kembar
Foto: Facebook Yohanes Raldy Doy

Floresa.co – Sepekan terakhir, publik ramai membincangkan peristiwa Tolikara, Papua, yang melukai kebebasan dan toleransi antarpemeluk agama di bumi Nusantara ini.

Ada beragam pendapat tentang peristiwa ini. Tentu dengan sudut pandang yang bervariasi pula. Namun, kiranya kita semua sepakat, peristiwa Tolikara menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih perlu belajar dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks ini, ada sebuah cerita menarik yang bisa diambil dari sepasang saudara kembar yang telah menginjak usia paruh baya.

Kedua wanita kembar ini tumbuh dan memilih cara yang berbeda dalam hal keyakinan. Satu memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan satunya mengabdikan diri sebagai seorang biarawati Katolik di Konggregasi PBHK dan sekarang berkarya di Marauke, Papua.

Meski keduanya memilih jalan berbeda dalam hal keyakinan. Hal itu tidak mempengaruhi hubungan keduanya. Mereka akur, harmonis dan tetap menyayangi satu sama lain.

Kisah keduanya menjadi banyak pembicaraan setelah akun Facebook Bernadus Yohanes Raldy Doy membagikannya ke sejumlah media sosial.

Komentar bernada positif banyak diberikan terkait kerukunan antara saudara kembar yang berbeda keyakinan.

Seperti yang diungkapkan akun Facebook Hermain Hidayat ” Subhanallah..Semoga ini contoh nyata persaudaraan antar umat beragama yg harmonis di NKRI..Aamiin..” tulisnya.

Hal senanda diungkapkan akun Jan Weslyn Purba Tambak . ia mengatakan bahwa kisah saudara kembara itu adalah contoh indahnya perbedaan “Luar biasa ….. ternyata perbedaan keyakinan itu indah dan mempersatukan sesama, menjadi teladan buat kita semua, Amiiin” ungkapnya. (Tribunsumsel.com/Armand Suparman/ARS/Floresa)