STFK Ledalero Gelar Seminar Nasional Terkait Pembantaian Massal 1965

0
1042
Seminar nasional di STFK Ledalero tentang pembantaian massal pada 1965, hadir sebagai pembicara Pastor Franz Magnis-Suseno SJ (kiri) dan Pastor John Mansford Prior SVD (kanan), dengan moderator Pastor Mathias Daven Pr. (Foto: Fr Anker Datho SVD)

Maumere, Floresa.co – Dalam rangka memperingati 50 tahun peristiwa pembantaian massal terhadap orang yang diduga bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero di Kabupaten Sikka-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadakan seminar nasional dengan tema “Tinjauan Etis Tentang Penyelesaian Kasus Tahun 1965.”

Seminar yang berlangsung di Aula St Thomas Aquinas Ledalero pada Sabtu (19/9/2015) itu menghadirkan Pastor Franz Magnis Suseno SJ, Guru Besar dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan Pastor John Mansford Prior SVD dari STFK Ledalero sebagai pembicara.

Peserta antara lain dari seluruh civitas akademika STFK Ledalero, aktivis LSM, biarawan/ti, aktivis Gerakan Mahansiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sikka, utusan dari Kampus Universitas Nusa Nipa (Unipa)-Maumere dan beberapa organisasi pejuang HAM lainnya.

Pastor Otto Gusti Madung, Pembantu Ketua I STFK Ledalero yang membuka rangkaian seminar mengatakan, kegiatan itu bertujuan memaknai momen 50 tahun peristiwa pembantaian massal 1965 yang memakan korban tidak kurang dari 500 ribu orang di seluruh Indonesia, termasuk di daerah Flores.

Seminar itu, kata dia, tidak bermaksud untuk mempolitisasi tragedi tahun 1965 tetapi untuk mencari kebenaran terkait peristiwa itu dengan berdialog bersama.

“Kita harus menoleh ke belakang, melihat dan menerima kekerasan yang telah terjadi pada masa lalu itu,” katanya.

“Setelah 50 tahun peristiwa ini, bangsa Indonesia harus berani menguak kebenaran itu, meskipun itu mungkin menyakitkan. Sebuah bangsa hanya bisa memiliki masa depan kalau dia berani mengungkap kebenaran termasuk kebenaran yang menyatakan bahwa dia pernah terlibat di dalam (peristiwa pembantaian massal) itu,” lanjut dosen lulusan Jerman ini.

Ia menegaskan, sebagai komunitas akademik, STFK Ledalero mau menggali sejarah secara ilmiah di balik peristiwa itu untuk mencari kebenaran.

Hal ini, menurut dia, sejalan dengan agenda rekonsiliasi yang digaas oleh Presiden Joko Widodo, di mana ia membentuk komisi rekonsiliasi yang dipimpin Jaksa Agung RI HM Prasetyo untuk menangani tujuh kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terberat di masa lampau dan salah satunya adalah peristiwa pembantaian tahun 1965.

Sebelum rekonsiliasi itu dilakukan, kata dia, maka mencari kebenaran terkait peristiwa itu menjadi hal yang sangat penting.

Seminar ini dipadukan dengan peluncuran buku Kisah Pengembaraan Ibarruri Putri Alam (Anak D. N. Aidit), yang diterbiitkan oleh Penerbit Ledalero.

Buku ini berisi catatan harian Ibarruri sebagai anak seorang pimpinan PKI yang harus hidup di luar Indonesia sejak usia 16 tahun.

Pastor Juan Orong SVD dari Penerbit Ledalero mengatakan, menerbitkan buku-buku sejarah yang menyimpan kebenaran yang harus diungkap merupakan salah satu misi dari Penerbit Ledalero.

Menurut dosen Bahasa dan Sastra STFK Ledalero ini, “Penerbit Ledalero menerbitkan buku sejarah ini bukan karena penerbit mendukung partai komunis, tetapi untuk menguak kebenaran secara kritis akademik.”

Seminar ini dimeriahkan oleh STFK Voice dan Accustic All Ledalero serta pemajangan hasil karya lukis mahasiswa STFK Ledalero.

Informasi yang dihimpun Floresa.co, sebelum seminar itu diselenggarakan, dari pihak pemerintah ada permintaan agar seminar itu dilakukan secara tertutup, di mana peserta dibatasi dari kalangan STFK Ledalero saja.

Mereka beralasan, seminar itu akan berpotensi menuai konflik mengingat

Bahkan, Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera dilaporkan menghubungi Uskup Maumere Mgr Gerulfus Cherubim Parera SVD, untuk mendekati pihak STFK Ledalero.

Uskup kemudian mengirim utusan untuk memberitahu hal itu kepada pihak STFK Ledalero.

Mereka beralasan, seminar itu akan berpotensi menuai konflik mengingat masih ada perlaku dan korban dalam kasus pembantaian massal itu yang masih hidup, termasuk di daerah Sikka.

Namun, Pastor Otto Gusti selaku penanggungjawab seminar itu menolak permintaan tersebut, dan menegaskan, mendiskusikan masalah pembantaian massal pada 1965 adalah bagian dari upaya mencari kebenaran, hal yang merupakan bagian penting dari proses menuju rekonsiliasi. (Fr Anker Datho SVD/Ari D/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini