Jalur jalan Benteng Jawa menuju Dampek yang hendak diperbaiki (Foto: Mensi Anam)

Benteng Jawa, Floresa.co – Pengerjaan perbaikan jalan di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) di jalur Benteng Jawa menunju Dampek dinilai tidak tepat waktu.

Pasalnya, setelah 100 hari dari 140 hari kerja pasca penandatanganan kontrak kerja tanggal 22 Juli 2015 lalu, pendropingan material di titik perbaikan pada ruas jalan tersebut belum juga tuntas.

“Berdasarkan pemantauan langsung beberapa minggu lalu, material belum seberapa banyak,” kata Mensi Anam, anggota DPRD Kabupaten Matim kepada Floresa.co, Selasa (10/11/2015).

Dengan melihat kondisi pengerjaan proyek senilai Rp 1.171.379.000 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Matim tahun 2015 itu, Mensi meragukan efektivitas dan kualitasnya berhubung tinggal 40 hari saja waktu tersisa sesuai kontrak kerja.

“Masyarakat sekitar turut perihatin dengan kondisi yang ada. Tinggal 40 hari kerja yang tersisa, mana mungkin bisa selesai. Musim hujan sebentar lagi tiba, kemajuan pengerjaan sangat rendah,” ujar anggota DPRD Partai Hanura itu.

Karena itu, ia meminta Bupati Matim Yosef Tote agar segera memerintahkan rekanannya CV Rejeki sebagai kontraktor pelaksana proyek untuk melaksanakan kewajiban kontrak.

Pemerintah Matim, kata Mensi, perlu segera mendesak CV Rejeki untuk menaati jadwal waktu sesuai kesepakatan.

“Kerja yang benar-benar berkualitas. Saya sudah ingatkan juga agar warga yang berada di sepanjang jalan dimaksud harus mengawasi pengerjaannya untuk menjamin kualitas,” tegas Mensi.

Anggota DPRD asal Lamba Leda tersebut juga mengungkapkan keluhan masyarakat setempat saat memantau pengerjaan lapen tersebut.

Berdasarkan pengakuan warga, kata dia, upah buruh pengerjaan deker pada peroyek tersebut belum dibayar oleh kontraktor pelaksana.

Sebagai wakil rakyat, ia juga meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk meningkatkan pengawasan di lapangan.

Mensi mengingatkan, hal yang meresahkan warga dalam pengerjaan proyek, antara lain, kelalaian pembayaran material kepada warga setempat dan kelalaian dalam pembayaran gaji buruh.

Selain itu, masalah lain yang sering muncul, seperti, pengabaian kualitas, volume yang tidak sesuai, dan pekerjaan yang tidak tuntas.

Ia pun meminta agar eksekutif memperhatikan masalah seperti ini, juga proyek-proyek di tempat lain.

“Saya akan pantau terus setiap hari melalui warga sekitar jalan tersebut,” tegasnya. (Ardy Abba/ARL/Floresa)