Dituding Lakukan Praktik Monopsoni, Pengusaha: Kemana Deno Kamelus 10 Tahun?

Pelaku usaha merasa selama ini harga komoditas ditentukan mekanisme pasar

4
842
Kopi, salah satu komoditas andalan dari Manggarai. (Foto: Kompas.com)

Ruteng, Floresa.co – Calon bupati Deno Kamelus memantik polemik soal perdagangan komoditas di Manggarai. Deno yang 10 tahun menjadi wakil bupati Manggarai ini mengatakan ada praktik monopsoni dalam perdagangan komoditas perkebunan seperti cengkeh, kopi dan vanili di Manggarai.

Monopsoni, menurut Deno adalah praktik perdagangan dimana ada banyak penjual (petani hasil bumi) tetapi pembeli (pengusaha) hanya sedikit. Akibatnya, harga ditentukan seenaknya oleh pembeli.

Maria Yasinta Hagur, pemilik kelompok usaha Monas di Ruteng yang selama ini bergerak di bidang perdagangan komoditas di Manggarai raya, mempertanyakan pernyataan Deno soal praktik monopsoni ini.

“Katakan, kalau menurut kacamatanya Deno ada monopsoni, dimanakah dia seorang pemimpin Manggarai pada waktu itu, selama 10 tahun, untuk bisa melihat semua mekanisme pasar yang terjadi di Mangggarai, dan dimana peran dia sebagai seorang pemerintah untuk melindungi rakyatnya?”ujar Maria kepada Floresa.co, Selasa (29/9/2015).

Maria mengatakan, bila benar ada praktik monoposini komoditas di Managgarai, maka pemerintah daerah memiliki andil di dalamnya.”Tetapi sepanjang yang saya ketahui, selama saya menjadi pengusaha hasil bumi, itu tidak pernah ada monopsoni. Kami selalu kembali ke pasar bebas, mekanisme pasar yang menentukan harga hasil komoditi, bukan ditentukan oleh pengusaha,”ujarnya.

Ia mengatakan pengusaha di Manggarai selama ini malah berkompetisi memperebutkan hasil-hasil komoditas perkebunan dari masyarakat. Sehingga harga yang tercipta pun kompetitif.

“Tidak dikuasai segelintir pengusaha. Mengapa sedangkal itu seorang mantan pemimpin Manggarai menilai ada monopsoni?”tegasnya.

BACA Juga: Deno: Perdagangan Komoditas di Manggarai Dikuasai Segelintir Pembeli

Seperti diberitakan sebelumnya, Deno Kamelus dalam sebuah acara dialog dengan masyarakat di rumah adat Tadong,Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Minggu (27/9/2015), mengatakan selama ini perdagangan komoditas di Manggarai hanya dikuasai segelintir pembeli atau pengusaha.

Di depan ratusan massa yang hadir dalam kegiatan kampanye, calon bupati yang berpasangan dengan Victor Madur tersebut menjelaskan, salah satu penyebab harga komoditas pertanian seperti kopi, cengkeh,vanili dan lain-lain terus menurun disebabkan penerapan sistem monopsoni tersebut.

Kata dia, pembeli atau pedagang mengatur sesuka hati atas harga komoditas pertanian.Sistim ini, kata dia,berlaku di Kabupaten Manggarai.

Bahkan, menurutnya, tahun ini harga cengkeh hanya Rp 80.000 per kilogram.

“Yang beli hanya sedikit orang,kalau bukan bapa,mama,anak mantu,anak,tante dan sebagainya. Dan mereka yang mengatur harga sebelum menjual. Mereka sepakat saja,harga diatur sesuka hati,”ujarnya. (Petrus D/PTD/Floresa)

Advertisement

4 Komentar

  1. Pak Deno lagi mengakui kesalahan selama 10 tahun memimpin Manggarai. Dan terbukti sebagai salah satu bntuk kegagalan dlm melindungi petani. Maka saatnya beri ksmpatan kpada orang baru tuk pimpin Manggarai.

  2. Klu pak Deno pemimpin yg sdah berpikir ke arah kesejahteraan rakyat dri sektor pertanian…su dari dulu ciptakan perda yg mengatur harga batas atas dan bawah dri komoditas petani atw dibuatkan sebuah perusahaan daerah yg menampung hasil bumi mnggarai atw gerakan kembali KUD yg ada di manggarai utk menadah hasil bumi…bukanya menuduh cina lagi boss…pertanyaan saya apakah pribumi sanggup utk membeli hasil bumi kita slain cina…apakah pribumi bisa mengantar pulaukan hasil bumi kita…trus adakah relasi dagang org pribumi…mau dibawa kemana hasil bumi ini ditampung….ingat boss penadah hasil bumi yg ada skrg merekalah yg menggerakan ekonomi manggarai yg katanya ite kan sdah maju…tanpa mereka apa bisa petani beli beras…mw sekolahin anak…mau wale bantang atw sidanya anak rona…berpikir yg reaalistis lah pak…jgn pikir yg muluk2…pernyataan bapak ini jg keluar disaat bpk mau maju jd bupati yg kebetulan lawan bapak mrupkan keluarga pengusaha penadah hsil bumi…dmnakah bapak 10 thun ini…tertidur yg baru bangun…atw pura2 tdk tau…atw apabila diantara tim bapak ada yg pengusaha penadah hasil bumi…apa bapak bersuara sperti ini…asi pake tmbo koe ta kraeng tua.

  3. Hello….
    Where are you over 10 years ago?
    Don’t talk to much if you toe bae. Ok?

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini