Bara Api dari Mulut Rotok

4
1326
Bupati Christian Rotok

Floresa.co-Bagai menyulut api, ucapan Bupati Manggarai, Christian Rotok soal darah biru sontak menimbulkan perdebatan. Betapa tidak, Rotok kok sampai-sampai harus minta maaf kepada masyarakat lantaran dipimpin orang “biasa” selama sepuluh tahun. Tak lain, Rotok dan Deno sendiri.

Kini semua tahu, ucapan Rotok rupanya bukan tanpa sebab. Ia berujar demikian lantaran kecewa karena digunjingi soal asal-usulnya. Meskipun tidak punya bukti yang jelas, Rotok cukup gerah karena kasak-kusuk soal keturunan itu seolah menentukan kualitas kepemimpinan.

Dalam kaitan dengan pemilukada, ucapan soal darah biru itu erat hubungannya dengan Hery Nabit. Lawan tangguh calon incumbent, Deno Kamelus itu memang punya hubungan keluarga dari keturunan Todo-Pongkor. Ibunya, Agnes Mboi adalah saudari kandung dari Ben Mboi, mantan Gubernur NTT. Keduanya adalah anak dari Matias Mboi, yang tak lain adalah adik dari Raja Bagung,raja Manggarai pertama hasil bentukan Belanda.

Kalau dibaca dari logika Rotok, bagaikan penyelamat, seolah-olah kebangkitan kembali keturunan Kerajaan Todo-Pongkor yang menjelma dalam diri Hery Nabit, akan membangkitkan keterpurukkan Manggarai dalam segala dimensi persoalan. Jasanya selama sepuluh tahun, seolah tak ada artinya. Ia pun minta maaf.

Namun benarkah persoalan sesederhana itu?

Sebagai seorang politisi, ucapan Rotok sudah layak ditelusuri. Rotok bukanlah politisi kelas rendahan untuk level Manggarai. Setidaknya, kemenangan selama dua periode adalah buktinya. Maka, ucapan Rotok tak berlebihan kalau dicurigai sebagai strategi politik.

Pilihan Rotok, dalam pemilukada yang head to head mendatang, paling mungkin berpihak kepada Deno Kamelus. Ia tak mungkin mengkianati rekan kerja selama sepuluh tahunnya itu.

Bukti pertama dari dukungan Rotok itu, soal pilihan partai Gerindra. Menjelang verifikasi di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) santer terdengar kabar bahwa partai Gerindra bakal mendukung paket Viktor-Baeng. Nyatanya, Gerindra merapat ke kubu Deno-Madur. Tak berlebihan jika Rotok sebagai pengurus Partai Gerindra di NTT, punya andil.

Lantas, jika Rotok mendukung Deno Kamilus, apakah ucapannya soal darah biru itu bakal menjadi strategi yang ampuh?

Sudah tentu, strategi demikian sangat pas konteks masyarakat pemilih di Manggarai dan Indonesia pada umumnya.

Pernah berulangkali diucapkan Boni Hargens, pengamat politik nasional saat Pemilihan Presiden 2014 yang mempertemukan Jokowi-Prabowo, bahwa masyarakat pemilih di Indonesia sangat mudah berempati. Pihak yang sering menjadi objek cemoohan, justru dapat menjadi pilihan hati masyarakat.

Jokowi adalah contohnya. Seringkali dibilang ndeso, tak berwibawa, dan kurus—di luar alasan-alasan yang bersifat rasional—justru  ketimban rejeki. Ia disayangi dan diagung-agungkan. Ia lantas keluar sebagai pemenang dalam Pemilihan Presiden.

Rotok pun pernah mencicipi pengalaman serupa. Kemenangan pada periode pertama pada 2005, ia mampu mengalahkan lawan tangguh, Antony Bagul Dagur. Gaya politik yang sarkas dari Anton Bagul justru menguntungkan Rotok. Ia diposisikan sebagai pihak yang “kalah” lantaran badannya kecil.

Kini, Rotok kembali memainkan bola api yang sama. Ia menempatkan dirinya dan Deno sebagai pihak yang “kalah”. Bukan tak mungkin strategi itu bakal membakar rasa empati dalam hati masyarakat.

Namun, perlu diingat, kompetisi politik tak pernah mendaulatkan strategi tunggal. Selalu ada seribu satu kemungkinan.

Apa yang menjadi senjata andalan Rotok, sewaktu-waktu bisa berubah menjadi senjata makan tuan. Masyarakat bisa jadi justru berbalik mendukung Hery Nabit, yang sampai saat ini belum secara terbuka menyentil isu primordial.

Advertisement
BAGIKAN

4 Komentar

  1. Menjelang pemilihan bupati Manggarai permainan isu ke dua kandidat DM dan HA mewarnai pesta demokrasi 9 Desember 2015, isu Cibal vs Todo, Rakyat jelata vs turunan raja, anak muda vs orang tua, isu-isu ini sengaja di lempar ke publik utk menutupi fakta yg terjadi yakni dinasti politik, atau kekuasaan berkempok, regenerasi menjadi barang haram utk di bicarakan, pikada 5 thn lalu berbeda dgn pilkada 2015, hampir seluruh rakyat Manggarai menginginkan regenerasi kepemimpinan, berikan kesempatan kepada yg muda utk berbuat.

  2. Isu-isu primordial, baiknya jangan dikemukakan dalam membangun Manggarai ke depan.

  3. “orang biasa vs orang dari keturunan darah biru”
    Omongan kecil seperti itu, tidak usah di permasalahkan. tidak usah dibesar-besarkan.
    terserah apakah itu merupakan strategi polituk lewat penggunaan kalimat dari lawan politik atau bukan.apakah itu inti dari PEMILUKADA? kalimat seperti itu tidak ada unsur membangunnya sama sekali. Kembali ke Topik.

  4. Indonesia merah darahKu, putih tulangku, bersatu dalam semangat membangun Manggarai Raya (Dari Kedua Kandidat) untuk kita semua rakyat Manggarai

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini