Polisi: Di Cairan Lambung Gregorius Nanet Tidak Ada Racun

0
882
Kondisi tubuh Gregorius Nanet saat ditemukan di kebunnya di Ruteng, Senin (29/6/2015)
Kondisi tubuh Gregorius Nanet saat ditemukan di kebunnya di Ruteng, Senin (29/6/2015)

Ruteng, Floresa.co – Kematian Gregorius Nanet (62) pada Senin, 29 Juni lalu menyisahkan teka-teki.

Banyak pihak berupaya mencari tahu penyebab meninggalnya pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Pertanahan Kabupaten Manggarai-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu yang dinilai tidak wajar.

Memang, berdasarkan hasil visum, tidak ditemukan bukti tindak kekerasan di tubuh korban, namun, hal itu tidak menyurutkan rasa penasaran banyak pihak, terkait kasus pemicu kematian Gregorius.

Dugaan bahwa ia diracuni pun mengemuka. Pihak keluarga lalu mendesak aparat di Polres Manggarai untuk mengusut kasus ini.

Menanggapi permintaan itu, cairan lambung Gregorius diperiksa di laboratorium di Denpasar, Bali. Polisi tidak bisa melakukan otopsi, setelah pihak keluarga keberatan dan mengaku tidak tega bila jasad korban dibelah untuk kepentingan otopsi itu.

Hasilnya pemeriksaan cairan lambung kemudian, menurut polisi, tidak ditemukan adanya keracunan di tubuh korban.

“Cairan lambung sudah diperiksa. Hasilnya menurut keterangan dokter, tidak ditemukan adanya keracunan,” kata AKP Yuda Wiranegara, Kasat Reskrim Polres Manggarai kepada Floresa.co, akhir pekan lalu.

Upaya pemeriksaan cairan lambung itu dilatari oleh laporan keluarga, di mana Gregorius pernah diancam oleh oknum tertentu, termasuk lewat pesan singkat yang pernah menyasar di Handphone (HP) Gregorius.

Menurut keluarga, oknum tersebut pernah datang  mengancam ke rumah Gregorius.

Hingga kini, Floresa.co belum mendapat informasi terkait identitas oknum tersebut.

Yuda mengaku, sebelumnya ia pernah diberitahu keluarga agar segera memeriksa oknum yang pernah mengancam Gregorius itu.

“Memang agak susah bang, bagaimana mau kita periksa, sementara petunjuk awal kematiannya belum kita dapat. Apa dasar kita mau periksa?,” ujar Yuda.

Tanda-tanda Kejanggalan

Mayat Gregorius ditemukan di kebun kopi di samping timur SMIP Sadarwisata Ruteng, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong.

Menurut Agustinus Ramauti, juru bicara keluarga Gregorius, pada malam sebelum ditemukan meninggal, pukul 07.30 Wita, Gregorius keluar dari rumah dengan mengendarai sepeda motor, sambil membawa sebuah map.

Biasanya, kata Agustinus, Gregorius keluar dari rumah dengan menggunakan mobil pribadinya.

Saat itu, demikian Agustinus, Gregorius hendak bertemu seseorang di kampung Watu, Kelurahan Watu, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Namun dalam perjalanan, berdasarkan informasi yang dihimpun Agustinus, almarhum mendapatkan telepon dan membuatnya tidak jadi ke rumah yang dituju tersebut.

Kemudian, sekitar pukul 11.30 Wita motor yang dikendarainya tampak dilihat seorang anaknya yang baru pulang dengan menggunakan mobil. Motor tersebut parkir di jalan didepan rumah Gregorius.

Saat itu, kata Agustinus, anaknya menduga motor yang dibawa Gregorius kehabisan bahan bakar, karena itu, motor tidak diparkir di dalam halaman rumahnya.

“Mama, bapa sudah di rumah?,” ujar Agustinus meniru pertanyaan anak Gregorius  kepada mamanya malam itu.  “Dia (Gregorius) belum sampai di rumah,” jawab istri Gregorius.

Tak ada perasaan curiga saat itu. Anaknya kemudian memutuskan untuk mendorong sepeda motor tersebut ke tempat parkiran di halaman rumah.

Di rumah malam itu, mereka lama menunggu almarhum pulang. Keluarga pun kemudian menghubungi Gregorius via telpon selulernya.

Berapa kali mereka menelepon dan mengirim pesan singkat ke nomor HP-nya,  namun tidak ada respon.

Minggu pagi kemudian keluarganya mencari Gregorius di sekitar rumah mereka termasuk di kebun kopi miliknya yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Kata Agustinus, beberapa keluarga sempat mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ruteng guna mencari almarhum. Mereka menduga, mungkin ia sakit.

Pencarian akhirnya membuahi hasil, saat salah seorang keponakannya menemukan Gregorius ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di kebun miliknya yang berada di dekat rumah.

“Itu saja cerita yang kami tau. Selanjutnya keluarga optimis dengan kerja kepolisian ke depan untuk mengungkap kematiannya (Gregorius),” kata Agustinus.

Ketika mengunjungi Tempat Kejadian Perkara (TKP) sehari setelah penemuan mayat Gregorius, Floresa.co  sempat menemukan beberapa daun keladi seperti dipotong parang.

Menurut pengakuan beberapa sumber Floresa.co  di lokasi kejadian, daun keladi ini tampak seperti telah dipotong parang sebelum mayat ditemukan.

Banyak pihak menduga kuat ada sejumlah indikasi kejanggalan di balik kematian Gregorius.

Komnas HAM bahkan sudah menyurati Polres Manggarai untuk serius mengusut kasus ini dan menelusuri semua informasi terkait ancaman yang pernah diterima korban.

Namun, tampaknya polisi tidak akan mengambil langkah lebih lanjut lagi, setelah mereka mendapat hasil pemeriksaan cairan lambung Gregorius. (Ardy Abba/ARL/Floresa)  

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini