Pentas Teater “Tanah Air Beta”, Penonton Marah

0
2311
Sandera utama gantung di tiang

Floresa. co-Pada malam puncak Festival Pede, pentas teater “Tanah Air Beta” tidak hanya berhasil memukau ratusan warga Labuan Bajo, tetapi ada juga penonton yang marah.

Suara gemuruh penonton yang histeris karena tampilan band-band lokal sebelumnya lenyap seketika saat seorang digantung di tiang bendera berteriak histeris.

“Negeri para kaum lapar, selalu melahirkan orang-orang besar berjiwa serigala” teriaknya.

Ia berhasil mencuri perhatian penonton. Tanpa diperintah, semua penonton mendekat dan mengintari tiang bendera yang terletak di pusat alun-alun Festival Pede.

Di bawah bendera merah putih yang berkibar, salah seorang dililit tali. Ia tak mengenakan baju. Hanya sebuah kain merah yang meliliti seputar pinggangnya.Ia meronta-ronta sambil membacakan narasi dengan dinamika suara yang kadang lembut, keras, datar, berbisik hingga menghilang.

Bukan hanya dia yang meronta-ronta. Di ujung tali yang terikat dengan tiang bendera, salah seorang yang bertelanjang dada tak kalah meronta-rontanya di tanah. Ia berusaha melepaskan diri, namun sebuah tali besar membelenggunya. Ia hanya bisa merebahkan diri di atas tanah, berguling-guling, dan berlutut menatap langit gelap. Tebaran debu pun laksana kepulan asap.

Sementara itu, di keempat sudut masih ada empat orang yang terpenjara. Mereka meronta-ronta dalam kadang bambu yang mengintari tiang utama. Mereka tak pernah diam, berusaha sekuat tenaga keluar dari penjara, meraung-raung laksana suara serigala kelaparan.

Ketika “sandera” yang terikat di tiang utama berteriak, “Dimana ada umbi kayu, di sana ada pesta pora. Dimana ada ketidakpastian hukum, di sana ada penipuan dan dusta”, para “sandera” kian meronta-ronta. Mereka jungkir-balik dalam penjara bambu.

Tiba-tiba, satu sandera bisa membongkar ikatan penjara bambu. Melihat yang satu berhasil mengoyakkan bambu, yang lain tak mau kalah. Mereka berhasil. Satu per satu ikatan antara potongan bambu berukuran satu meter tersebut terlepas. Mereka bebas.

Mereka berlari mengelilingi tiang utama, melempar potongan bambu kesana-kemari. Mereka mengamuk laksana kerbau liar. Ekspresi suka cita terus menggelora.

“Jika aku membayangkan semua itu, aku menjadi haru” ujar sandera utama dengan suara lembut. Begitu suaranya mengecil, lagu berjudul “Tanah Air Beta” perlahan bergaung.

Di situlah, penonton bertepuk tangan meriah. Namun, tiba-tiba dari kerumunan penonton, salah seorang berteriak, “Pantai Pede milik kita. Jangan lepas!”. (Gregorius/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini