Oleh: INOSENTIUS MANSUR

Kini, umat Kristiani memasuki masa Adven. Adven berasal dari kata bahasa Latin, Adventus, yang berarti kedatangan (Maryanto:2004).

Konon, istilah Adven dipakai pertama kali dalam kerajaan Romawi untuk menyambut kedatangan Kaisar yang dianggap sebagai dewa karena menang dalam perang.

Setelah agama Kristen dijadikan sebagai agama resmi Roma, makna Adven pun diperbaharui. Adven bukan lagi momentum menyambut Kaisar, melainkan sebagai masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus sebagai Tuhan sekaligus Raja yang menang dalam pertarungan melawan kuasa kegelapan. Makna seperti inilah yang dipertahankan hingga kini.

Dalam masa Adven, umat Kristiani diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus. Persiapan itu dilakukan dengan “mereparasi” diri dan “membenarkan” hati.

Hal ini pantas dilakukan, sebab Yesus datang sebagai tokoh solider dan liberatif. Ia melepaskan “keterikatan” manusia dengan dosa, menghentikan lingkaran setan dan membebaskan manusia dari jebakan kuasa kegelapan.

Karena itu, masa Adven harus diisi dengan hal-hal konstruktif. Sebagaimana saat kita menantikan orang yang amat berharga, membutuhkan persiapan matang, demikian jugalah penantian kita akan kedatangan Kristus, mesti diimbangi dengan matangisasi hati.

Hati adalah instansi paling utama yang mesti disiapkan dalam masa Adven agar layak untuk menerima kedatangan Yesus.