Seminar Budaya Manggarai Ramaikan TMII

0
566
????????????????????????????????????
Para Pembicara dalam Seminar Budaya Manggarai di TMII (Foto: Floresa.co)

Floresa.co- Masyarakat Manggarai se-Jabodetabek memadati Anjungan Nusa Tenggara Tenggara Timur (NTT) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, sepanjang Sabtu, 15 Agustus 2015. Mereka antusias menghadiri misa dan seminar tentang kebudayaan Manggarai yang diselenggarakan oleh Sanggar Ca Nai Jakarta.

Rangkaian kegiatan yang bertema “Neka Okes Kuni Agu Kalo” ini diawali dengan misa berbahasa Manggara,  dipimpin Pater Peter Aman OFM dan didampingi Pater Darmin Mbula OFM.

“Kita adalah sungguh-sungguh orang Manggarai bila kita menghargai hidup. Mulai dari menghargai anak rona. Anak Rona itu ata teing, widang mose,” kata Pater Peter dalam kotbahnya.

Kita, kata Pater Peter, hendaknya menghormati ibu dengan sunggguh-sungguh. Tanah adalah juga ibu kita sehingga harus dihormati pula. Untuk para pemimpin, hendaknya jangan melupakan rakyat yang dipimpin.

Pantauan Floresa.co, semua umat yang hadir memakai busana bernuansa adat Manggarai dan mengikuti misa dengan khidmat.

Selepas misa, hadirin disuguhi makanan-makanan tradisional Manggarai seperti latung kokor (jagung rebus), tete (ubi), koja (kacang tanah), dam  muku (pisang).

Prihatin dengan Kondisi Manggarai

Dalam sesi seminar, para pembicara kompak mengungkapkan keprihatinan terhadap kondisi Manggarai Raya sebagai kuni agu kalo-nya

Profesor Robert Lawang yang tampil sebagai pembicara pertama mengatakan ketahanan pangan Manggarai mencemaskan. “Petani kita tidak memiliki prospek,”tandas  sosiolog dari Universitas Indonesia (UI).

Menurut Robert, dirinya bersama tim dari UI sedang melakukan proyek percontohan pertanian di daerah Pinis Manggarai. “Namun, sayangnya, kita orang Manggarai ini sulit sekali untuk meniru,”ungkapnya.

Kita, lanjutnya, lebih suka meniru hal-hal yang berbau “modern” seperti Handphone merek baru, gaya berpakaian ala kota. “Kolektivitas kita sudah terkikis karena individualisme semakin menguat,”ujarnya.

Pater Peter Aman mengatakan tanah Manggarai itu kaya tetapi banyak orang yang merantau. Orang-orang dari luar bisa hidup bahkan lebih dari berkecukupan di Manggarai  kita lebih memilih ke Malaysia.

No tae, ngo long ata lonto, mai lonto ata long,” katanya.

Selain itu, Direktur JPIC OFM ini mengungkapkan keprihatinannya soal kehidupan Gereja di Manggarai. Menurutnya, Gereja seperti kehilangan misi profetisnya. “Imam kita banyak, tapi nabi sedikit,”tandasnya.

Pater Darmin Mbula OFM menandaskan hal yang senada terutama kondisi dunia pendidikan Manggarai yang tidak berbasis budaya. “Lucunya, bahasa Inggris itu dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal,”ungkapnya.

Sekolah-sekolah Katolik seperti seminari, kata dia, terkena imbas kapitalisme sehingga biaya sekolah sangat mahal. “Bagaimana orang miskin mau masuk dan mendapatkan pendidikan yang baik?” ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik Boni Hargens mengatakan bahwa Manggarai dikuasai oleh segelintir poti wolo, bos-bos, yang mengendalikan dinamika kehidupan sosial, ekonomi politik Manggarai.

“Sekalipun kita berganti pemimpin, sepanjang bos-bos ini ada, Manggarai akan seperti saat ini”katanya.

Karena itu, menjelang pilkada seperti saat ini, menurutnya, penting untuk disadari apakah kandidat kelak mampu berpihak pada rakyat, bukan mempersoalkan atau memilih calon berdasarkan asalnya.

Petunjuk bahwa Manggarai itu kaya dijelaskan juga oleh Frans Borgias M, seorang teolog awam. Menurutnya, Dere Serani merupakan ungkapan kekayaan itu.

“Syair-syair dalam dere serani lahir  kekayaan iman orang Manggarai,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, misa dan seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara pertunjukan Caci di tempat yang sama pada Minggu (16/8/2015).

Bertindak sebagai meka landang (tamu undangan) adalah warga Manggarai diaspora yang tinggal di Kalimantan Timur. Sedangkan pihak tuan rumah adalah warga Manggarai diaspora yang tinggal di Kalimalang, Cijantung dan Kedoya.

Acara caci dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Selanjutnya pada sore hari, akan ada pementasan tarian Pasola dari Pulau Sumba.

Alwino, salah satu anggota panitia mengatakan acara pentas budaya ini dibuat sebagai bentuk upaya revitalisasi budaya atau menghidupkan kembali nilai-nilai dan kearifan lokal Manggarai.

“Kita tidak mau nilai-nilai budaya Manggarai itu tergerus globalisasi,”kata alumnus STF Ledalero dan STF Driyarkara ini.(Armand Suparman/ARS/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini