Pilkada Manggarai : Pertarungan Cibal versus Todo?

1
1700
Deno Kamelus dan Herybertus Nabit bersalaman dalam sebuah acara di kampung Taga Ruteng (Foto : Elvis Ontas)
Deno Kamelus dan Herybertus Nabit bersalaman dalam sebuah acara di kampung Taga Ruteng (Foto : Elvis Ontas)
Deno Kamelus dan Herybertus Nabit bersalaman dalam sebuah acara di kampung Taga Ruteng (Foto : Wily Gracias)

Ruteng, Floresa.co – Persaingan antara kandidat dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Manggarai, Flores, kian terasa panas. Berbagai isu berseliweran di masyarkat dan media sosial, yang mudah ditebak sebagai bagian dari perang urat saraf (psy war) untuk meraih simpati sekaligus menjatuhkan lawan.

Salah satu isu yang berkembang adalah pilkada Manggarai tahun ini sebagai pertarungan antara Cibal versus Todo. Maklum, dua kandidat kuat yang bertarung saat ini, yaitu Deno Kamelus dan Herybertus Geradus Laju Nabit, memiliki latar belakang asal-usul dari dua wilayah itu.

Tapi benarkah demikian?

Deno Kamelus lahir pada 2 Agustus 1959 di Rakas, sebuah kampung di bagian timur Cibal. Ibunda Kamelus berasal dari Rakas sedang ayahnya dari Dalo, Kecamatan Ruteng. Kamelus mengeyam pendidikan dasar di Rakas.

Sedangkan, Herybertus Geradus Laju Nabit, lahir di Ruteng, 2 Desember 1976. Ayah dari Hery Nabit yaitu Daniel Daeng Nabit lahir di Pagal, Cibal karena ayahnya yaitu Andreas Nabit tinggal di Pagal tetapi lahir di Todo.

Daniel  Daeng Nabit menikah (tungku) dengan Agnes Mboi dari Pongkor, bagian dari adak Todo, Satar Mese. Agnes Mboi adalah saudara perempuan dari Ben Mboi, mantan Gubernur NTT. Ayah dari Agnes dan Ben Mboi adalah Matias Mboi. Istri dari Matias Mboi bernama Yohana Kandung, adalah orang asli Cibal.

Melihat profil singkat asal-usul dua kandidat ini, sebenarnya tidak benar keduanya merupakan representasi dari Cibal atau Satar Mese saja.

Matias Mboi, salah satu tim sukses pasangan Herybertus GL Nabit-Adolfus Gabur mengatakan seharusnya momentum pilkada Manggarai ini tidak ada pengkotak-kotakan antara selatan dan utara atau Satar Mese (Todo Pongkor) dan Cibal.

“Kedua orang ini tidak representasi dari salah satu saja. Mereka representasi dari Kemanggaraian,”ujarnya kepada Floresa.co, Rabu (12/8/2015). (Petrus D/PTD/Floresa).

Advertisement

1 Komentar

  1. Kita sudah di abad 21. Isu primitif ini sebenarnya tidak menjadi tolok ukur sebuah pesta demokrasi. Ini bukan pesta suku. Pesta rakyat Indonesia yg berada di Manggarai. Pikiran dasar pesta ini adalah: ápa yang harus dibuat untuk lima tahun ke depan untuk kemajuan masyarakat di Manggarai. Manggarai bagian dari masyarakat nasional dan juga global. Manusia di abad ini sudah berkompetensi tentang bagaimana manusia menjadi lebih demokratis, human, toleransi, berpikir global, bertindak lokal. Artinya, memiliki pikiran luas berlandaskan nilai2 kemanusiaan dan mampu menerapkannya untuk menjawabi kebutuhan manusia konkret di mana dia hidup. Kapan kita berpikir tentang anak2 kita yang putus sekolah? Kapan kita berpikir tentang ibu2 yang terpaksa mencari dukun karena tidak ada rumah sakit? Kapan kita berpikir tentang cara kita berpikir? Masih banyak hal yang kita bisa buat selain mereduksi sebuah pesta demokrasi hanya pada tolok ukur: Asal usul, agama, jenis kelamin, golongan, partai politik, sabung ayam, judi, dll….

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini