JPIC-OFM Gelar Seminar Tentang “Laudato Si”

0
467
Pastor Martin Harun OFM (kanan) sedang membawakan materi dalam seminar tentang "Laudato Si" di Jakarta, Sabtu (31/10/2015)

Floresa.co – Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) – OFM bekerja sama dengan Paroki St Paskalis dan Paroki Hati Kudus Kramat di Jakarta menggelar seminar tentang ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si, Sabtu (31/10/2015).

Acara ini dengan narasumber utama Pastor Martin Harun OFM diikuti sekitar 150 umat dari sejumlah paroki di ibukota.

Pastor Martin merupakan penerjemah Laudato Si ke dalam bahasa Indonesia.

Mantan dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara – Jakarta itu mengatakan, Laudato Si menjadi relevan untuk konteks dunia saat ini, yang dilanda sejumlah krisis ekologi.

“Ini menjadi bahan refleksi bagi kita sebagai orang Katolik, tetapi juga bagi umat agama lain. Ensklik ini memang tidak hanya menyapa kita orang Katolik. Semua umat dari agam lain juga menjadi sasaran ensiklik ini,” katanya.

“Saya mendesak diadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita. Kita memerlukan percakapan yang melibatkan semua orang, karena tantangan lingkungan yang kita alami, dan akar manusianya, menyangkut dan menjadi keprihatinan kita semua,” lanjutnya.

Diakon Eras Baum OFM, yang menjadi moderator diskusi mengatakan, para Fransiskan berkomitmen menyebarluaskan dan mengajak umat untuk mendalami pesan ensklik itu, yang dalam banyak hal diilhami oleh spiritualitas St Fransiskus Assisi.

“Semoga keprihatinan ensiklik ini tidak menjadi keprihatinan paus saja, tapi juga jadi keprihatinan dan kepedulian uskup-uskup, para pastor dan umat beriman semua,” katanya kepada Floresa.co.

Diakon yang juga bekerja di JPIC-OFM ini mengatakan, komunitas umat Allah di tingkat pribadi, lingkungan, paroki dan keuskupan harus mampu mewujudkan ajakan dan pesan ensiklik ini dan mendengar dengan jelas tangisan bumi, tangisan orang miskin.

“Dan itu hanya bisa kalau para pejabat gereja mulai bergerak mewujudkannya. Semoga fransiskan jadi pelopor yang lebih untuk mewujudkan itu,” ujarnya.

Laudato Si, dikenal sebagai ensiklik yang revolusioner, di mana untuk pertama kalinya, masalah lingkungan hidup dibahas secara khusus, sebagai respon atas perubahan iklim yang kian mengkuatirkan. (Ari D/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini