Merasa sangat beruntung adalah kesan Elizabeth Nathania, gadis asal Jakarta, setelah mengunjungi Lembata awal tahun ini.

Nia – begitu ia disapa – merupakan lulusan Teknik Industri di Universitas Atma Jaya Jakarta dan kini ia bekerja di salah satu bank swasta.

Kunjungannya kali lalu ke Lembata, di mana ia merasakan sensasi  snorekling dan diving di  laut lepas Pantai Nuhanera dan nikmatnya mendaki Gunung Ile Ape, ia anggap baru bab pertama tentang Lembata.

Lantas, meski harus menempuh perjalanan cukup jauh dari Jakarta, ia masih bertekad untuk kembali lagi ke daerah yang juga dikenal dengan sebutan Lewotana itu.

Berikut cerita Nia selama berada di sana. Ia berkenan membaginya kepada pembaca Floresa.co.


Saya percaya bahwa travelling membuat hidup menjadi lebih kaya dan berwarna. Seperti yang pernah seseorang katakan kepada saya, bahwa hidup adalah sebuah buku dan orang yang tidak bepergian, hanya membaca satu halaman.

Saya mengawali halaman tahun 2015 saya dengan Lembata. Lembata adalah sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat dicapai dengan penerbangan dari Jakarta ke Kupang dan dilanjutkan ke Bandara Wunopito di Lembata.

Selama di Lembata, saya tinggal di biara susteran Carolus Borromeus (CB)  dan menjadi pembimbing belajar anak-anak yang tinggal di Asrama Bintang Samudra CB selama tiga bulan. Dari mereka, saya belajar untuk mencintai dan menghargai kehidupan dengan tetap selalu berpikiran positif. Ternyata, saya yang justru banyak belajar dari mereka!

Di sela-sela kegiatan tersebut, saya berkesempatan untuk menikmati kekayaan alam Lembata. Snorkeling di Nuhanera adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Terumbu karang di sana masih utuh dan banyak sekali ikan berwarna-warni. Selain itu, kuda laut, lion fishtrumpet fish, dan banner fish pun sering terlihat.

Bersama anak-anak di Lembata
Bersama anak-anak Lembata (Foto: Elizabeth Nathania)

Beberapa kali snorkeling di Nuhanera, saya ditemani oleh teman saya dan anak-anak dari Desa Tapelangu. Mereka sangat ramah dan bahkan ikut menemani saat snorkeling. Hebatnya, mereka hanya menggunakan jerigen untuk pelampung dan langsung berenang saja. Sedangkan saya harus menggunakan peralatan snorkeling.

Pernah suatu ketika, fin saya terlepas dan saya tidak sempat mengambil. Saat itu juga, seorang anak langsung free dive mengambil fin saya. Saya pun hanya bisa terkesima melihat kemahiran mereka di laut. Kami bermain bersama seharian itu di laut lepas pantai Nuhanera. Mereka begitu senang dan ceria, saya pun senang mengambil gambar mereka dengan kamera air saya. Jila dan Ola begitu senang difoto. Mereka menyelam ke dalam air dan bergaya dengan latar belakang terumbu karang Nuhanera. Bahkan membuka mata dan tersenyum di dalam air. Hebatnya “anak laut”!

Saat matahari tinggi, kami naik ke pantai dan Om pemilik kapal ternyata telah melepas pukat dan mendapatkan ikan untuk makan siang kami. Menu makan siang itu adalah ketupat ditemani ikan sembe dan ikan toda bakar.

Hanya dibumbui garam dan ikan itu menjadi ikan bakar paling segar yang pernah saya nikmati! Puas menikmati makan siang, kami bersantai dan berjalan sebentar di pinggir pantai. Tak lama, kami pun kembali ke laut.

Kali ini, Jila dan Ola bergaya di depan terumbu karang berwarna kuning untuk difoto. Kami berenang dan saling memanggil bila menemukan ikan unik.

Dalam perjalanan pulang, kami berkeliling di sekitar pantai untuk melihat pemandangan di bawah laut. Berkat laut yang tenang dan bersih, dari kapal pun kami bisa melihat ikan dan terumbu karang berbagai bentuk di sekitar wall.

Anak-anak Lembata diving
Anak-anak diving dan foto sambil membuka mata (Foto: Elizabeth Nathania)

Hari itu ditutup dengan matahari keemasan yang tenggelam di balik Gunung Ile Ape. Breathtaking! Sinar keemasan yang menerpa Nuhanera dan kapal nelayan sore itu adalah definisi baru dari kecantikan yang membumi. Begitu saja dan cantik. Titik.

Di kesempatan lain, saya dikenalkan kepada Om Elias. Beliau tinggal di Desa Jontona, hanya 15 menit dari Lewoleba. Om Elias menceritakan tentang pendakian Ile Ape, gunung api aktif yang tertinggi di Pulau Lembata. Saya pun segera tertarik dan merencanakan pendakian di bulan Maret 2015.

Malam itu, saya berangkat bersama dengan dua orang teman dari Lewoleba menuju rumah Om Elias. Di sana, kami menikmati makan malam yang telah disediakan Om Elias dan dilanjutkan dengan briefing pendakian.

Om Elias menjelaskan bahwa pendakian kami akan diperkirakan akan memakan waktu tiga jam, sehingga untuk mencapai puncak tepat pada saat matahari terbit, kami berencana berangkat pada jam pukul 02.00 Wita.

Om Elias membangunkan kami pada jam itu. Kemudian kami diantar menggunakan mobil 4WD ke Kampung Adat untuk menghemat satu jam pendakian. Sesampainya di sana, kami disambut hujan sehingga kami harus menunggu di salah satu rumah adat karena tidak semua membawa jas hujan.

Setelah hujan mereda, kami memulai pendakian. Pada awal pendakian, kami melewati hutan pohon pisang. Kemudian setelah sekitar satu jam, kami mulai masuk ke area pepohonan tinggi. Setelah hujan tadi, langit menjadi cerah dan bintang-bintang terlihat. Saat kami berbalik ke sisi kiri, kami melihat Lewoleba dalam cahaya. Di sisi kanan kami ada Teluk Waienga dan riak airnya.

Kami berhenti, mematikan senter, menghirup udara segar, dan menikmati momen tersebut. Bintang bersinar cerah di atas saya dengan dibingkai oleh Teluk Waienga dan Lewoleba. Syukur pun terucap dalam hati saya.

Kami melanjutkan perjalanan dan pagi pun menjelang. Sepertinya, kami tidak akan mencapai puncak, tepat saat matahari terbit. Setelah dua jam mendaki dalam hutan, kami mencapai batas akhir hutan dan sampai di lereng puncak yang ditumbuhi rumput pendek. Om Elias membantu saya mendaki lereng dengan menarik dan menunjukkan jalan yang paling aman, mengingat saya tidak memiliki keahlian ataupun pengalaman mendaki gunung yang memadai.

Mendaki menuju puncak Ile Ape (Foto: Elizabeth Nathania)
Mendaki menuju puncak Ile Ape (Foto: Elizabeth Nathania)

Perkiraan kami sebelumnya ternyata benar dan matahari terbit saat kami masih dalam perjalanan menuju puncak. Di bahu gunung, kami berhenti dan menikmati matahari terbit. Walaupun demikian, kami bertekad untuk tetap mendaki sampai ke puncak. Sekitar setengah jam kemudian, kami mencapai puncak dan angin bertiup begitu kencang. Saya berbalik dan awan ada di belakang saya, di atas Teluk Waienga. Ini artinya, saya ada di atas awan!

Rasanya saya ingin melompat girang. Setelah puas berfoto, kami turun ke kawah dan Om Elias mengajak kami berkeliling. Om Elias menjelaskan bahwa nama Ile Ape berarti gunung api dan masih dalam keadaan aktif hingga saat ini. Pada beberapa bagian kawah, terdapat lubang yang mengeluarkan asap belerang. Terdapat pula batu-batuan unik yang berbentuk seperti jamur. Berjalan di dalam kawah menjadi penghiburan bagi kaki saya setelah tiga jam pendakian yang menanjak. Nikmatnya jalan datar.

Kami mulai merasa lapar dan memutuskan untuk membuka bekal di punggung gunung. Kami meninggalkan kawah dan mulai menyusuri punggung gunung. Lagi-lagi kami terkesima dengan pemandangan yang menyambut kami. Pulau Lembata dari Puncak Ile Ape yang sesekali tertutup awan. Om Elias menunjukkan Kampung Lewotolok, Lewoleba, dan Desa Jontona.

Kami pun bergantian mengambil foto berlatar belakang pemandangan tersebut. Puas berfoto, perut kami pun protes. Saatnya membuka bekal. Bu Elias membawakan donat, Ka Yos membawa arem-arem, dan saya membawa roti. Kami makan sampai habis dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Perjalanan turun sangatlah sulit bagi saya karena jalan menurun dan pijakan yang ada sering tidak mantap karena merupakan kerikil kecil lepas. Ka Yos yang pada awalnya kesulitan dan dibantu Marni, sudah lancar dan turun dengan gesit di setengah perjalanan. Sedangkan saya terus berpegang pada Om Elias.

Saya beberapa kali meminta waktu istirahat dan terpikir untuk menyerah karena pegalnya kaki saya dan jalan yang menurun terus menerus. Om Elias yang menyemangati saya dan sabar menemani langkah saya. Untuk menyemangati saya, Om Elias menjanjikan air kelapa segar di perjalanan turun.

Saya pun kembali bersemangat karena ingin cepat menikmati kelapa segar itu. Sampai di hutan pohon kelapa, Om Elias memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan buah kelapa. Menurut Om Elias, buah kelapa terenak adalah yang berasal dari pohon yang itu. Om Elias kemudian turun dari atas pohon dan membuka kelapa untuk kami minum.

Airnya manis dan seperti bersoda, dan karena hujan pada malamnya, air kelapa itu menjadi dingin. Segar sekali!!! Segera air satu kelapa itu habis saya tenggak! Kemudian buah kelapa dibuka dan Om Elias membuatkan sendok dari kulit kelapa menggunakan parangnya. Daging kelapa dikerok sehingga utuh dan saya tak sabar mencoba.

Rasanya enak dan cocok untuk saya yang sedang kelelahan dan ternyata masih lapar. Istirahat di dekat pohon kelapa itu menjadi titik penyemangat saya untuk tidak menyerah dalam perjalanan di depan. Walaupun terpeleset beberapa kali, saya tetap semangat dan melanjutkan perjalanan.

Setelah tiga jam perjalanan, kami pun akhirnya sampai di Kampung Adat Lewohala. Kami berkeliling dan Om Elias menceritakan bahwa setiap suku memiliki masing-masing rumah adat berisi barang-barang adat. Terdapat meriam dari zaman penjajahan Portugis, gading gajah berbagai ukuran, dan porselen antik Cina.

Salah satu suku pernah kehilangan gading gajahnya yang disimpan di rumah adat. Sekomplotan pencuri mengambil dan memotong gading itu menjadi tiga untuk diselundupkan, tapi mereka tidak bisa membawa potongan gading tersebut keluar dari Pulau Lembata dan malah tertimpa berbagai hal buruk. Mereka akhirnya mengembalikan gading itu ke kampung adat.

Kemudian kami berjalan menuju tempat penjemputan. Setelah menunggu sebentar, mobil jemputan kami datang dan beristirahatlah kami sambil meluruskan kaki.

Di tengah perjalanan, kami bertemu mama-mama yang sedang membawa hasil panen kacang tanah. Rombongan kami pun bertambah ramai. Sesampainya di desa, mama-mama pun turun dan membagi kami sekantong besar kacang tanah segar.

Di rumah Om Elias, kami menurunkan ransel kami dan segera mengambil peralatan snorkeling. Menurut Om Elias, berendam di air laut setelah mendaki gunung bisa mengurangi rasa letih dan pegal. Kami berjalan ke pantai dan segera masuk berendam di air laut.

Saya dan Marni snorkeling di tepi dan bertemu dengan ikan-ikan hias kecil dan kuda laut.

Ikan-ikan hias kecil di Lembata
Ikan-ikan hias kecil yang begitu mudah ditemui (Foto: Elizabeth Nathania)

Setelah itu, kami duduk di tepi pantai melihat anak-anak yang bermain air. Kami membicarakan pendakian yang baru saja kami lalui.

Tak menyangka, saya berhasil sampai ke puncak Ile Ape!

Dalam tiga bulan, Lembata memberikan banyak petualangan dan, tidak disangka, sebuah keluarga baru untuk saya. Terima kasih untuk keluarga Lembata, termasuk Suster Al di Biara CB dan Pak Anton yang mengajak saya berpetualang!

Saya belum selesai membaca bab tentang Lembata dan akan terus membaca! Masih ada cerita tentang adik-adik di asrama, tenun ikat, Lamalera, Batu Tara, Watowawer, Pantai Bean, dan diving di Lembata.

Jadi, kapan kamu akan mulai membaca bab tentang Lembata?

 

Advertisement

2 Komentar

  1. Petualangan yang hebat… Selain lembata masih banyak juga tempat menarik untuk dikunjungi di Flores.

    Semoga dengan cerita ini mampu menggugah gairah teman-teman lainnya untuk berkunjung ke Flores

  2. Pariwisata NTT bisa lebih maju dari bali..yang menjadi masalah adalah belum ada kerja sama yang baik antar kabupaten untuk promosikan pariwisata..sebagai contoh apa yg kita dapat dari sail komodo 2013…kampung bena dapat apa, kelimutu dapat apa, lembata dapat apa..mestinya harus ada paket pariwisata mulai dari Alor sampai Komodo..tks

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini