Tak Punya Biaya Masuk SMP, Kini Remi Jual Pisang Keliling Kota Ruteng

7
10837
Remigius Tau (15) setiap hari menjajakan pisang di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Remaja ini memutuskan mencari nafkah demi membantu orang tua, setelah mengalami kesulitan finansial setelah tamat SD. (Foto: Ardy Abba/Floresa)
Remigius Tau (15) setiap hari menjajakan pisang di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Remaja ini memutuskan mencari nafkah demi membantu orang tua, setelah mengalami kesulitan finansial setelah tamat SD. (Foto: Ardy Abba/Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Ketika empat tahun lalu hendak menyelesaikan Sekolah Dasar (SD), Remigius Tau berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Namun, tekadnya itu kandas, lantaran kedua orangtuanya tidak memiliki modal yang cukup.

Ketidakmampuan finansial memang selalu menjadi mimpi buruk bagi masa depan anak-anak dari keluarga miskin, seperti Remi.

Walau berniat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, namun apa daya persoalan uang jadi tantangan terbesar bagi remaja asal Kampung Tado, Desa Mbongos, Kecamatan Wae Ri,i, Kabupaten Manggarai itu.

Meski usianya kini, 15 tahun, masih tergolong belia, namun, mau tidak mau, ia harus berusaha mencari uang, demi menghidupi keluarganya.

Dan, sejak meninggalkan SD, pria kedua dari enam bersaudara itu tiap hari berangkat dari Tado menuju Ruteng.

Tujuannya hanya satu: membeli pisang di Pasar Inpres Ruteng, lalu kemudian menjualnya kembali ke rumah-rumah warga.

Kadang, ia juga mendatangi kantor-kantor pemerintah di kota Ruteng.

Saat berbincang-bincang dengan Floresa.co usai menjajakan dagangannya di kantor bupati Manggarai, Senin (13/7/2015), ia mengisahkan, dahulu dirinya memiliki tekad kuat untuk sekolah.

Namun, ia tidak bisa berbuat banyak ketika kemudian orangtuanya mengeluh soal biaya.

Ia mengisahkan, dirinya sempat berharap ada yang membantu membiayai pendidikannya.

Namun hingga putra dari pasangan Stefanus Daru dan Geno Wawul tersebut memutuskan menjadi penjual pisang, bantuan itu tak kunjung datang.

Kini, hari-hari Remi diwarnai dengan situasi yang rumit dan memprihatinkan.

Bilahan bambu sebagai pangkuan beberapa sisir pisang selalu membebankan pundaknya tiap hari, sambil berjalan dari rumah ke rumah warga di Ruteng.

Kata dia, setiap pagi ia datang dari kampungnya menggunakan mobil angkutan umum dengan biaya Rp 10.000 pergi dan pulang.

Kemudian, rutinitasnya selalu dimulai di Pasar Inpres Ruteng.

“Saya beli Rp 8.000 per sisir pisang kepada pedagang, kemudian saya jual Rp 15.000 per sisir. Saya mampu bawa 10-15 sisir pisang setiap kali jalan,” jelas Remi.

Selama menjual pisang, ia harus menyisihkan pendapatannya untuk membeli makan siang.

Ia mengaku biasa makan siang di rumah makan, dan menghabiskan Rp. 10.000.

Walau ia selalu dihantui perasaan malu lantaran sering diolok oleh teman sebayanya, namun ia tetap tekun dan tabah menjadi penjual pisang.

Remi mengaku, apa yang dilakukannya itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya untuk membantu sang ayah dalam membiayai kehidupan keluarga mereka.

“Sampai saat ini, hasil jual pisang saya tabung di celengan dan sebagian untuk membeli beras dan pakaian adik-adik saya,” aku Remi.  (Ardy Abba/ARL/Floresa.co)

Advertisement

7 Komentar

  1. Keadaan Remi (keluarganya) tentu sangat prihatin. Jika saja Remi bisa sekolah sambil menjual pisang setelah sekolah tentu memiliki nilai plus yang luar biasa. Dia akan menjadi mandiri, mampu mencari solusi terhadap keadaan sulit. Kalau besar nanti anak ini akan menjadi pemimpin atau pengusaha. Saya pernah mengalami hal yang sama bahkan harus “lemba ikang”, pisang atau alpukat, ikan ditukar dengan beras di asrama selain untuk bayar uang sekolah juga untuk makan.

    Hal lain dikota besar banyak anak-anak SD,SMP,SMA, kuliah berdagang kecil-kecilan dengan teman-temannya atau membantu orang tua setelah sekolah. Rata-rata mereka jauh lebih sukses dalam banyak hal. (www.invelex-biz.com)

  2. Kasus seperti Remi adalah contoh seribu kasus yang terjadi di Manggarai, masih banyak lagi Remi2 lain di Manggarai ini, punya keingan untuk sekolah, apa daya biaya tak sanggup atau kedua orang tuanya tak sanggup, lalu kemana peran biaya pendidikan BOS, BSM dan bantuan sosial lainya, ke mana pula pemerintah mengawasi distribusi BOS, BSM, dll, Mohon bagi siapapun Bupati terpilih nanti, semoga awasi betul distribusi dan penggunaan dana BOS, BSM dll karena sekarang banyak sekolah bahkan kepala sekolah menerima siswa melampaui daya tampung sekolah, melampaui daya tampung ruang tapi karena ingin mendapatkan dana BOS banyak terpaksa siswa yang lainnya sekolah sore hari, lalu kenapa masih banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah, kemana dana BOS, BSMnya,,,,,,,, tolonglah Bupati Baru terpilih nanti awasi kepala sekolah yang kurang memperhatikan anak usia sekolah yang jadi korban ketamakan Kepsek dan awasi juga sekolah-sekolah yang terima siswa melebihi daya tampung karena yang dikejar ………..BOSSSSSSnya banyak, lalu kemana penggunaanya ????????

  3. banyak anak2 seperti ini, kalau mau dia bisa tinggal dengan saya di labuan bajo, kebetuln anak yg saya didik biaya sebelumnya sudah lulus SMIP Labuan bajo dan dia memilih cari pengalaman di denpasar bali. Kalau Remi benar2 ingin sekolah saya bisa bisa bantu tetapi harus tinggal dengan saya, kebetulan saya punya anak 2 orang mereka butuh teman maen juga. Selama ini saya lagi mencari orang yg tidak mampu tapi benar2 mau sekolah…Tolong sampaikan ke orang tua Remi…trims BONE MARUT

  4. Semangat juangmu yang membawah hidupmu sukses di hari yang akan datang.. Semoga usahamu sukses selalu.. Ingat jangan pernah menyerah dan jangan ambil keputusan yang salah bila orang mengejekmu. Kerja kerasmu adalah hidupmu. Bersyukurlah dan berdoalah apa yang kamu miliki sekarang.
    Jujur aku tidak pernah mengalami seperti kamu. Tapi dengan semangat dan kerja kerasmu yang membuat aku terharu. Aku bangga pada kamu..
    Tuhan memberkatimu dan usahamu..Amin

  5. Remii, sehat terus adek.. murah rejeki, Tuhan sudah kasih jalan bgtu krn Tuhan tau remii kuat. Jgn mnyerah, besok2 pasti remii lebh baik hidupnya, dan pastinya bisa menginspirasi saya spy ttap bersykur dan bekerja tdk mnghrapkan org tua. Sehat trus ade, sllu dlam lindungan Tuhan Yesus.

  6. Bisa ke Paroki St.Stefanus Ketang Rejeng karena saya juga pernah spt Remi biasanya tinggal di Pastoran bebas biaya sekolah yg penting bisa bantu Pastor.

  7. Turut prihatin semoga kelak adik remi bisa mnjdi anak yg sukses.kisa remi ini mbwt air mataku terjatu…
    Hanya doa yg tulus dri hati bwt adik remi.
    085239077643
    Ini no hp sya.sya viktor dri lembata.sa bisa mebntu dia….kira2 bgmana caranya supya sa bisa mebntu dia.mohon info lebi lanjut bwt yg sda menulis kisanya

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini