Wisudawan STKIP Ruteng

Ruteng, Floresa.co – Para alumnus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng dituntut agar mampu bersaing dalam kancah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Hal itu disampaikan Romo Dr Agustinus Manfred Habur, Lic.Pead dalam orasi ilmiah saat acara wisuda 1.214 mahasiswa STKIP Ruteng, Sabtu (26/9/2015).

Di depan 2000-an wisudawan dan para undangan yang hadir dalam acara yang berlangsung di lapangan Missio tersebut Romo Manfred menjelaskan, MEA membuka peluang sekaligus tantangan bagi kemajuan bangsa Indonesia, termasuk kemajuan orang Flores.

Disebut peluang, karena akan terbuka kesempatan yang makin lebar untuk mengekspor produk-produk lokal dan nasional yang bermutu ke negara-negara anggota MEA.

Lebih lanjut, dari aspek ketenagakerjaan akan terbuka kesempatan yang sangat besar bagi pencari kerja di berbagai negara anggota, dengan serangkaian kebutuhan akan beranekahragam keahlian masing-masing.

Sementara itu, dikatakan tantangan karena impor produk barang dan jasa bermutu dari negara lain ke Indonesia secara terbuka. Pencari kerja dari negara lain pun akan mudah masuk ke Indonesia.

“Di sini kita terjadi persaingan ketat. Bila kita tidak siap bersaing, bukan tidak mungkin kita hanya sebagai penonton yang tak berdaya bahkan dalam percaturan ekonomi di daerah kita sendiri,” ujar Romo Manfred.

Sementara itu, dalam kesempatan orasi ilmiahnya Marius Ardu Jelamu, Pejabat sementara (Pjs) bupati Manggarai menjelaskanan, kewajiban berdaya saing di era MEA tersebut mesti selalu disiapkan oleh kaum intelektual.

Kata Jelamu, di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri sudah mencanangkan gerakan NTT tersenyum dan gerakan berbahasa Inggris setiap hari Jumat.

Ia menjelaskan pesan dari gerakan NTT senyum seperti yang telah dibudayakan pemerintah provinsi itu adalah sebuah bentuk latihan keramah-tamahan tuan rumah sebagai daerah pariwisata di Indonesia.

Kemudian gerakan setiap hari jumat wajib berbahasa Inggris sudah diterima oleh pemerintah daerah. Salah satunya, pemerintah mewajibkan seluruh sekolah di NTT agar menggunakan bahasa Inggris tiap hari jumat.

“Itu juga untuk mengakrabkan bahasa internasional bukan untuk meninggalkan bahasa lokal. Karena ini di zaman era globalisasi, dimana bahasa internasional yang salah satunya bahasa Inggris,” kata Jelamu. (Ardy Abba/PTD/Floresa)