Surat Untuk Bupati Mabar

1
1363

Inosentius MansurOleh: INOSENTIUS MANSUR

Untuk Bupati Manggarai Barat, Bapak Agustinus Ch Dula

Bapak Bupati yang terkasih…

Pertama-tama saya mengucapkan selamat berjumpa untukmu. Saya mohon maaf, barangkali sungguh tak etis mengirim surat buatmu lewat media ini. Selain itu, saya tahu bahwa anda sekarang pasti lagi sibuk bersosialisasi, melakukan konsolidasi, mencari manuver politik agar bisa menang dalam Pilkada Mabar yang akan datang. Sebab anda memang merupakan salah satu kandidat terkuat di Pilkada Mabar saat ini.

Namun demikian, saya sungguh berharap agar anda sudi memiliki waktu dan meluangkan saat, biar sejenak saja, untuk membaca suratku ini. Tetapi, jika saja suratku ini dianggap tak pantas dan dipandang tak berguna, biarkanlah ini menjadi coretan nirmakna yang berlalu bersama hembusan waktu.

Bapak Bupati yang terkasih…

Sesungguhya, saya amat mengagumi anda. Anda adalah satu-satunya bupati yang begitu tegas menolak kehadiran industri tambang di Manggarai Raya. Anda berani, tegas dan tak takut dengan teror sejumlah pengusaha papan atas dan juga berani melawan konspirasi mereka. Anda percaya diri dan merasa bahwa tambang bukanlah pilihan tepat untuk rakyatmu. Kesan saya, anda adalah benar-benar bupatinya rakyat, sebab anda mengakomodasi suara dan desakan rakyat untuk menolak tambang.

Tetapi, ada pertanyaan sederhana untukmu: masihkah keberanian itu tersisa? Sungguhkah anda mengartikulasikan rintihan-rintihan rakyat terutama dalam menolak sejumlah intervensi destruktif pihak-pihak asing? Bagaimana dengan sejumlah pulau dan ruang publik di Labuan Bajo yang selama ini telah dan mungkin akan terus dikapitalisasi oleh orang-orang berpunya? Apakah itu benar-benar menguntungkan rakyat anda ataukah itu hanya menguntungkan para pengusaha dan mungkin juga anda sendiri?

Saya kini mulai ragu, bahwa anda benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. Saya kini percaya bahwa anda adalah tokoh antagonis dan oportunis yang begitu gampang disetir oleh penguasa lain dan juga pengusaha. Tak diragukan lagi, anda benar-benar membuat saya ragu akan keberanianmu.

Tatkala desakan untuk membatalkan rencana privatisasi Pantai Pede semakin gencar, tiba-tiba saja, anda berubah haluan. Anda mengkhianati rakyat. Anda lebih memilih untuk menjadi oposisi dari rakyatmu sendiri. Secara tega sekali, anda meninggalkan rakyat, lalu tanpa tedeng aling-aling menyetujui privatisasi pantai kebanggaan rakyat Mabar itu. Ada apa denganmu Bapak Bupati yang terkasih? Dimanakah keberanian yang dulu pernah anda tunjukan? Siapa lagi yang bisa mendukung kami kalau anda sudah berpaling dari kami?

Bapak Bupati kebanggaan rakyat …

Ternyata anda bermain sandiwara. Anda tidak berani. Keberanian anda ciut berhadapan dengan elit-elit tertentu dan tak berdaya dihadapan para pemodal. Saya takut, jangan-jangan keberanian anda sirna karena dipengaruhi oleh politik transaksional menjelang Pilkada. Jangan sampai, demi mendapatkan dukungan parpol tertentu dan demi mendapatkan dana kampanye, anda mendukung privaitisasi Pantai Pede.

Ya, anda kini berada pada barisan pelawan rakyat. Sebentar lagi rakyatmu sendiri akan teralienasi dari tanahnya sendiri. Tidak lama lagi, rakyatmu akan menjadi “ata bana” di tanah Mabar. Mereka akan menjadi orang asing di tanah sendiri. Dan lagi, kehidupan perekomian mereka akan ditentukan oleh para pemodal, oleh orang asing. Dan lagi-lagi, orang-orang asing itu pasti mengasingkan rakyatmu sendiri. Rakyat akan menjadi “hancur lebur” dan tak berkutik.

Pantai Pede yang dulu menjadi “milik rakyat”, kini akan menjadi milik orang lain. Keindahan dan keelokan Pantai Pede akan menjadi romantisme masa lalu dan itu pasti tinggal cerita saja. Rakyat tak bisa lagi menikmatinya. Keinginan rakyat untuk terus “memiliki” Pantai Pede tak lama lagi akan menjadi harapan yang tak menjadi nyata. Bagaikan cinta tak terkatakan dan rindu tak kesampaian Chairil Anwar kepada Sri Ajati, kerinduan kami untuk bersatu dengan Pantai Pede, kini ibarat “Senja di Pelabuhan Kecil”, demikian kata-kata Chairil, dimana kerinduan itu kian seperti senja yang sebentar lagi akan meredup, matahari tak lagi bersinar, dan malam pun akan datang.

Harapan kami akan segera sirna. Sebaimana Chairil Anwar tak meraih Sri Ajati, gadis pujaannya itu, kini kami dibiarkan untuk tak bersatu lagi dengan Pantai Pede, pantai kebanggaan dan pujaan rakyat. Keinginan rakyat untuk bersatu dan memiliki Pantai Pede, bagai rindu tak berbalas. Dan anda, Bapak Bupati, memiliki andil memisahkan rakyat dengan Pantai Pede.

Bapak Bupati yang terkasih…

Saya masih berharap dan akan terus berharap, anda masih memiliki hati untuk rakyat. Masih ada secercah harapan dalam hati saya, anda berani menolak privatisasi Pantai Pede dan kapitalisasi sejumlah tempat strategis oleh kaum kapital. Anda harus bisa menjadikan Pantai Pede sebagai ruang afirmasi diri rakyat sebagai makhluk rekreatif. Dibalik itu, saya juga percaya bahwa anda bisa menjadikan rakyat sebagai subjek pembangunan di Mabar. Anda tidak boleh mengeliminsi rakyat dari geliat perekonomian Mabar. Orang asing tak boleh mendepak rakyat Mabar.

Akhirnya, seraya menyampaikan terima kasih jika berkenan membaca goresan kata-kata tak bermakna ini, tak lupa saya memohon maaf andai ada kata membekas lara dan kritik menyinggung kalbu. Jangan takut, karena rakyat akan mendukung anda jika anda berjalan bersama rakyat.

Salam dan hormatku untukmu…

Penulis adalah rohaniwan, dosen dan pemerhati masalah sosial politik dari STIPAS St. Sirilus Ruteng

Advertisement

1 Komentar

  1. senang sekali saya melihat dan membaca surat ini, dan yang terhormat Romo Sirilus, saya tau Romo adalah activist lingkungan, kenapa pede dimasalahkan, masalah lingkungan di Labuan Bajo itu begitu banyak salah satunya adalah krisis air minum yang tdk kunjung berakir, mengapa bukan yang ini didemo atau disorot. saya mohon untuk semua activist ayo urus dulu yg satu ini, ini menyangkut taraf hidup. Yang kedua untuk Romo Sirilus, Adakah solusi bagi masarakat manggarai Barat yg para suami mereka pada berpergian kekalimantan, kemalaisia dan juga kesumatra untuk diperkerjakan sebagai buruh Tambang, karena menurut saya ini adalah perceraian secara tak lansung di masyarakat itu sendiri, Bagaimanakah tanggapan dari Misionaris mengenai hal ini…

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini