Kopi, salah satu komoditas andalan dari Manggarai. (Foto: Kompas.com)

Ruteng, Floresa.co – Calon bupati Deno Kamelus memantik polemik soal perdagangan komoditas di Manggarai. Deno yang 10 tahun menjadi wakil bupati Manggarai ini mengatakan ada praktik monopsoni dalam perdagangan komoditas perkebunan seperti cengkeh, kopi dan vanili di Manggarai.

Monopsoni, menurut Deno adalah praktik perdagangan dimana ada banyak penjual (petani hasil bumi) tetapi pembeli (pengusaha) hanya sedikit. Akibatnya, harga ditentukan seenaknya oleh pembeli.

Maria Yasinta Hagur, pemilik kelompok usaha Monas di Ruteng yang selama ini bergerak di bidang perdagangan komoditas di Manggarai raya, mempertanyakan pernyataan Deno soal praktik monopsoni ini.

“Katakan, kalau menurut kacamatanya Deno ada monopsoni, dimanakah dia seorang pemimpin Manggarai pada waktu itu, selama 10 tahun, untuk bisa melihat semua mekanisme pasar yang terjadi di Mangggarai, dan dimana peran dia sebagai seorang pemerintah untuk melindungi rakyatnya?”ujar Maria kepada Floresa.co, Selasa (29/9/2015).

Maria mengatakan, bila benar ada praktik monoposini komoditas di Managgarai, maka pemerintah daerah memiliki andil di dalamnya.”Tetapi sepanjang yang saya ketahui, selama saya menjadi pengusaha hasil bumi, itu tidak pernah ada monopsoni. Kami selalu kembali ke pasar bebas, mekanisme pasar yang menentukan harga hasil komoditi, bukan ditentukan oleh pengusaha,”ujarnya.

Ia mengatakan pengusaha di Manggarai selama ini malah berkompetisi memperebutkan hasil-hasil komoditas perkebunan dari masyarakat. Sehingga harga yang tercipta pun kompetitif.

“Tidak dikuasai segelintir pengusaha. Mengapa sedangkal itu seorang mantan pemimpin Manggarai menilai ada monopsoni?”tegasnya.

BACA Juga: Deno: Perdagangan Komoditas di Manggarai Dikuasai Segelintir Pembeli

Seperti diberitakan sebelumnya, Deno Kamelus dalam sebuah acara dialog dengan masyarakat di rumah adat Tadong,Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Minggu (27/9/2015), mengatakan selama ini perdagangan komoditas di Manggarai hanya dikuasai segelintir pembeli atau pengusaha.

Di depan ratusan massa yang hadir dalam kegiatan kampanye, calon bupati yang berpasangan dengan Victor Madur tersebut menjelaskan, salah satu penyebab harga komoditas pertanian seperti kopi, cengkeh,vanili dan lain-lain terus menurun disebabkan penerapan sistem monopsoni tersebut.

Kata dia, pembeli atau pedagang mengatur sesuka hati atas harga komoditas pertanian.Sistim ini, kata dia,berlaku di Kabupaten Manggarai.

Bahkan, menurutnya, tahun ini harga cengkeh hanya Rp 80.000 per kilogram.

“Yang beli hanya sedikit orang,kalau bukan bapa,mama,anak mantu,anak,tante dan sebagainya. Dan mereka yang mengatur harga sebelum menjual. Mereka sepakat saja,harga diatur sesuka hati,”ujarnya. (Petrus D/PTD/Floresa)