Hery-Adolf Pertanyakan DPS Pilkada Manggarai

Sementara ini, kita masih berprasangka baik, ada sistem yang tidak benar

5
680
Calon bupati Managgarai Herybertus GL Nabit bersama istri dalam sebuah acara. (Foto: Facebook)

Ruteng,Floresa.co – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Manggarai Herybertus Nabit-Adolfus Gabur mempertanyakan Data Pemilih Sementara (DPS) pemilihan kepala daerah (Pilkada) Manggarai yang telah dirilis KPU beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data yang dirilis KPU, jumlah pemilih sementara di Manggarai sebanyak 189.783 pemilih. Jumlah tersebut turun dibandingkan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yaitu 190.588 orang pemilih.

“Setelah kita lihat ada persoalan, dibandingkan dengan Pilres tahun lalu, jumlah pemilih ini kan turun banyak,”ujar calon bupati Herybertus GL Nabait kepada Floresa.co, Selasa (22/9/2015).

Hery mengatakan, setelah melihat data agregat yang menurun itu, tim Hery-Adolf kemudian mencetak (print) semua data DPS, lalu dibagikan kepada tim di lapangan untuk dilakukan pengecekan ke masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Setelah kita bagi ke teman-teman di bawah (lapangan), rupanya banyak yang tidak terdaftar. Fatalnya, pada saat pendaftaran mereka terdata, ada bukti pendataannya. Mereka pegang bukti pendataannya, tetapi setelah di DPS malah tidak ada, “ujarnya.

Karena ada pengurangan jumlah TPS, tim Hery-Adolf mencoba mengecek di TPS lain. Namun, ternyata nama beberapa pemilih juga tak ditemukan. Padahal, warga yang tak tercantum namanya itu, adalah penduduk yang sudah lama berdomisili di tempat itu dan sudah sering ikut pemilu.

Temuan di lapangan, kata dia, ada yang dalam satu keluarga, salah satu anggotanya tidak ada di DPS. Misalnya, istrinya dan anak ada, tetapi suami tidak ada di DPS. Bahkan ada keluarga yang seluruh anggota keluarganya sama sekali tak tercantum di DPS.

“Karena itu, kita minta teman-teman untuk keliling lagi, data lagi semuanya. Kumpulkan lagi kartu identitas,”ujarnya.

Hery mengatakan, timnya saat ini sudah memegang pemetaan data pemilih di tiap-tiap desa atau kelurahan. Menurutnya, ada beberapa desa atau kelurahan yang terjadi peningkatan data pemilih yang signifikan, sementara di tempat lain terjadi penurunan drastis.

“Saya belum mau mencurigai ada apa dibalik ini. Tetapi sebagai orang politik, kita mencurigai wajar. Sementara ini, kita masih berprasangka baik, ada sistem yang tidak benar. Saya tidak tahu, masalahnya dimana,”ujarya. (Petrus D/PTD/Floresa)

Advertisement

5 Komentar

  1. Hati2 pak Hery mngkin ini modus utk mengurangi jumlah pemilih bapak….aplg panwas kerjqnya asal2an….

  2. Data DPS yang diumumkan KPU itu bukan hasil pendataan oleh PPDP dan PPS tetapi data SIDALI. KPU memang ceroboh dengan tidak mengumumkan hasil pendataan lapangan tetapi hasil data SIDALI. Kelemahan SIDALI banyak, dia tidak bisa mengcover data pemilih yang tidak memiliki NIK. Sekarang sedang masuk di tahapan perbaikan DPS. Kalau disebut Panwas bekerja asal2an, saya kira tidak. Prosesnya sedang berjalan, makanya disebut Data Pemilih Sementara.

  3. Mestinya, kalau memang semua bekerja dan berpatokan pada kejujuran serta sedia bertanding dngan menjunjung tinggi sportivitas, semua keanehan2 seperti itu tidak (dibuat) terjadi. Bahwa nanti apa pun hasilnya bisa diterima sebagai bukti kwualitas,elektabilitas,dan juga keberuntungan sang calon. Maka, mari, kita menunjukan bahwa kitalah memang yg terbaik dan pantas.

  4. Mari membangun Demokrasi dengan cara-cara jujur, ingat bahwa ” Suara Rakyat Suara Tuhan” jangan dikianati, siapapun yang menang itulah Suara Tuhan, mari mengawali pesta rakyat dengan cara-cara jujur; pesan bagi petugas pendataan, ” jujur butuh kesabaran dan kesabaran pasti hasilnya jujur

  5. aplg klu penetapan DPS pake SIDALI yang sperti Sdra FHM ungkapkan diatas,yang hnya mengkover pemilih yang mempunyai NIK,,,pantasan hari Rabu minggu kemarin tidak jelas apakah itu pegawai dari Catatan Sipil atw dari organisasi apa melakukan perekaman E-KTP di SMA Fransiskus Xaverius Ruteng,tanpa pakian Dinas pula,,di asrama pula,,yang ditanyakan apakah cara menjemput bola mengenai perekaman KTP tu harus ke Asrama2 anak sekolah bgt,,,mengapa perekaman tersebut tidak dilakukan di Kantor Kelurahan,,,lalu buat apa direkam sperti itu,,,tolong pastor kepala sekolahnya berikan klarifikasi yang jelas n jangan skali2 pastor ikut terlibat politik praktis bgini,,,bahaya nanti,,,urus saja umat anda,,,klu anda kepala sekolah,,anda tidak punya kepentingan dgn politik krena anda bukan diangkat oleh pemerintah yang berkuasa,,,hati2lah,,,dimana panwaslu juga….

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini