STKIP Ruteng (ist)

Ruteng, Floresa.co- Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menambah dua program studi  baru yaitu jurusan strata satu pendidikan Biologi dan program magister Teologi.

Hingga kini, di STKIP Ruteng terdapat tujuh program studi,yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Teologi, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Anak Usia Dini (PG-PAUD), Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES).

Hal itu disampaikan Ketua STKIP Ruteng, Yohanes Servatius BoyLon, saat acara pelatikan 1.214 wisudawan, Sabtu (26/9/2015). Ia mengatakan lembaga yang dipimpinnya sedang memperjuangkan penambahan jurusan baru yaitu, pendidikan Biologi dan program Magister Teologi.

BACA Juga: Alumnus STKIP Ruteng Harus Mampu Bersaing di Masyarakat Ekonomi Asean

Karena itu, Servatius dalam sambutannya mengharapkan agar pihak kopertis wilayah 8 – penyelenggara sekolah tinggi dan swasta daerah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur – dapat membantu meringankan lembaganya untuk memberikan izin dua program studi tersebut.

“Izinkan kami menyampaikan kepada bapak sekretaris kopertis (8) bahwa kami lagi harap-harap cemas, untuk mengizinkan penambahan program Biologi dan Teologi strata dua,” ujarnya di depan Sekretaris Kopertis 8, Slamet Soleh dan lebih dari dua ribuan undangan yang hadir.

Senada dengan Servatius, Marius Ardu Jelamu, Pejabat sementara (Pjs) Bupati Manggarai mengatakan, lembaga STKIP Ruteng sudah sangat berjasa bagi dunia pendidikan di NTT, khusus daerah Flores.

Jelamu menjelaskan, sejak berdirinya pada tahun 1959 silam, lembaga ini sudah banyak mencetak guru yang sudah dikirim ke seluruh penjuru tanah air.

“Pak sekretaris (Kopertis 8), saya harapkan sebagai penjabat bupati tolong bapa memperjuangkan ini (program biologi dan teologi strata dua),” pinta Jelamu.

Ia mengharapkan, agar tahun 2016 mendatang saat menghadiri acara yang sama seperti pelantikan wisudawan akan membawa sertakan izin operasional dua program studi tersebut.

“Tetapi sebagai pribadi saya masih gundah karena banyak sekali orang Manggarai yang sekolah keluar Manggarai,” ujar Jelamu.

Akibatnya,uang orang Manggarai terbang keluar daerah.”Coba bayangkan kalau 100 ribu mahasiswa Manggarai (keluar daerah) dengan kurang lebih 50 juta saja, itu sudah 5 miliar. Tapi kalau membangun universitas di Manggarai betapa uang kita akan terlindungi,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT itu.

Sementara itu, Slamet mengaku sangat mendukung perjuangan dua program studi tersebut.

“Saya sangat mendukung usulan program biologi, asal saja minimal 6 sampai 12 minimal dosen S2, syukur-syukur kalau ada doktor,” ujar Slamet. (Ardy Abba/PTD/Floresa)