Meski Ditentang Uskup, Imam di Filipina Bersikeras Ingin Jadi Pejabat Publik

0
276

Floresa.co – Tiga pastor di Filipina menentang seruan para uskup yang meminta anggota klerus tidak mencalonkan diri untuk jabatan publik dalam pemilu tahun depan.

Mereka akan dipecat bila mencalonkan diri pada pemilu, tetapi sejumlah pastor mengatakan mereka bisa lebih melayani masyarakat dengan menjadi politisi.

Pastor Jeemar Lucero Vera Cruz, vikjen Keuskupan Iligan, berjuang untuk menjadi wakil walikota di Mindanao bagian utara.

“Saya akan meninggalkan peran saya sebagai seorang imam untuk sementara, demi menanggapi panggilan Tuhan untuk membantu konstituen dari Kota Iligan,” kata imam itu pada 27 Oktober, sebagaimana dilansir Ucanews.com.

Ia mengatakan, ada kebutuhan mengubah kota tersebut setelah penangkapan walikota, yang menghadapi tuduhan persekongkolan terkait pembunuhan anggota kongres.

Pastor Vera Cruz dikecam para kritikus yang menuduhnya menggunakan mimbar untuk ambisi politiknya.

Namun, ia membantah tuduhan tersebut. “Saya tidak menggunakan gereja atau mimbar untuk aspirasi politik saya,” katanya.

“Ini tentang keadilan, berpihak dan mendengar jeritan orang miskin,” Pastor Vera Cruz.

Dia mengatakan dia ingin meraih posisi tersebut untuk membantu keluarga-keluarga yang masih menderita akibat Topan Washi, yang melanda Filipina selatan tahun 2011.

Hampir empat tahun setelah topan tersebut, kebutuhan perumahan untuk ratusan keluarga masih belum terpenuhi meskipun dana jutaan peso mengalir ke kota itu, kata imam itu.

“Orang miskin telah kehilangan begitu banyak hak mereka. Kita harus membantu mereka membangun kembali kehidupan mereka,” katanya. Ini “membutuhkan kasih dan keadilan,” tambahnya.

Di Keuskupan Catarman, Filipina tengah, Pastor Walter Cerbito telah mengumumkan pencalonannya sebagai gubernur Provinsi Samar Utara.

“Sekarang adalah waktu untuk memperbaiki Samar Utara, yang membutuhkan seseorang untuk melakukan perubahan nyata,” katanya.

Pastor Jack Sasu, dari keuskupan yang sama, juga mencalonkan diri menjadi anggota dewan di Catarman, ibukota provinsi itu.

Sikap Gereja

Semua imam akan menghadapi risiko pemecatan setelah para uskup memperingatkan anggota klerus untuk tidak mencalonkan diri untuk menduduki jabatan publik.

“Para imam harus melayani Gereja. Ada cara melayani masyarakat sebagai seorang imam,” kata Kardinal Gaudencio Rosales, pensiunan Uskup Agung Manila.

Uskup Honesto Ongtioco dari Cubao mengatakan, peraturan telah melarang imam menjadi politisi.

“Ada peraturan dengan jelas bahwa mereka tidak boleh masuk politik karena Gereja adalah non-partisan dalam misinya,” katanya. (Ari D/Ucanews.com/Floresa)

 

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini