Pimpin Gerakan Tolak Tambang, Suster Matutina Terima Penghargaan

0
728
Suster Stella Matutina OSB (Foto: http://cdn.c.photoshelter.com/)
Suster Stella Matutina OSB (Foto: http://cdn.c.photoshelter.com/)

Floresa.co – Perjuangan melawan tambang yang melibatkan kaum religius, ternyata tidak hanya terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), sepertinya halnya di Pulau Flores selama beberapa tahun terakhir.

Di Filipina, seorang suster dengan gigih melawan industri ekstraktif itu. Dan berkat komitmennya, Suster Stella Matutina OSB pun mendapat penghargaan “Weimar Award” dari Jerman untuk bidang Hak Asasi Manusia” tahun ini.

Suster Matutina OSB mendapat pengakuan atas “(keterlibatannya) yang luar biasa untuk hak-hak masyarakat lokal, meskipun ancaman terus-menerus atas dirinya terkait keterlibatannya itu”.

“Situasi di Mindanao dan Filipina secara umum, orang-orang miskin, petani, masyarakat adat, aktivis HAM dan pembela lingkungan menghadapi pelecehan dan risiko kematian,” kata biarawati berusia 47 tahun itu seperti dilansir Ucanews.com, akhir pekan lalu.

Suster Matutina mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap para pembela lingkungan dalam menghadapi sebuah “upaya sistematis untuk membatasi ruang demokrasi dan ancaman keamanan”.

Suster yang berasal dari keluarga miskin di Mindanao ini mengatakan, hatinya “akan selalu untuk orang miskin dan korban pelecehan”. “Hidup saya akan selalu didedikasikan untuk mereka,” katanya.

Suster Matutina adalah seorang yang vokal menentang pengalihan lahan pertanian di Mindanao untuk perkebunan seperti kelapa sawit, nanas dan pisang.

Dia juga memimpin kampanye melawan masuknya perusahaan tambang skala besar dari masyarakat adat di Mindanao.

Tahun 2012, militer Filipina melabel Suster Matutina sebagai seorang “biarawati palsu” dan menuduhnya sebagai gerilya Tentara Rakyat Baru komunis.

Tahun 2009, tentara menahan Suster Matutina dan dua aktivis anti-tambang di kota Cateel, Mindanao saat memberikan penyuluhan tentang kesadaran lingkungan kepada penduduk desa.

Awal tahun ini,  Suster Matutina, pemimpin Gereja lainnya dan aktivis HAM menuduh pemerintah terlibat dalam penculikan  dan penahanan ilegal terhadap orang-orang yang menangani para pengungsi warga suku di Provinsi Davao del Norte dan Provinsi Bukidnon.

“Ini adalah bukti bahwa membantu kaum tertindas, miskin, teraniaya menghadapi risiko besar,” kata Suster Matutina, yang juga ketua Asosiasi Suster-suter di Mindanao dan sekjen kelompok perlindungan lingkungan Panalipdan.

Sejak 1995, Weimar Award memberikan penghargaan kepada individu atau kelompok yang terlibat dalam perjuangan untuk kebebasan dan kesetaraan, pencegahan genosida, hak untuk kebebasan berbicara dan pelestarian hak-hak politik, etnis, budaya dan agama minoritas.

Weimar Award, didukung oleh organisasi bantuan Missio, secara resmi akan menganugerahkan penghargaan tersebut kepada Suster Matutina pada Desember.

Suster Matutina akan menerima uang sebesar  2.730 dolar AS.  Ia mengatakan dana tersebut akan dipakai untuk membantu kegiatan organisasinya. (Ari D/ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini