DPS Dinilai Amburadul, Hery-Adolf Adukan KPUD dan Panwaslu ke DPRD Manggarai

1
573
Paket Hery-Adolf saat mengadu ke DPRD Manggarai pada Rabu (30/9/2015). (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Manggarai Herybertus GL Nabit dan Adolfus Gabur (Paket Hery-Adolf) mengadukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai, Rabu (30/9/2015) terkait Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang amburadul.

Paket Hery-Adolf bersama sejumlah tim suksesnya kecewa dengan kinerja KPUD dan Panwaslu Manggarai.

Mereka menilai, ada indikasi tidak netral dan tidak profesional dari penyelenggara pemilu dalam melakukan pendataan DPS.

Pantauan Floresa.co, di kantor dewan mereka diterima langsung oleh Wakil Ketua I Paulus Peos, Wakil Ketua II Simprosa Rianasari Gandut, dan sejumlah anggota dewan.

Ketua DPRD Kornelis Madur, dilaporkan sedang bertugas di luar kanor.

Di depan sejumlah pimpinan dewan, Hery membeberkan masalah yang ia temukan di lapangan, antara lain, ada beberapa warga yang sudah mendapatkan format K1-KWK dan bahkan sudah ditempel di depan rumah mereka format K2-KWK, tetapi mereka tidak tercatat dalam DPS.

Selain itu, ada begitu banyak warga yang memiliki identitas jelas, pernah memilih dalam Pilpres kali lalu, namun kali ini dalam DPS yang dibuat KPUD nama mereka tidak didata.

Temuan lain Hery-Adolf, ada begitu banyak pula yang sudah meninggal dunia tetapi nama-nama mereka masih banyak dalam DPS.

“Contoh kasus di TPS 03, kelurahan Waso. Ada banyak yang sudah tidak ada di tempat bahkan sudah meninggal sejak tahun 2005 lalu, tetapi nama-nama mereka masih ada dalam DPS,” ujar Hery.

Brdasarkan verifikasi oleh tim Hery-Adolf ada juga pemilih dalam DPS yang dicatat dobel, bahkan sampai tiga kali.

Selain itu, kata dia, ada banyak pemilih yang tidak dikenal. Artinya, masyarakat dan ketua RT setempat di sekitar Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak mengenal pemilih yang bersangkutan seperti yang sudah tertera dalam DPS.

“Yang tidak terdata itu, bukan hanya pemilih Paket Hery-Adolf. Ada banyak juga yang tidak memilih kami. Persoalannya kan bukan dia pilih siapa. Tetapi semua yang berhak dia harus ikut memilih,” ujar Hery kepada Floresa.co di depan kantor DPRD.

Ia juga mengeluh dengan kebijakan pemangkasan jumlah TPS di Manggarai. Kata Hery, pada Pilpres kali lalu di Manggarai terdapat 685 TPS, namun Pilkada kali ini hanya 600 TPS saja.

“Khusus untuk Paket Hery-Adolf merasa kesulitan di lapangan dengan berkurangnya jumlah TPS kali ini,” ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Gandut mengatakan, persoalan yang disampaikan oleh Hery-Adolf harus segera ditindaklanjuti oleh DPRD sesuai kewenangannya.

Gandut bersama sejumlah anggota DPRD yang hadir berkomitmen untuk membahas masalah ini secara internal dan kemudian, pada Kamis esok pihaknya akan memanggil KPUD dan Panwaslu untuk memberikan klarifikasi.

Usai melakukan pengaduan di DPRD, Hery-Adolf juga mendatagi kantor Panwaslu dan KPUD.

Di kantor KPUD, mereka diterima empat komisioner. Dan, paket membeberkan keluhan yang sama seperti yang diadukan ke DPRD Manggarai.

Niko Nirang, salah seorang komisioner KPUD mengaku, masalah daftar pemilih rentan terjadi saat penyelenggaraan pemilu.

Kata Niko, walaupun sudah didata dengan benar, tetapi tetap saja masih ada masalah-masalah yang muncul dengan berbagai ketimpangan-ketimpangan.

Berkaitan dengan masalah yang disampaikan Hery-Adolf, Niko mengatakan, pihak KPUD akan memeriksanya kembali saat melakukan penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada 2 Oktober mendatang.

“Semua pemilih dalam DPT dan perbaikan nanti akan ditampung pada DPT bersangkutan. Nanti akan periksa 2 Oktober,” terang Niko.

Kemudian, lanjutnya, pada 9 Oktober nanti KPUD akan menetapkan lagi DPT dengan format B1.

Kalau nanti dalam proses ini, jelasnya, masih juga ada yang tidak terdata dalam DPT maka akan diberikan format daftar pemilih tambahan 2 yaitu pencoblosan dengan menggunakan KTP dan kartu identitas lain.

“Keluhan banyak ini juga karena kami gunakan aplikasi untuk input data pemilih. Kadang ada yang sudah meninggal tetapi muncul lagi dalam aplikasi. Itu kekurangannya. Tetapi masih ada sistem lain untuk membersihkan semua yang tidak memenuhi syarat itu,” katanya. (Ardy Abba/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Hati2 e pak.heri skrg lagi marak perekaman ktp yg tdk jlas drimana asalnya…tlong sebarkan intel di tiap klurhan…spy bsa tertangkap tngan…krena yg jlas yg merekam ini tdk jlas drimana dtgnya….krena ini modus jg dri pengurangan jmlah wajib pilih tpi bsa memilih dgn ktp….skrg lgi menghlalkan sgla cara….

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini