Sejarah Kekuasaan di Manggarai Raya, dari Perang Todo vs Cibal, Hingga Pilkada Langsung

10
12956
Rumah Adat Manggarai
Rumah Adat Manggarai
Rumah Adat Manggarai

Floresa.co – Tahun 2015, menjadi momentum penting bagi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat. Bersama sejumlah daerah lain di Indonesia, dua kabupaten yang merupakan bagian dari Manggarai Raya ini, akan menggelar pemilihan kepala daerah.

Itu artinya, dua kabupaten yang terletak di Pulau Flores, NTT ini tidak lama lagi akan memiliki pemimpin baru. Bupati terpilih itulah yang akan meneruskan tongkat estafet kepemipinan di dua kabupaten itu.

Manggarai dan Manggarai Barat serta Manggarai Timur, dulunya merupakan satu kabupaten. Namun, jauh sebelum menjadi sebuah kabupaten, ketiga daerah yang dulunya hanya bernama Manggarai ini, sudah memiliki sejarah panjang tentang perebutan pengaruh dan kekuasaan.

Sebelum Belanda menguasai Manggarai pada 1908, ada sejumlah kerajaan kecil berdaulat di Mangggarai. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Lamba, Cibal, Welak, Todo-Pongkor dan Bajo.

Diantara kerjaan-kerajaan itu, kerajaan Cibal atau Nggaeng Cibal dan Adak Todo pernah terlibat dalam beberapa kali pertempuran dalam rangka memperluas teritori kekuasaan.

Pertempuran pertama antara Cibal dan Todo adalah pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot. Pertempuran ini dimenanagkan Cibal. Perang Rongot ini melahirkan perang-perang berikutnya, yaitu Perang Weol I dan Weol II.

Pada perang Weol I, kemangan masih ada pada pihak Cibal. Tetapi pada perang Weol II dimenangkan oleh Todo sehingga batas kerajaan adak Todo bukan lagi sampai di Wae Ras dekat Cancar, tetapi sampai jauh ke dekat Beo Kina (Rahong Utara).

Kemudian, perang berikut adalah perang Bea Loli di Cibal. Pada perang Bea Loli, Cibal kembali kalah. Sehingga menurut cerita Watu Cibal dibawah ke Todo.

Setelah itu, Todo-Pongkor memperluas wilayah ke arah timur di Borong. Maka, terjadilah perang Adak Tana Dena. Akibat perang Adak Tanah Dena ini, batas Todo-Pongkor meluas hingga Watu Jaji.

Pada saat Todo-Pongkor konsentrasi mengikuti perang Adak Tanah Dena, pasukan Nggaeng Cibal melancarkan serangan ke pusat kekuasaan Todo-Pongkor. Saat itu, terjadi pembakaran rumah adat Todo, yang disebut tapa niang dangka,poka niang wowang.

Konon, niang dangka saat itu tak bisa dibakar. Pasukan dari Nggaeng Cibal kemudian memperdayai seorang perempuan tua yang namanya Kembang Emas saudari dari Kraeng Mashur Nera Beang Lehang Tana Bombang Palapa untuk mengetahui mengapa niang dangka tidak bisa dibakar.

Perempuan tersebut kemudian memberti tahu niang dangka bisa dibakar bila bisa mengambil jimat yang ada dibubungannya. Pasukan dari Cibal pun mengambil jimat di atas bubungan.

Lalu, kemudian baru bisa membakar niang dangka tersebut. Sayangnya, mereka juga membakar perempuan yang memberitahu keberadaan jimat itu. Pasukan Cibal berusaha mengembalikan Watu Cibal yang dicaplok pada perang Weol II, namun tak bisa diangkat. Sampai sekarang Watu Todo dan Watu Cibal tertancap bersanding di kampung Todo.

Tahun 1907 Belanda masuk ke Manggarai dan hendak mendirikan pusat kekuasaan sipil di Todo. Namun, karena topografinya yang kurang baik, lalu pindah ke Puni, Ruteng. Secara resmi Belanda menaklukan Manggarai pada 1908.

Ketika Belanda mulai menguasai Manggarai, Raja Todo (1914-2924) yaitu Kraeng Tamur dipindahkan ke Puni.

Dalam perjalanan sejarahnya, Belanda melihat Manggarai yang meliputi Wae Mokel awon (batas timur) dan Selat Sape salen (batas barat) adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada lagi Cibal, tidak ada lagi Todo, tidak ada lagi Bajo, maka disebutlah Manggarai.

Karena itulah, pada tahun 1925, melalui suatu surat keputusan dari Belanda, Manggarai menjadi suatu kerajaan dan diangkatlah orang Todo-Pongkor menjadi raja pertama yaitu Raja Bagung dari Pongkor.

Kerajaan Manggarai bentukan Belanda ini terdiri atas 38 kedaluan. Bersamaan dengan diangkatnya Raja Bagung, Belanda juga menyekolahkan Kraeng Alexander Baruk ke Manado.

Alexander Baruk adalah anak dari Kraeng Tamur, raja Todo. Tahun 1931/1932, Alexander Baruk kemabli dari sekolahnya. Lalu, kemudian diangkat menjadi raja Manggarai. Namun, karena raja Bagung masih hidup, maka keduanya tetap raja. Raja Bagung sebagai “raja bicara” sedangkan yang mengambil keputusan adalah Raja Baruk. Sehingga dulu ada istilah putus le Kraeng Wunut, bete le kraeng Belek.

Kekuasaan keduanya berakhir saat keduanya meninggal dunia. Raja Bagung meninggal 1947. Sedangkan, Raja Baruk meninggal 1949. Kemudian, keduanya diganti oleh Kraeng Langkas atau Kraeng Constantinus Ngambut, juga dari Todo, menjadi raja hingga 1958.

Saat Manggaria menjadi daerah swaparaja, Kraeng Ngambut masih memimpin Manggarai sebagai kepala daerah hingga 1960.

Tahun 1960 itu juga kemudian dipilih bupati pertama Manggarai yaitu Charolus Hamboer dan memimpin hingga 1967.

Setelah bupati Hambur, kemudian diganti oleh Bupati Frans Sales Lega. Bupati Lega memimpin sampai 1978. Setelah itu, 1978-1988, Manggarai dipimpimpin Bupati Frans Dula Burhan. Lalu, 1988-1999, dipimpin Gaspar Parang Ehok.

Pada masa transisi 1999-2000, Manggarai dipimpin oleh bupati sementara Daniel Woda Pale. Di era reformasi, bupati pertama yang memimpin adalah Antony Bagul Dagur yang memimpin Manggarai dari tahun 2000 hingga 2005.

Tahun 2005 diangkat bupati sementara Wilem Nope sebelum adanya bupati definitif hasil pemilihan kepala daerah secara langsung.

Pilkada langsung pertama di Manggarai berhasil dimenangkan pasangan Christian Rotok-Deno Kamelus. Pasangan dengan sebutan Credo ini, kembali terpilih pada pilkada langusng 2010. Kedunya memimpin Manggarai hingga September 2015 ini.

Pada tahun 2003, ada pembentukan kabupaten Manggarai Barat sebagai pemekaran dari Manggarai. Bupati sementara yang ditunjuk memimpin Manggarai Barat dari 2003-2005 adalah Fidelis Pranda.

Pada pilkada langsung 2005, Fidelis Pranda yang berpasangan dengan Agustinsu Ch Dula berhasil menjadi bupati dan wakil bupati hingga 2010.

Pasangan ini pecah kongsi pada pilkada 2010. Agustinus Ch Dula yang berpasangan dengan Maximus Gasa berhasil memenanagkan pertarungan dalam satu putaran. Kedunya pun memimpin Manggarai Barat hingga September 2015.

Tahun 2007, terbentuk juga Kabupaten Manggarai Timur, hasil pemekaran dari Manggarai. Bupati sementara yang diangkat untuk memimpin Manggarai Timur tahun 2007-2008 adalah Frans Padju Leok.

Tahun 2008, berlangsung pilkada pertama untuk Manggarai Timur dan berhasil dimenangkan oleh Yosep Tote yang berpasangan dengan Andreas Agas. Pada Pilkada 2013, pasangan dengan sebutan Yoga ini kembali terpilih untuk pimpin Manggarai Timur hingga 2018. (Petrus D/PTD/Floresa).

Artikel ini disarikan dari berbagai diskusi dan cerita dengan sejumlah narasumber yang dihubungi  Floresa.co.

Advertisement

10 Komentar

  1. Topik tendensius, dan itulahmanggarai,sampe sekarang sulit dibuktikan sebagai monarki, raja turun temurun, tp diangkat belanda..jadi sebetulnya org yg dimusuhi belandalah yang kurang beruntung dari cerita bodong diatas

  2. Topik tendensius, dan itulahmanggarai,sampe sekarang sulit dibuktikan sebagai monarki, raja turun tdk temurun, tp diangkat belanda..jadi sebetulnya org yg dimusuhi belandalah yang kurang beruntung dari cerita bodong diatas

  3. Bom pande misa ARWAH latang ise empo situ danong. Nuk ru gaku, dia ko daat tentu manga tyujuan pande dise danong. Woko nuk agu mesen tana manggarai sapen sale wae mokell awon.

  4. secuil sejarah daerah sendiri adalah jauh lebih penting daripada sejarah daerah lain, namun karena keterbatasan sumber (baik sengaja ataupun tak sengaja) telah di design di dalam bentuk kurikulum pendidikan indonesia, alhasil? kita di indonesia timur lebih paham sejarah jawa daripada sejarah daerah sendiri.
    semoga dengan otonomi daerah, pemerintah daerah harus bisa memikirkan hal ini, agar sepésér APBD (atau apalah namanya) di anggarkan untuk menyéwa orang2 yang mampu untuk mengumpulkan data dan sumber sejarah daerah untuk di bukukan dan jikalau perlu di masukan kedalam kurikulum pendidkan dasar.
    …percaya atau tidak … untuk membuka arah menuju masa depan maka seorang paling kurang harus sedikit mengenal masa lalu … tak mungkin bisa menghasilkan ‘saung bembang nggari eta” tanpa “wake caler nggari wa” …ai boto mbeong peh lawa.. boleh jadi ata mbéot tapi tak perlu jadi “ata mbéong”
    semoga floresa.co tetap menyiarkan tajuk sejarah daerah tak peduli sekecil apapun alur ceritanya

  5. Semoga PILKADA MANGGARAI tidak identik dengan sejarah perang merebut kekuasaan antar wilayah manggarai tempo dulu; ini pesta demokrasi yang melibatkan partisipasi seluruh warga manggarai tanpa senjata, sungguh sangat extrim kalau Pilkada identik dengan perang melawan ataupun merebut kekuasaan, Pesta Rakyat dimana rakyat menentukan pilihan politiknya yang lahir dari hati nurani karena buat rakyat ‘ SIAPAPUN YANG TERPILIH ITULAH KITA, PEMIMPIN KITA, BUPATI KITA (dia tidak disebut Pemimpin/Bupati Cibal atau Todo) Bupati Kita, Pemimpin Kita Menuju Kesejahteraan Seluruh Rakyat Manggarai, Mari kita junjung tinggi hakikat dasar Demokrasi ‘ Satu Dalam Perbedaan, Beda Dalam Persatuan menuju MANGGARAI SATU DAN JAYA

  6. Terimakasihh utk infonyaa, ini sangat bermanfaat khususnya msyarakt manggarai dan lebih kepada anak2 remaja yang pengetahuan masih minim tentang sejarah adanya manggarai..

  7. Sy tdk stuju kalau sejarah manggarai dikaitkan dg PILKADA…justru krn saling mengaitkan antara pesta demokrasi dan sejarah manggrai akan menyebabkan perpecahan

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini