Percikan Pemikiran Ben Mboi untuk Kemandirian Bangsa

0
407
Nafsiah Mboi, istri almarhum Ben Mboi memberikan kata sambutan dalam acara penucuran buku "Percikapan Pemikiran Menuju Kemandirian Bangsa" karya Ben Mbo di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (16/10/2015)

Jakarta – Hari ini,Jumat (16/10/2015) bertempat di Bentara Budaya Jakarta diluncurkan buku karya almarhum Brigjen (Purn) dr. Aloysius Benedictus Mboi,MPH berjudul “Percikan Pemikiran Menuju Kemandirian Bangsa”.

Acara ini dihadiri banyak orang baik dari NTT maupun luar NTT serta sejumlah tokoh diantaranya Harry Tjan Silalahi,Ignas Kleden, Jhony G Plate, Rofinus Lahur, Kiki Syahnakri,Honing Sanny,Tomy Legowo, Kristian Rotok dan tokoh lainnya.

Tampil sebagai pembahas buku adalah Bambang Ismwan, pendiri Bina Sawadaya; Benny K Harman, wakil ketua komisi III DPR, dan Ryaas Rasyid, Mantan Menteri Negara Negara Otonomi Daerah. Acara ini dimoderatori Wakil Pemimpim Umum harian Kompas, Rikard Bagun.

Buku ini memuat pemikiran-pemikiran dari almarhum Ben Mboi mengenai berbagai persoalan bangsa yang diangkat dari pengalamannya sebagai pamong praja terutama sebagai Gubernur NTT selama 10 tahun (1978-1988).

Sejumlah isu yang diulas adalah hubungan antar-agama; masalah kemiskinan; masalah hubungan pusat dengan daerah; peranan bupati/kepala daerah; hubungan pemerintah dengan rakyatnya; hubungan pemerintah dengan agama; pembangunan regional (wilayah: Indonesia Bagian Timur); tentang desentralisasi dan otonomi daerah; peran kaum intelektual dan universitas; ekonomi kerakyatan; pemerintahan yang baik dan peran kaum wanita (perempuan) dalam memajukan pembangunan.

“Meskipun pemikiran-pemikiran tersebut berasal dari pengalamannya dalam memimpin NTT pada periode 1978-1988, namun pemikiran-pemikiran Ben Mboi tersebut masih relevan dan aktual untuk NTT masa kini bahkan untuk mengatasi berbagai problem mendasar yang tengah dihadapi Bangsa Indonesia baik pada saat ini pun pada masa yang akan datang,”demikian dikatakan Benny Harman.

Tentang peranan perempuan dalam pembangunan misalnya, Ben Mboi tidak hanya mendorong perempuan agar lebih aktif dalam pembangunan tetapi lebih dari itu, Ben Mboi meletakkan hubungan laki-laki dengan perempuan dalam perspektif emansipatoris.

Peran wanita tidak hanya “dibelakang” atau didepan (konco wingking) tetapi juga bisa berperan disamping atau depan. Ben Mboi mengoreksi peribahasa inggris “Behind a successful husband stands along a good wife” menjadi “By the side of a successful husband stands always a good and successful wife” Pemikiran ini merupakan revolusi kultural untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat NTT pada khususnya yang menempatkan kaum wanita sebagai konco wingking.

Terkait isu aktual saat ini yaitu tentang pemerintah yang baik (good government), mengutip James Madison, Bapak Bangsa Amerika Serikat, Ben Mboi menyatakan bahwa pemerintah yang baik mensyaratkan empat hal yaitu pertama, kesetiaan kepada tujuan pemerintahan (fidelity to the purpose of government) yakni kebahagiaan rakyatnya (the happiness of the people); kedua, pengetahuan yang tepat terhadap masalah-masalah yang menyebabkan rakyat tidak berbahagia; ketiga, pengetahuan akan berbagai solusi yang komprehensif terhadap masalah-masalah yang menyebakan rakyatnya tidak berbahagia; dan keempat, kemauan dan keberanian moral dari pemerintah untuk mengimplementasikan solusi-solusi yang tepat tadi untuk kebahagiaan rakyat.

Apakah kebahagiaan (happiness) itu? Ben Mboi mengutip Multatuli dalam bukunya Max Havelaar: “yang membuat kita bahagia bukan memanen padinya melainkan memanen padi yang kita tanam sendiri. Apa yang kita makan, minum, dan pakai, alangkah bahagianya jika bukan pemberian orang, bukan belas kasihan orang, melainkan dari hasil kerja dan hasil keringat kita sendiri”.

“Jangan bahagia dengan hasil korupsi. Itu makna dalam konteks searang,”ujar Benny Harman.

Menurut Benny, pemikiran-pemikiran yang disarikan dari pandangan James Madison dan Multatuli, itulah yang melatarbelakangi mengapa Ben Mboi sangat obsesif dengan konsepnya tentang Operasi Nusa Makmur (ONM), Operasi Nusa Hijau (ONH), dan Operasi Nusa Sehat (ONS); dan kenapa Ben Mboi mengkritik tajam kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang berlaku pada masa dia memimpin Provinsi NTT.

“ONM, ONH, dan ONS adalah jawaban operasional terhadap masalah kemiskinan dan keterbelakangan yang melilit penduduk Provinsi NTT yang dipimpinnya. Ben Mboi berusaha mengenal apa yang merupakan sebab-sebab kemiskinan yang membuat rakyat NTT tidak bahagia, lalu merumuskan solusinya dan menerapkan secara konsisten solusi-solusi yang diyakininya untuk memakmurkan rakyat NTT. Solusi-solusi itu adalah ONM, ONH dan ONS,”ujar Benny Harman.

Ben Mboi juga melakukan terobosan dalam menjalankan pemerintahannya untuk membahagiakan rakyatnya terutama dalam bidang ekonomi dengan melaksanakan secara konsisten Koperasi Unit Desa (KUD). Menurut Ben Mboi, KUD adalah perkakas rakyat dibidang ekonomi untuk melepaskan rakyat dari belenggu kemiskinan. Itu di bidang ekonomi. Di bidang kesehatan, Ben Mboi mempunyai konsep Dana Kesehatan Masyarakat (DKM) yang dia coba terapkan secara konsisten.

Ben Mboi menyadari bahwa NTT adalah salah satu provinsi yang terikat dengan NKRI sehingga problem NTT tidak hanya menjadi problem para pemimpin (elit) dan masyarakat NTT sendiri tetapi juga menjadi problem pemerintah pusat.

Namun penanganan Provinsi NTT oleh pemerintah pusat tidak bisa disamakan dengan pola yang diterapkan terhadap provinsi-provinsi lain. Dalam membangun relasi pusat dengan daerah, harus diperhatikan kekhasan yang dimiliki setiap daerah.

Provinsi NTT adalah provinsi kepulauan, karena itu hubungan pusat dengan daerah dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah harus memperhatikan karakter khusus yang dimiliki NTT sebagai Provinsi Kepulauan. Selain itu, hubungan pusat dan daerah dalam skema desentralisasi dan otonomi daerah tidak boleh membuat daerah menjadi tetap tergantung kepada pusat.

Ben Mboi dalam bukunya juga menggugat keberadaan kaum intelektual dan peran universitas.Ia bermimpi Universitas di NTT berperan sebagai “agen perubahan” bagi daerah. Hal itu hanya bisa dilakukan apabila universitas mampu menjadi center of excellenge (pusat keunggulan). (Petrus D/PTD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini