Ilustrasi
Ilustrasi

Ibu

/a/
Di depan kerdip lilin kembar
Ibu sendiri. Terjaga di atas amsal-amsal suci
Kata demi kata ia kunyah halus-halus
Sudah itu diteguknya lekas-lekas
Satu teguk, dua teguk, tiga teguk
Di ujung suatu lenguhan nafasnya
Tergema suara tegukan ini:
“Damai…damai..damai…”

/b/
Setelah jeda dari tengadah ibu melangkah
Di pinggir telapak kakinya yang lusuh
Terhampar kredo

Yang kita imani sejak kelahiran:
“Aku percaya akan surga yang bertakhta di sini”

Dan dalam nafas tersengal lemah aku tersedu:
“Ibu…ibu…ibu! Dalam hening sepi kurindu!”

 

Ujud

Di sebuah malam yang tidur
Kubentangkan nama-Mu
Di serambi doa yang jengah

Tinggal sepi gemuruh sendiri
Di kamar itu.

Panas api di pembakaran
yang leburkan tembaga, besi, dan timah
tak ‘kan sanggup lelehkan cintaku
pada-Mu

Seperti sunyi bulan madu
yang tumbuhkan tunas-tunas kasih
demikian hadir bayang-Mu
tumbuhkan tunas-tunas asa
akan pengampunan-Mu
Tuhan.


Joan Udu, seorang calon imam Fransiskan, kini sedang kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Pada tahun 2011-2012 menjadi Ketua Komunitas Sastra Ampas Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Manggarau Barat. Antologi puisi yang pernah diterbitkan  berjudul“Rindu di Ujung Senja”