Murid SMAN 3 Komodo sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam bangunan Gereja Stasi Marombok. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Setengah bercanda, Adrianus Adi (33), berkata, “Kalau biasanya ada three in one, kami biasa sebut ini four in one.

Adi – begitu ia biasa disapa – adalah guru Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Komodo di Marombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) – Flores.

Dari Labuan Bajo, ibu kota Mabar, jarak sekolah itu hanya sekitar 5 km.

Letaknya persis berada di jalan provinsi lintas Flores, berseberangan jalan dengan lokasi Rumah Sakit Daerah (RSUD) yang belum rampung meski sudah dibangun tahun 2007 lantaran kasus korupsi.

Sebutan four in one menggambarkan kondisi kegiatan belajar mengajar di sekolah itu.

Meski sekolah itu aktif sejak 2014 lalu, namun, mereka belum memiliki bangunan sekolah.

Sementara ini, kegiatan belajar untuk 49 orang murid – yang sebagiannya Muslim – berlangsung di dalam ruang aula Gereja Katolik, Marombok.

“Ruangan ini statusnya masih pinjaman dari Stasi Merombok,” katanya kepada Floresa.co belum lama ini.

Ruang aula itu dibagi menjadi empat kelas dengan cara disekat tripleks tipis. Tinggi sekat sekitar 150 cm, tidak sebanding dengan tinggi bangunan yang berkisar tiga meter.

Masing-masing kelas hanya berukuran sekitar 7 x 7 meter.

Keadaannya tergolong tidak nyaman. Dari ruangan masing-masing, para siswa masih bisa mengamati kegiatan belajar di kelas lain.

Apalagi, tak ada plafon. Suara dari kelas lain sudah pasti terdengar.

“Memang sangat ribut,” kata Ardi.

Seorang siswi kelas satu, Sustiana Arifin (18) mengatakan, lingkungan belajar demikian tidak kondusif.

“Kami susah konsentrasi dan membuat malas datang sekolah,” akunya.

Apa yang dikeluhkan Sustiana seakan terbukti. Dari angkatan pertama yang mulanya berjumlah 23 orang, kini tersisa 18 orang.

Rinciannya, 6 orang kelas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan 12 orang jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Lima orang sudah dikeluarkan.

“Mereka keluar karena nakal dan ada yang malas datang sekolah” kata Clarita Borgias (17), siswi IPS.

Sejauh ini, angkatan kedua masih utuh. Mereka berjumlah 31 orang. Sementara jumlah guru ada 21 orang.

Tampak bagian dalam ruang kapel yang disekat seadanya untuk disulap menjadi ruang kelas. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)
Tampak bagian dalam ruang kapel yang disekat seadanya untuk disulap menjadi ruang kelas. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)

Tidak hanya itu. Fasilitas kegiatan belajar mengajar masih jauh dari harapan.

Agustinus Esa (33), salah seorang guru menjelaskan berbagai kekurangan tersebut.

“Perpustakaan belum ada. Begitu pun fasilitas komputer untuk siswa,” katanya.

Di tengah situasi kekurangan tersebut, Arnoldus Adol (51) seorang guru senior, berharap para murid tetap termotivasi.

“Para murid harus terus-menerus menyadari pentingnya pendidikan,” ungkapnya.

Sejauh ini, sebuah bangunan memang sementara dibangun.

Sayangnya, hanya “dicicil” satu ruang kelas saja. Ditanya kenapa dan kapan ruang kelas lain dibangun, mereka enggan menjawab.

“Kami juga tidak tahu bagaimana pengaturannya,” kata Adi.

Nikodemus Hadipura, guru lain di sekolah itu pun berharap, para pemangku kebijakan peka terhadap kebutuhan mereka. (Gregorius Afioma/ARL/Floresa)