Ahli Waris Bumi Manggarai [Narasi untuk Marius Saridin]

0
750
Marius Saridin
Marius Saridin

Catatan Editor: Marius Saridin adalah salah satu orang Manggarai yang layak disebut sebagai satu dari sedikit pribadi yang konsisten memperjuangkan kelestarian ekologi, khususnya di Manggarai Barat. Ia konsisten memperjuangkan pengembangan pariwisata di Mabar, bersama sejumlah sahabatnya, dan mengambil sikap oposisi yang tegas terhadap ekspansi pertambangan yang hampir mengobarak-abrik Mabar beberapa tahun silam. Arie – demikian ia biasa disapa, menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis dini hari (23/7/2015) lalu. Kepergiannya jadi kabar duka, bagi banyak orang yang pernah mengenalnya. Berikut salah satu narasi tentang Arie yang dibacakan pada Misa Requiem Marius Saridin di Rumah Duka St Carolus, Jakarta, Kamis 23 Juli 2015, pukul 19.00 WIB.

 Oleh: GERARD N.BIBANG

Saudara Marius yang terkasih

Kepergianmu yang begitu cepat, bagi kami, seperti mengalami titian serambut dibelah tujuh. Antara hidup dan mati telah kau lewati dengan enteng bagaikan dalam sebuah permainan akrobatik. Hidupmu yang singkat,  yang penuh golak dan juang selama 48 tahun telah kau akhiri dengan sebuah kematian yang mulus, langsung dan tanpa komplikasi dalam waktu kurang dari hitungan jam, dalam kesenyapan dini hari tadi, saat kami yang lain menjemput mentari di hari baru.

Kami, keluarga dan sahabatmu seakan tidak percaya. Kau pergi tanpa arah kembali. Kidung pujian pagi berubah menjadi kidung duka. Semakin banyak SMS, BBM dan milis berdatangan membuat kami sadar sesadar-sadarnya akan dua hal: Pertama: kami tetap mesyukuri pagi sebagai anugerah Ilahi. Kedua: kau sedang melambai-lambaikan tangan dari seberang sana mengucapkan selamat tinggal untuk kami semua. Kau pergi tanpa arah kembali.

Tapi sejujur-jujurnya, hati kecil kami tidak terkejut. Karena, kematian seperti ini hanya terjadi pada orang yang benar-benar adalah ahli waris bumi Manggarai. Ketika kau dilahirkan di Wol, Lembor pada 12 Januari 1967 sebagai anak keempat dari 11 bersaudara, maka sejak saat itu, kematian adalah satu-satunya masa depanmu yang paling pasti.

Takut-kah engkau? TIDAK! Justru karena kesadaran akan kematian sebagai masa depan paling pasti, engkau memperlakukan hidupmu di dunia ini bukan pertama-tama sebagai ANUGERAH TEREBERI, sebagai GABE tapi sebagai TUGAS, sebagai AUFGABE. Maka, engkau tak pernah malas dan berleha-leha, tidak pernah berprinsip take it easy meski sakitmu menggerototi sum-sum hingga tulang.

Kami tahu kesadaran akan hidup sebagai TUGAS telah menjadi nafasmu. Nafas itu ditiupkan oleh ayahmu Felix Mars, anak petani dari Dempol, kampung mungil-indah di Lembor, yang berbunyi: neka anggom le, anggom lau, eme data, data muing, neka daku demeng ata” yang berarti: “janganlah memiliki kekayaan karena merampas dan menggelapkan harta orang lain.” Dalam arti lebih luas: jadilah manusia dengan penghormatan terhadap martabat dan hak orang lain, bukan menjadi kaya material di atas isak tangis dan darah orang lain.

Dalam spiritualitas neka anggom le, anggom lau, proses menuju hasil selalu ditempuh dengan cara yang halal. Tidak ada the end justifies the means.  Ambisi apapun akan selalu dicapai dengan cara bermoral. Maka menjadi manusia, being human, sama sekali tidak bergantung pada harta kekayaan dan uang serta cara-cara kotor melainkan pada kemampuan, kecerdasan, insight, wawasan luas, ketrampilan, profesionalisme serta perilaku moral yang bermartabat.

Inilah Marius yang kami kenal. Sebagai ahli waris bumi Manggarai, dengan nafas neka anggom le, anggom lau,  Marius menjaga integralitas alam dengan selaras tanpa konflik frontal karena menurut keyakinannya: di bawah kolong langit semua ciptaan adalah saudara.

Dalam terang spiritualtias ini pula, keterlibatan Marius yang begitu intens dalam advokasi tolak tambang bukan semata-mata untuk uang dan jabatan. SAMA SEKALI BUKAN! Tapi demi keutuhan ciptaan yang bermartabat.

Maka: hidup Marius yang seluruhnya diabdikan untuk pariwisata Flores terutama Manggarai Barat BUKAN terutama karena ia ingin pamer atau terkenal. Karena untuk apa jadi terkenal? Dia pernah hidup di luar negeri. Dia orang terpelajar. Dia bermartabat tanpa harus mencari-cari pengakuan dari orang. Untuk apa terkenal?

Dalam spiritualitas neka anggom le, anggom lau itu pula, pariwisata, bagi Marius, adalah hidup yang holistik di mana manusia hanya bisa hidup seutuhnya bila satu dengan yang lainnya, hidup harmoni dengan alam. Dan jalan menuju ke sana tak lain hanya dengan merawat alam sebagaimana kita merawat saudara dan saudari. Merusak alam dengan menggali perut bumi atas nama kerakusan adalah kriminalitas terhadap martabat manusia itu sendiri dan harus ditolak sampai mati. Oleh karena itu: menjadi manusia, bagi Marius, adalah mempertaruhkan hidup sebab dengan mempertaruhkannya, dia akan memenangkannya meski sebelum tiba ke sana, dia sudah mati.

Selamat jalan Marius Saridin. Ragamu akan dibenamkan ke dalam perut bumi dan menjadi humus untuk menyuburkan ciptaan baru. Tapi engkau meninggalkan etos kepada kami bahwa HIDUP ini bukan hanya pemberian, bukan hanya GABE melainkan TUGAS yang harus dipertanggungjawabkan. BUKAN pula untuk disia-siakan tapi untuk dimuliakan dengan cinta. Cinta terhadap istri dan anak, cinta terhadap alam, lingkungan dan semesta jagat raya.

Sampai jumpa di surga. Sekian dan terima kasih.

Penulis adalah salah satu tokoh senior Manggarai. Pencinta sastra ini kini menetap di Jakarta.

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini