Bupati Rotok : Perawatan Stadion Golo Dukal Belum Jadi Prioritas

3
918
Tampak depan Stadion Golo Dukal di Ruteng (Evan Lahur/Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Stadion Golo Dukal di selatan kota Ruteng, Manggarai, Flores, saat ini kondisinya tak terawat. Dibangun dengan anggran sekitar Rp 11 miliar pada era pemerintahan Bupati Antony Bagul Dagur (2000-2005), saat ini stadion tersebut tak lagi digunakan untuk kegiatan olaraga.

Bupati Manggarai Christian Rotok mengatakan perawatan stadion dengan kapasitas 10.000 penonton itu belum menjadi agenda prioritas pemerintah Kabupaten Manggarai.

“Butuh biaya yang cukup besar (untuk perawatan), belum prioritas,”ujar Rotok saat dihubungi Floresa.co, Selasa (18/8/2015).

BACA Juga : REPORTASE : 70 Tahun Indonesia Merdeka, Stadion Golo Dukal, Nasibmu Kini

Bupati Manggarai sejak 2005 ini mengatakan meski tak terawat, stadion tersebut tidak mubazir. “Stadion itu tidak digunakan setiap saat. Kapan ada event saja, tidak mubazir,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olaraga (PPO) Kabupaten Manggarai, Adi Empang.

“Memang (perawatan) stadion itu kan biayanya besar. Kalau hanya ratusan juta untuk biaya pemeliharaan saya rasa tidak efektif juga, kecuali kalau dialokasikan dana dalam jumlah yang besar sehingga bisa menyelesaikan berbagai hal yang ada di dalamnya,”ujar Adi.

Misalnya, kata dia, di dalamnya lapangannya sudah banyak batu krikil. Untuk bisa ditanami rumput yang baik,maka butuh dana yang tidak sedikit. (Petrus D/PTD/Floresa)

Advertisement

3 Komentar

  1. Sangat disayangkan, stadion golodukal tidak dipakai sebagaimana semestinya. Bahkan beberapa kali dipakai untuk pembalaban motor. Ironis bukan? Saya tidak mempersoalkan bahwa anggaran tidak ada. Mengapa pada saat awal berdirinya stadion itu tidak dipikirkan juga biaya perawatannya? Pembangunan apa saja, harus diantisipasi biaya perawatan. Kalau biaya dari APBD tidak ada, kenapa tidak dicari alternatif lain? Beberapa waktu lalu, saya sempat libur di Ruteng, ada Klub bola kaki yg jalankan aktivitasnya di lapangan di Karot. Pertanyaan saya, kenapa tidak disewakan pada Klub2 di Ruteng sekitarnya, dipungut biaya. Lalu dari biaya itu bisa dipakai untuk perawatan? Bola kaki atau olah raga apa saja, semestinya dipakai sebagai jembatan kultural, bukan hanya sekedar event musiman. Kapan kita beri pendidikan alternatif seperti sekolah bola kaki, sehingga anak2 di daerah di Manggarai bisa melihat bola kaki sebagai profesi untuk masa depan. Kenapa tidak?

  2. Keadaan perawatan Stadion Golodukal memang ironis. Beberapa tahun lalu di Stadion tersebut biasanya disiagakan para pengaman/security yang bekerja siang-malam, tetapi sekarang Stadion Golodukal tidak lagi diperhatikan sama sekali. Selain itu, hampir setahun Stadion Golododukal TIDAK LAGI DIFUNGSIKAN LAGI SEBAGAI ARENA OLAHRAGA BOLA KAKI tetapi TELAH MENJADI ARENA MOTOR GRASSTRACK. Menjadi arena balap motor grasstrack berarti stadion “dirusakkan” dalam bentuk tumpukan-tumpukan tanah plus krikil sana-sini. Sekarang, kalau kita pergi ke stadion, lapangan telah berubah menjadi arena motor grasstrack. Ini sudah satu tahun lebih terjadi. Pemerintah tidak lagi mau urus. Sampai-sampai ada isu menyebar bahwa saingan para pemimpin daerah menyebabkan infrastruktur daerah tersebut sengajja tidak dirawat karena itu merupakan ‘megaproyek’ dari pemimpin yang lain karena jika dirawat yang diingat jasanya adalah pemerintah yang membangunnya. Jika benar demikian, mau dibawa ke manakah Manggarai kita tercinta? Yang lebih MENYEDIHKAN ktika ada tersebar kabar bahwa ada rencana Stadion Golodukal akan diubah menjadi Arena Balap Motor Grasstrack. Inikah yang namanya pemerintah kita, yang tidak mengharagai karya ‘mahal’ uang rakyat? Sayang seribu sayang…!!!

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini