SMAK st. Fransiskus Xaverius-Ruteng

Floresa.co – Beberapa pekan lalu, tepatnya hari Kamis, hampir menjelang pukul 18.00, aktivitas di SMAK st. Fransiskus Xaverius-Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores mulai menyurut. Beberapa siswa melintas di halaman tengah, bergegas pulang.

Meski keadaan berangsur sepi, lampu di salah satu ruang kelas masih menyala. Ketika melongok ke dalam, tampak seorang guru sedang memainkan piano. Di depannya, secara bergilir beberapa orang murid sedang menyanyi.

Guru musik itu tak lain adalah Pius Pesten. Saat itu ia rupanya tengah mendampingi para siswa dalam menyambut perlombaan pop singer.

Sebelum pulang sekitar pukul 19.00, ia berkata, “di sekolah lagi ada penyambutan pesta”

Sore itu, Pius hanyalah salah satu guru yang pulang hingga larut malam di tengah kesibukan menjelang pesta sekolah pada 3 Desember. Tahun ini, sekolah katolik itu genap berusia 28 tahun

Kesibukkan serupa juga dialami oleh Yohan Da (24), Guru pengampu bidang studi bahasa Indonesia. Hingga pukul 19.00 ia masih berkeliaran di lingkungan sekolah.

“Kita selenggarakan kelas jurnalistik dari pukul 16.00-17.00 tadi” katanya.

Memaksimalkan Potensi

Padatnya kegiatan di luar waktu sekolah sangat terlihat mulai pukul 15.00 tiap hari. Usai keadaan sepi setelah pukul 13.15, suasana sekolah yang terletak di antara Gereja Katedral “Lama” dan Katedral “Baru” itu  kembali ramai pada pukul 15.00 sore hari.

Tiap sore selalu ada jadwal kegiatan.  Selama hari Senin, Selasa, Kamis dan Jumat, ada jadwal studi sore untuk semua siswa.  Sementara hari Jumat dan Sabtu dijadwalkan untuk kegiatan ekstrakurikuler. Antara lain, kegiatan pramuka, olahraga, paduan suara, bela diri, dan drumb band.  Kegiatan selalu berlangsung dari pukul 15.30-17.00.

Terkait padatnya aktivitas itu, Kepala Sekolah SMAK st.Fransiskus Xaverius, Romo Martin William mengatakan, semua kegiatan dirancang agar siswa semakin produktif.

“Daripada mereka berkeliaran di sana-sini, lebih baik memanfaatkan waktu ekstra untuk kegiatan bermanfaat di sekolah.

Guna mewujudkan impian tersebut, ia membentuk rumpun para guru sesuai dengan bidang studi yang diampu.  Antara lain, rumpun bahasa, seni, olahraga, eksata, dan sosial.

Sejak bulan Januari, setiap rumpun bidang studi didorong merancang program.

Rumpun bahasa, misalnya, menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti pelatihan jurnalistik, teater, pidato berbahasa Inggris, majalah dinding, dan publikasi majalah sekolah.

“Saya kemudian mendorong dan mengawasi bagaimana para guru menerapkannya” ujarnya.

Ia menambahkan, disiplin adalah kata kunci agar semua kegiatan bisa berjalan dengan baik.

Tantangan

Mengharapkan hasil berkualitas, kata dia, tidak tanpa kesulitan. Yang kerap menjadi persoalan adalah gaji guru.

“Tidak mungkin kita menuntut banyak kalau hak guru belum terpenuhi “

Terkait itu, ia berusaha mengefektifkan peran komite sekolah dan mengoptimalkan kehadiran yayasan SUKMA untuk memperhatikan kehidupan para guru.

Pengamatan serupa disampaikan John Jure, pegawai administrasi sekolah yang ada sejak sekolah itu dibangun pada tahun 1987.  Menurutnya, meskipun kualitas sekolah semakin membaik, namun kesulitan hampir sama tiap tahun yakni gaji para guru.

Ditanyai berapa jumlahnya, ia enggan menjawab secara terperinci. Ia hanya menyebutkan rentangnya antara satu hingga dua juta rupiah per bulan.

Meskipun demikian, ia sendiri sangat bangga melihat perkembangan SMAK Fransiskus.

“Pendaftaran selalu banyak tiap tahun. Hanya harus dibatasi demi kualitas”

Tercatat, tahun ini jumlah murid mencapai 1.014 siswa. Di tahun awal berdiri, hanya sekitar seratusan orang saja.

Menanggapi corak pendidikan semacam itu, beberapa siswa menyambut positif. Di antaranya, Yohanes A. Mitang ( 16 tahun).

“Menyenangkan karena bisa mengisi waktu luang daripada tinggal kosong di rumah, bisa ketemu teman-teman, bisa mengembangkan bakat,”ujar siswa dengan sapaan Joy ini. (Gregorius Afioma/PTD/Floresa)