui proses yang panjang bahkan menegangkan. Salah satu episode paling menegangkan dalam pilkada Manggarai Barat adalah pada saat pendaftaran pasangan calon pada 27-28 Juni 2015 lalu.

Pada hari pertama, ada empat pasangan yang mendaftar. Pasangan yang pertama mendaftar adalah Maximus Gasa- Abdul Asis (Maxi-Asis) yang diusung Gerindra, PKS dan PBB.

Setelah Maxi-Asis, giliran pasangan Agustinus Ch Dula-Maria Geong yang menyambangi gedung KPUD. Pasagan ini membawa berkas dukungan dari PDI-Perjuangan, PKPI, Nasdem dan PAN.

Setelah Gusti-Maria, selanjutnya pada hari itu, giliran pasangan Mateus Hamsi-Paul Serak Baut yang mendaftar. Pasangan dengan sebutan Mabar ini membawa berkas dukungan dari Golkar dan PPP.

Selanjutnya pasangan terkahir yang mendaftar di hari pertama itu adalah Ferdi Pantas-Yohanes Hapan. Pasangan dengan sebutan Firdaus ini maju melalui jalur perseorangan. Saat itu, membawa 24. 856.000 dukungan masyarakat.

Pada hari kedua 28 Juni 2015, giliran pertama yang mendaftar adalah pasangan Tobias Wanus-Frans Sukmanira. Pasangan ini saat itu membawa dukungan dari PKB dan Demokrat.

Setelah Tobi-Frans mendaftar, giliran pasangan Fidelis Pranda-Benyamin Padju yang mendaftar. Menariknya, pasangan ini membawa berkas dukungan dari PKB dan PKPI.

Karena adanya dukungan ganda PKB dan PKPI, suasana pendaftara pilkada Manggarai Barat pun menjadi tegang. Pendukung Pranda-Padju mengepung kantor KPUD hingga tengah malam. Bahkan saat itu ada aksi pengerusakan kanca dan kursi.

KPUD akhirya saat itu “terpaksa” menerima berkas pendaftaran Pranda-Padju. Namun, belakangan setelah melalui proses yang panjang, pasangan Pranda-Padju akhirnya gagal lolos menjadi calon.

Meski demikian, pesona Pranda-Padju, terutama Fidelis Pranda tetap menarik. Beberapa pasangan yang lolos masih “menjual” nama Pranda kepada calon pemilih.

Pranda adalah bupati pertama Manggarai Barat sejak daerah itu baru saja dimekarkan dari Manggarai pada tahun 2003. Tahun 2005, pada pilkada langsung pertama, Pranda yang berpasangan dengan Agustinus Ch Dula terpilih sebagai bupati definitif pertama Manggarai Barat.

Namun, dalam pilkada 2010, Pranda yang sudah tak berpasangan dengan Dula kalah. Dula yang menggaet Maxi Gasa sebagai wakilnya terpilih sebagai bupati kedua Manggarai Barat.

Hari ini, rakyat Manggarai Barat akan memilih bupati ketiga daerah itu. Siapakah yang akan terpilih? Masih butuh waktu untuk menjawabnya.

Tapi yang pasti setumpuk pekerjaan rumah sudah menanti untuk segera dibereskan. Setelah lebih dari 10 tahun menjadi daerah otonom, masih banyak hal yang perlu dibenahi di kabupaten paling barat Pulau Flores ini.

Bahkan infrastruktur dasar di dareah ini pun masih banyak yang belum tersedia. Contoh saja rumah sakit daerah yang selama beberapa tahun proses pembangunannya mangkrak.

Hal yang tak kalah penting adalah air minim bersih. Jangankan di kampung-kampung, di dalam kota Labuan Bajo sendiri, air masih menjadi barang mahal yang terkadang sulit didapat.

Persoalan lain adalah pembangunan infrastrukur jalan ke sejumlah kecamatan yang masih jauh dari memadai. Ada kesan, di wilayah seperti kecamatan Macang Pacar,Kuwus dan Ndoso kurang mendapat sentuhan pembangunan.

Selain masalah infrastrutur, isu lain yang layak menjadi perhatian bupati dan wakil bupati terpilih adalah soal pariwisata.

Labuan Bajo merupakan salah satu dari 10 kota di Indonesia yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai destinasi wisata baru yang dikembangkan.

Namun, persoalannya, pariwisata di Manggarai Barat sudah mendatangkan sejumlah ekses negatif. Diantaranya yang sering menjadi pembicaraan adalah makin tersingkirkan masyarakat lokal seiring dengan masuknya investor dari luar.

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemimpin terpilih. Menjadikan masyarkat Manggarai Barat sebagai tuan atas pariwisata di daereah itu.

Masih banyak pekerjaan rumah lainnya yang tak kalah pelik. Karena itu, semoga bupati dan wakil bupati terpilih adalah orang yang punya kemampuan lebih untuk mengatasi berbagai persoalan itu. Bukan orang yang biasa-biasa saja. (Petrus D/PTD/Floresa)