Biji kemiri yang sudah dikupas bisa diolah lagi menjadi minyak kemiri yang harganya lebih mahal. (Foto: ist)

Oleh: F RAHARDI

Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor dan Pulau Lembata,merupakan penghasil kemiri utama di Indonesia.

Buah kemiri itu masih dijual dalam bentuk biji kupas dengan cangkang (kulit/tempurung biji) terbuang sia-sia. Padahal nilai tambah akan diperoleh apabila biji kemiri itu diolah menjadi minyak, ampasnya menjadi bungkil (tepung) kemiri, dan cangkangnya untuk karbon aktif.

Pengolahan biji kemiri menjadi minyak dan cangkang kemiri menjadi karbon aktif bisa dikerjakan dalam skala rumahtangga dengan peralatan sederhana.

Selama ini, masyarakat NTT sudah terbiasa mengupas (memecah) biji kemiri hingga daging biji terpisah dari cangkangnya.

Biasanya mereka merebus biji utuh, menjemurnya,lalu memecahkannya satu per satu. Biji ini langsung mereka jual ke pengepul. Cangkang kemiri mereka gunakan sebagai bahan bakar perebus biji atau mereka buang.

Sebenarnya nilai tambah dari biji kemiri kupas sudah lebih baik daripada kemiri gelondongan (bercangkang). Harga kemiri kupas berkisar Rp 40.000 per kilogram (kg), kemiri cangkang paling tinggi Rp 12.000 per kg.

Rendemen minyak kemiri sekitar 15%. Berarti, dari 1 kg biji kemiri akan diperoleh 0,15 kg minyak dan 0,85 kg bungkil.

Harga bungkil di tingkat produsen sekitar Rp 40.000 per kg sedangkan harga minyak kemiri di tingkat produsen sekitar Rp 200.000 per kg. Dari 1 kg biji kemiri akan diperoleh bungkil senilai Rp 34.000 dan minyak Rp 30.000 = Rp 64.000, hingga ada marjin kotor sekitar Rp 24.000 per kg.

Nilai marjin ini masih harus dikurangi biaya penyusutan dan operasional. Pengolahan sederhana Marjin dari pengolahan biji kemiri jadi minyak dan bungkil selama ini dinikmati oleh pabrik-pabrik besar di Pulau Jawa.

Padahal, biji kemiri bisa diolah menjadi minyak dan bungkil secara sederhana dengan peralatan yang relatif terjangkau oleh masyarakat. Harga alat pengolah biji kemiri menjadi minyak, paling kecil Rp 2 juta dan yang besar mencapai Rp 600 juta per unit. Mesin-mesin kecil umumnya berpenggerak listrik sedangkan mesin besar memerlukan genset khusus bertenaga disel. Pilihan kapasitas mesin bisa disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di satu kawasan. Meski panen kemiri hanya berlangsung sekali dalam setahun, biji kemiri bisa disimpan untuk diolah jadi minyak sepanjang tahun.

Harga minyak kemiri di tingkat eceran mencapai Rp 70.000 per 100 gram (Rp 700.000 per kg). Minyak kemiri digunakan sebagai bahan kosmetik, mulai dari penyubur rambut sampai pelembab kulit (moisturizers,emollients).

Secara tradisional, masyarakat Asia Tenggara dan Pasifik memakai minyak kemiri sebagai minyak rambut dengan diberi wewangian daun pandan atau bunga kenanga.

Harga bungkil kemiri hampir sama dengan harga biji kemiri utuh. Sebab, bungkil (tepung) kemiri bukan seperti bungkil kedelai atau bungkil kelapa sebagai bahan pakan ternak, tapi sebagai bumbu masakan biasa dan shortening (perenyah industri kue kering/goreng.

Selain daging biji, cangkang kemiri pun punya nilai komersial. Selama ini, cangkang kemiri lebih banyak terbuang sia-sia.

Petani menggunakan sebagian cangkang kemiri sebagai bahan bakar untuk merebus biji kemiri. Padahal dengan teknologi sederhana, cangkang kemiri bisa diolah menjadi karbon aktif.

Karbon aktif adalah bagian arang yang keras dan mengilat. Karbon aktif digunakan sebagai filter dalam berbagai industri, terutama industri yang menghasilkan cemaran limbah cair.

Pengolahan cangkang kemiri menjadi karbon aktif dimulai dengan proses pengarangan menggunakan drum bertutup yang diberi lubang dan ganjal di bagian bawahnya. Ke dalam drum itu dimasukkan cangkang sedikit kemiri dan langsung dibakar.

Kemudian secara bertahap ke dalam drum itu dimasukkan cangkang baru setelah cangkang sebelumnya mulai terbakar. Demikian seterusnya hingga drum itu penuh.

Kendala nyaris tak ada

Setelah drum penuh dan semua cangkang terbakar, ganjal di bawah drum diambil hingga permukaan bagian bawah drum langsung menempel di tanah.

Bagian atas drum lantas ditutup hingga oksigen tak bisa masuk ke dalam drum. Karena tak ada oksigen, panas yang dihasilkan oleh pembakaran hanya akan menghasilkan arang dan bukan abu. Pastikan tak ada bagian yang bocor sehingga oksigen masuk dan cangkang jadi abu.

Setelah seluruh bagian cangkang berubah jadi arang dan dingin, drum dibongkar. Bila ada cangkang yang masih membara, segera disiram air. Arang cangkang kemiri ini selanjutnya digiling dan diayak sehingga menghasilkan serbuk arang dan bagian yang keras yang disebut karbon aktif. Sebagai limbah arang aktif, serbuk arang itu bisa dicetak menjadi briket arang.

Jadi, ada empat produk yang dihasilkan kemiri, yaitu minyak kemiri, bungkil (tepung) kemiri, karbon aktif, dan briket arang.

Dengan agroindustri terpadu seperti ini, nilai tambah yang akan diperoleh masyarakat jadi lebih tinggi dari sekadar menjual biji kemiri kupas. NTT hanyalah salah satu penghasil kemiri di Indonesia. Di kawasan ini, kemiri bukan dibudidayakan tapi tumbuh secara alami di lereng-lerang bukit hingga membentuk “hutan kemiri”. Komoditas ini terutama tumbuh di kawasan yang masih sedikit basah, sementara di kawasan yang ekstrem kering tumbuh lontar, asam jawa, dan jambu mete. Di hutan kemiri ini, diameter batang pohon bisa mencapai lebih dari satu meter sehingga panen kemiri hanya bisa dilakukan dengan memungut buah yang telah berjatuhan.

Selama ini masyarakat memproses biji kemiri bercangkang jadi kemiri kupas masih secara manual. Populasi tenaga kerja di NTT masih cukup besar sehingga penggunaan mesin pemecah biji masih belum terlalu mendesak. Bahkan tenaga yang ada masih bisa diberdayakan untuk memproses cangkang kemiri jadi karbon aktif. Sebab produksi biji kemiri kupas jadi minyak dan tepung kemiri tak memerlukan tenaga kerja sebanyak proses pengupasan dan pengarangan. Di NTT, khususnya di Flores, Koperasi Kredit sudah cukup maju sehingga faktor manajemen, permodalan, dan pemasaran produk sebenarnya tak perlu jadi hambatan.

Daripada berencana mengembangkan budidaya kelor yang masih harus dirintis dari nol, lebih ideal mengolah biji kemiri menjadi minyak dan tepung, serta cangkangnya menjadi karbon aktif dan briket arang.

F.Rahardi adalah pengamat agrobisnis dan mantan pemimpin redaksi majalah Trubus.

[Artikel ini diambil dari Tabloid KONTAN – media bisnis dan investasi di bawah grup Kompas Gramedia – Edisi 16 November-22 November 2015.  Judul asli artikel ini adalah “Nilai Tambah Kemiri”. Floresa.co mempublikasinya kembali agar pembaca di NTT terutama di Flores bisa mendapatkan informasi cara pengelolaan kemiri yang baik sehingga harganya bisa lebih tinggi]