Menilik Sejarah Berdirinya Seminari Kisol

0
1176

Seminari kisol 2Floresa.co – Hari ini, Selasa, 8 September menjadi hari istimewa bagi lembaga pendidikan Seminari Pius XII Kisol (Sanpio), Manggarai Timur – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena memasuki usianya yang ke-60 tahun.

Para pendidik, siswa dan orang tua mereka, karyawan-karyawati serta alumni merayakan acara ini di Kisol, dalam sebuah Misa syukur. Ini merupakan puncak dari rangkaian acara yang dimulai pada Minggu (7/9/2015) lalu.

Tentu, penting untuk mengenal seperti apa sebenarnya cikal bakal dan proses pendirian Sanpio 60 tahun yang lalu, siapa saja figur yang memainkan peran penting dalam pembangunan sekolah pendidikan calon imam itu.

Floresa.co menghadirkan catatan sejarah berikut, yang disadur dari artikel Romo Maxi Haber Pr dalam “Buku Panorama Seminari Kisol 40 Tahun.”

Awal Mula

Pada 8 Maret 1951, Vikariat Apostolik Ruteng berdiri sendiri. Statistik Dr Herman Embuiru SVD menunjuk angka 158.985 sebagai jumlah umat Katolik pada Vikariat Apostolik Ruteng.

Tidak lama setelah itu, Pastor Wilhelmus van Bekkum SVD ditahbiskan sebagai Uskup Vikariat Apostolik Ruteng.

Saat itu, di dua Vikariat Apostolik di Pulau Flores, yakni Vikariat Apostolik Ende dan Vikariat Apostolik Larantuka sudah memiliki lembaga pendidikan calon imam pribumi.

Di Vikariat Apostolika Ende ada Seminari Menengah Johanes Berchmas Mataloko yang resmi berdiri pada 15 September 1929. Dan, di Vikariat Apostolik Larantuka, sudah ada Seminari Menengah San Dominggo Hokeng yang resmi berdiri pada 15 Agustus 1950.

Lantas, Qou Vadis seminari menengah di Vikariat Apostolik Ruteng?

Rupanya kendala utama yang merintangi hasrat dan kerinduan itu adalah soal tempat yang cocok untuk mendirikan sebuah seminari. Dan, tempat tersebut harus diperoleh dengan perjuangan gigih.

Titik Terang

Pastor Juray Vojenciak SVD yang bertugas di wilayah Manus yang kemudian sangat berjasa dalam menemukan tempat tersebut.

Kala itu, ketua adat dari Rende-Manus dan dari Watunggong-Ronggakoe secara tulus dan ikhlas di hadapan para saksi dari tingkat Kedaluan Manus dan Ronggkoe menyatakan setuju agar seminari dibuka di Kisol.

Mereka menyerahkan sebidang tanah yang terletak di jalan raya Flores (jalan negara) kurang lebih 10 km arah timur dari Borong.

Tanah itu diserahkan kepada pihak Gereja di Ruteng yang diwakili Bapak Z. Jaik, G. Tandang, R. Garung. Th. Mandaru, Pastor Vojenciak, SVD serta Bapak Gabriel Tjangkung.

Penyerahan tanah ini disahkan oleh Kerajaan Manggarai waktu itu, oleh Raja Charolus Ngambut. Sementara yang mewakili Gereja Katolik Manggarai adalah Mgr Wilhelmus van Bekkum SVD yang menjabat sebagai Vikariat Kapitularis Ruteng.

Tanah yang masih berupa hutan kayu belukar dan pohon-pohon berduri itu terletak persis di kaki Poco Lando dan dilingkari kali Wae Pake dan Wae Korok.

Rabu 23 Mei 1951, tanah itu resmi menjadi disebut sebagai ”seminari”, tepat 10 hari sesudah Pastor Wilhelmus van Bekum SVD ditahbiskan sebagai Uskup Vikariat Apostolik Ruteng. Sebuah cindera mata abadi dari umat untuk uskupnya yang baru.

Pembangunan Dimulai

Tnah telah diperoleh. Ia harus diolah agar layak huni. Maka, semak beluar mulai dirambah. Pohon-pohon duri dibabat.

Br Odulfus SVD dan Br Adrianus SVD bersama karyawannya dari Mataloko amat berjasa menjadikan tempat semak belukar berduri tersebut sebagai kebun pertanian yang kaya.

Sementara itu bangunan-bangunan darurat untuk seminari mulai dibangun. Br Marcelinus SVD bersama tuang-tukangnya mulai bekerja keras.

Kerja tersebut kemudian dilanjutkan oleh Pastor Nico Bot SVD bersama korps tukangnya dari Kolang/Ndoso.

Hasilnya; sebuah ruangan tidur untuk siswa, dua buah bilik untuk pengajar, sebuah ruangan makan untuk siswa, sebuah ruangan makan untuk pastor, sebuah gudang dan sebuah kapela. Semuanya serba darurat.

Tanggal 7 Mei 1955, diadakan upacara peletakkan batu pertama pembangunan Seminari Kisol oleh Mgr Wilhelmus van Bekkum.

Sehari sebelumnya, ribuan umat membanjiri Kisol. Mereka datang dari mana-mana menempuh berjam-jam perjalanan kaki seperti dari Mukun, Wano, Koit, Rehes, Waerana, Mok, Lete, Paundoa, Gulung, Sita dan Kisol sendiri.

Konon terdapat 2000 umat yang hadir. Selain itu, saat itu hadir juga Wakil Rektor dari Seminari Mataloko Pastor T. Verhoeven SVD, Ketua Yayasan SUKMA Pastor Goris Menteiro SVD.

Juga ada P. J Vojenciak SVD, Pastor Rene Daem Pr, Pastor Tosef Krecmar SVD dan trio bruder “bulldozer” pembangunan (Br. Andrianus, SVD, Br. Odulfus, SVD dan Br. Marcellus, SVD), para tuan tanah dan keluarga mereka dari Watunggong-Ronggakoe dan Rende-Manus, Kepala-Kepala Hamente beserta pegawainya (Kepala Hamente Ronggakoe, Kepala Haminte Manus, Kepala Hamente Riwu, dan Kepala Hamente Sita).

Pada upacara tersebut diumumkan secara resmi nama SEMINARI PIUS XII KISOL dengan pelindung St. Petrus, Paus Pertama.

Angkatan Pertama

Tepat tiga bulan kemudian, pada tanggal 7 September 1955, tiba di Kisol siswa-siswa angkatan pertama. Semuanya berjumlah 30 orang.

Keesokan harinya, 8 September 1955, seminari secara resmi dibuka dalam keadaan fasilitas serba darurat dan belum lengkap.

Bangunan pertama belum rampung, belum ada jendela dan lantai semen, penerangan listrik dan air leding, serta kursi dan meja memadai.

Bertindak selaku rektor pertama adalah Pastor Leo Perik SVD dan dibantu oleh seorang Prefek Pastor Gregorius Monteiro SVD.

Tiga orang dari 30 angkatan pertama kemudian ditabhiskan menjadi imam, bahkan seorang dari “the three Musketeers” itu kemudian ditabhiskan sebagai uskup.

Mereka adalah Romo Mikael Wangku Pr, Pater Aleks Ganggu SVD dan Mgr. Eduardus Sangsung SVD.

Saat baru berusia dua minggu, seminari baru ini mendapat kehormatan dikunjungi Menteri Ekonomi Republik Indonesia, I.J. Kasimo pada tanggal 19 September 1955. Suatu pratanda baik.

Tahun berikutnya, pada tanggal 29 Juni 1956, giliran Dubes Vatikan Mgr. Enrichi bermalam di Kisol. Dari keadaan serba darurat dan belum lengkap, perlahan-lahan bangunan seminari dibenah dan dilengapi satu persatu. Agustus 1956, air ledeng masuk seminari, menyusul kemudian penerangan listrik pada bulan Oktober 1957.

Bersamaan dengan tibanya Br Arnoldus SVD pada bulan Desember 1957, pembangunan kompleks seminari yang baru dimulai.

Rencana pembangunannya disusun berdasarkan pengalaman-pengalaman dari seminari-seminari lain dan dengan perhitungan yang sangat rasional sambil mempertimbangkan pengembangannya di masa yang akan datang.

Rencana tersebut dilaksanakan oleh Br Arnoldus SVD beserta tukang-tukangnya, namun “auctor intellectulis”-nya adalah Pastor Leo Perik SVD sendiri.

Tiga tahun kemudian, pada bulan April 1960, seminari berpindah ke gedung yang baru tersebut. Pembangunan terus berlanjut hingga bulan Agustus 1963 SMA Seminari mulai di Kisol dan tak perlu lagi mengirimkan siswa-siswa tamatan SMP-nya ke Seminari Mataloko.

Bahkan pada tahun 1968, SMA Seminari Kisol boleh mengirimkan calon-calonnya fraternya ke Seminari Tinggi. (Evan Lahur/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini