Puisi-puisi Joan Udu

0
408
Ilustrasi
Ilustrasi

Ibu

/a/
Di depan kerdip lilin kembar
Ibu sendiri. Terjaga di atas amsal-amsal suci
Kata demi kata ia kunyah halus-halus
Sudah itu diteguknya lekas-lekas
Satu teguk, dua teguk, tiga teguk
Di ujung suatu lenguhan nafasnya
Tergema suara tegukan ini:
“Damai…damai..damai…”

/b/
Setelah jeda dari tengadah ibu melangkah
Di pinggir telapak kakinya yang lusuh
Terhampar kredo

Yang kita imani sejak kelahiran:
“Aku percaya akan surga yang bertakhta di sini”

Dan dalam nafas tersengal lemah aku tersedu:
“Ibu…ibu…ibu! Dalam hening sepi kurindu!”

 

Ujud

Di sebuah malam yang tidur
Kubentangkan nama-Mu
Di serambi doa yang jengah

Tinggal sepi gemuruh sendiri
Di kamar itu.

Panas api di pembakaran
yang leburkan tembaga, besi, dan timah
tak ‘kan sanggup lelehkan cintaku
pada-Mu

Seperti sunyi bulan madu
yang tumbuhkan tunas-tunas kasih
demikian hadir bayang-Mu
tumbuhkan tunas-tunas asa
akan pengampunan-Mu
Tuhan.


Joan Udu, seorang calon imam Fransiskan, kini sedang kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Pada tahun 2011-2012 menjadi Ketua Komunitas Sastra Ampas Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Manggarau Barat. Antologi puisi yang pernah diterbitkan  berjudul“Rindu di Ujung Senja”

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini