Sampai Kapan Kita Sekedar Jadi Konsumen Ilmu Pengetahuan?

0
739

Gregorius AfiomaOleh: GREGORIUS AFIOMA

Reformasi dunia pendidikan sangatlah mendesak. Bukan saja karena itu merupakan tuntutan agar bisa bersaing di kancah internasional tetapi juga karena alasan yang lebih substansial. Bahwasannya dunia pendidikan kita masih memperlakukan anak didik sebagai konsumen. Mereka lebih banyak disuap daripada didorong agar menghasilkan pengetahuan.

Kenyataan demikian masih jamak kita temukan di lingkungan sekolah dan kampus di Indonesia. Rasa-rasanya seseorang akan terkesan pintar dan akademis apabila menjadi kutu buku, sering mengoleksi dan membaca banyak buku. Maka tak heran, sejak di bangku SD kita selalu dinasehati agar selalu membaca banyak buku supaya cerdas dan berprestasi. Apakah memang demikian?

Jauh dari maksud menyepelehkan kenyataan tersebut, sebaliknya saya hanya mau menunjukkan bahwa kegiatan membaca ternyata hanya bagian kecil dari aktivitas dunia pendidikan. Dunia pendidikan bertujuan agar siswa mampu menghasilkan ilmu, bukan hanya menimba ilmu. Karenanya, membaca hanyalah satu aspek yang turut berkontribusi di dalamnya. Sedangkan aspek yang lain adalah penelitian dan pengembangannya. Inilah yang masih kurang diperhatikan.

Cermin Pendidikan

Kritikan demikian bukan tanpa dasar. Ketika berdiskusi dengan beberapa teman yang menempuh pendidikan di Eropa, mereka mengeluhkan sistem pendidikan di Indonesia. Sebelum ke Eropa, salah seorang beranggapan bahwa Eropa adalah gudang ilmu pengetahuan. Eropa dianggap jauh lebih maju, modern dan “berada” dalam segala bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan ketimbang Indonesia.

Akan tetapi, setelah mulai menempuh pendidikan di sana, mereka umumnya sungguh kecewa dengan anggapan itu. Mereka menyalahkan logika berpikir mereka sendiri dan masyarakat pada umumnya yang terlalu mengagung-agungkan dunia pendidikan di Eropa. Pasalnya, di sana pengajarnya selalu mengatakan,“di sini bukan gudang ilmu. Ilmu itu ada dimana-mana di seluruh dunia.”

Sekurang-kurangnya dari logika berpikir tersebut kita dapat memahami bagaimana negara-negara Eropa membangun dunia pendidikan mereka. Seiring dengan pengagungan sains di Era Pencerahan pada abad ke-15, ada begitu banyak orang Eropa tersebar ke seluruh dunia guna mengadakan penelitian.

Mereka datang ke  benua Asia, Afrika, dan Amerika dan rela tinggal berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lamanya hanya untuk melakukan penelitian fenomena alam, budaya, sosial dan politik di berbagai tempat. Hasil penelitian kemudian tidak hanya berguna bagi pengembangan peradaban di sana, tetapi juga kontribusi bagi dunia pengetahuan itu sendiri.

Oleh karena itu, menghasilkan pengetahuan berarti perlu melakukan penelitian. Tidak berhenti pada kegiatan membaca saja. Kenyataan demikian masih tergolong pasif dan minimalis. Seharusnya segala indera dikerahkan demi mengamati dunia kehidupan dan segala fenomena di dalamnya. Para murid didorong menemukan variabel-variabel dan pola-pola dalam gejala sosial, melakukan pengujian dan merumuskan teori-teori baru. Hanya dengan demikian, pendidikan berarti terus-menerus mengkonstitusikan ilmu pengetahuan.

Hanya dalam dinamika pendidikan demikian, filosofi pendidikan ala Sokrates, filsuf Yunani abad ke-5 SM menemukan bentuknya. Menurutnya, setiap manusia punya kemampuan bawaan untuk menghasilkan ilmu.  Karenanya, guru hanyalah berperan seperti bidan. Guru membantu setiap murid untuk “melahirkan” ilmu pengetahuannya.

Potret Buram 

Sayangnya, konsep pendidikan demikian sudah seribu langkah jauh di depan model pendidikan di Indonesia. Kajian riset ilmiah dan penelitian di Indonesia masih tergolong sangat terbatas dan miskin. Kita hanyalah konsumen dan bergantung pada hasil-hasil riset orang asing daripada menghasilkan ilmu pengetahuan. Padahal sumber ilmu itu ada dimana-mana.

Kalau pun ada penelitian, orientasi utamanya masih berkaitan dengan pembangunan. Misalnya, penelitian tentang kemacetan di Jakarta. Paling sering hanya bertujuan bagaimana mengatasi kemacetan itu sendiri daripada sumbangan penelitian itu terhadap dunia pengetahuan itu sendiri. Selebihnya hanya untuk memenuhi syarat perkuliahan.

Lalu di manakah letak kesalahannya?  Sebetulnya bangunan metafisis pendidikan Indonesia sudah sangat intrumentalis sejak awal. Pada era kolonial Belanda, pendidikan diselenggarakan demi memperoleh tenaga administrasi pemerintahan. Pasca-kemerdekaan sampai sekarang keadaan ini terus berlanjut. Orang beramai-ramai sekolah guna mendapat pekerjaan di institusi pemerintahan.

Akibatnya, sumbangsih dunia pendidikan masih sangat minim. Banyak orang lalu melihat dunia pendidikan hanya semacam fase kehidupan yang perlu dilewati saja. Urusan pendidikan dianggap gampangan lantaran hanya soal bagaimana membaca dan mencerna pengetahuan. Anak-anak yang pandai menghafal dan lulus dengan nilai tertinggi dalam Ujian Nasional secara tertulis akhirnya selalu dibangga-banggakan.

Sebaliknya, usaha untuk mengembangkan pengetahuan melalui penelitian tidak pernah sungguh-sungguh diperhatikan. Skripsi dan tesis para mahasiswa dikerjakan demi memenuhi syarat kelulusan saja. Tidak heran, skripsi dan tesis masih diwarnai oleh kumpulan copy and paste dari berbagai sumber. Mahasiswa juga lebih berminat menyebarkan kuisoner daripada penelitian partisipatif di tengah masyarakat sehingga masih sangat defisit pemikiran. Inilah pra-kondisi bagi maraknya ijasah palsu.

Para pengajar pun tidak berbeda jauh. Begitu banyak dosen lulusan dari Eropa, tetapi mereka hanya melihat pendidikan di sana ibarat hanya memoret puncak gunung es ala Freud. Meskipun dikenal cerdas, mereka masih hidup di bawah bayang-bayang pemikir dunia. Tidak mandiri secara intelektual. Mereka hanya pandai mereproduksi teori-teori orang lain, tetapi lemah untuk mengembangkan dan meneliti lebih lanjut.

Dari karut-marut demikian, besar harapan pendidikan di Indonesia segera berbenah. Pemerintah perlu mengambil langkah serius agar mengantisipasi segala bentuk manipulasi ijasah dan mendorong produktivitas dunia penelitian. Pemerintah tidak hanya melihat Ujian Nasional secara tertulis sebagai alat ukur paling vital, tetapi juga soal daya cipta dari peserta didik.

Sudah saatnya memang, dunia pendidikan kita tidak hidup di bawah bayang-bayang teoritikus dunia, sebaliknya kita juga mampu menghasilkan gagasan-gagasan matang, baik bagi pembangunan maupun bagi dunia ilmu pengetahuan sendiri. Kita tidak hanya berhenti sebagai konsumen, tetapi juga turut memproduksi pengetahuan.

Penulis adalah Redaktur di Floresa.co

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini